Wahana Visi Indonesia (WVI) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung literasi anak-anak di Papua melalui kegiatan “Serah Terima Buku Baca Cerita Anak Papua Jilid 2”.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi WVI dengan Teach for Indonesia, Bina Nusantara (BINUS) University, Jakarta International University (JIU), dan Universitas Pelita Harapan (UPH).
Sebanyak 1.080 eksemplar buku cerita disiapkan untuk didistribusikan ke 45 rumah baca dampingan WVI di Papua, yang akan dimanfaatkan oleh anak-anak serta guru relawan setempat. Program ini menjadi kelanjutan dari inisiatif literasi yang telah dimulai sejak 2024.
Tantangan literasi di Papua masih cukup besar. Data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2024 menunjukkan tingkat literasi di Papua hanya mencapai 47,57 persen.
Menurut Asteria Aritonang, Resource Development & Communications Director WVI, kondisi ini menunjukkan perlunya akses buku bacaan yang lebih luas.
“Wahana Visi Indonesia percaya bahwa setiap anak berhak belajar dengan baik dan bermimpi. Namun anak-anak Papua masih menghadapi tantangan besar dalam literasi. Kolaborasi ini menjadi bagian dari solusi atas tantangan akses buku bacaan bagi mereka. Bukan hanya bacaan yang menarik dan kreatif, namun juga relevan serta dekat dengan kehidupan anak-anak Papua,” ujarnya.
Cerita yang Relevan dengan Budaya Papua
Buku-buku yang diterbitkan melalui kolaborasi ini dikembangkan agar kontekstual dan sesuai dengan budaya lokal. Tahap kedua proyek ini menghasilkan 24 buku cerita anak yang merefleksikan nilai, budaya, dan kehidupan sehari-hari anak-anak Papua.
Penulis buku merupakan pengajar dan pendamping masyarakat Papua yang memahami konteks kehidupan anak secara langsung, sehingga cerita yang dihasilkan relevan dan kreatif.
Selain penulis, ilustrator juga berperan penting untuk menyesuaikan visualisasi cerita dengan budaya setempat. Valencia Yolanda, mahasiswa BINUS dan volunteer dalam komunitas KinCir, menyampaikan, “Proses menciptakan Buku Baca Cerita untuk Anak Papua ini memang memiliki dinamika dan tantangannya tersendiri karena saya jarang melihat keseharian anak Papua.”
Untuk menciptakan ilustrasi yang tepat, ia harus memahami lebih dari sekadar teks, termasuk nilai dan budaya setempat. “Saya bersyukur dapat menyelesaikan dua buku cerita dan berharap ilustrasi ini mendekati budaya Papua serta mampu meningkatkan minat baca anak-anak,” pungkasnya.
Program ini merupakan kelanjutan dari tahap pertama yang pada 2024 berhasil menerbitkan 10 buku cerita dengan tema serupa. Pada tahap kedua, cakupan buku diperluas dengan melibatkan lebih banyak universitas serta mahasiswa volunteer.
Pendekatan ini menekankan kualitas konten dan relevansi budaya, sehingga buku dapat menjadi sumber bacaan yang menarik sekaligus edukatif bagi anak-anak Papua.
Ruang Berkarya bagi Mahasiswa
Selain manfaat langsung bagi anak-anak Papua, program ini juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa BINUS, UPH, dan JIU untuk berkontribusi sebagai student volunteer melalui komunitas KinCir.
Mahasiswa terlibat baik sebagai penulis maupun ilustrator, sehingga mereka memiliki pengalaman langsung dalam membuat buku yang sesuai kebutuhan anak-anak di Papua.
Liliek Adelina Suhardjono, Deputy Head of New Media Program BINUS, menjelaskan, “Tanpa program ini, mahasiswa kami tidak memiliki kesempatan untuk berkontribusi langsung sebagai student volunteer KinCir WVI. Inilah ruang berharga bagi mereka untuk berkarya dan bekerja nyata bagi Papua. Kami berharap semakin banyak kaum muda terlibat dalam gerakan literasi.”
Melalui inisiatif ini, WVI bersama mitra universitas berharap dapat memperkuat budaya literasi di Papua dan mendukung anak-anak tumbuh menjadi generasi yang percaya diri, cakap, dan memiliki pengetahuan yang relevan dengan kehidupan mereka.
Buku cerita yang dihasilkan tidak hanya memberikan akses bacaan, tetapi juga menghubungkan anak-anak dengan identitas budaya mereka sendiri.
Wahana Visi Indonesia sendiri merupakan organisasi kemanusiaan yang telah lebih dari 25 tahun hadir dalam program pengembangan masyarakat yang berfokus pada anak, keluarga, dan komunitas rentan.
Program WVI mencakup pengembangan masyarakat, advokasi, dan tanggap bencana dengan tujuan membawa perubahan berkelanjutan tanpa membedakan agama, ras, suku, atau gender.
Dengan pengalaman ini, WVI terus mendukung program literasi yang mampu memberikan manfaat nyata bagi jutaan anak di Indonesia, termasuk anak-anak di Papua.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


