kampong java dan jejak orang orang jawa di singapura - News | Good News From Indonesia 2026

Kampong Java dan Jejak Orang-orang Jawa di Singapura

Kampong Java dan Jejak Orang-orang Jawa di Singapura
images info

Kampong Java dan Jejak Orang-orang Jawa di Singapura


Kampong Java atau Kampung Jawa merupakan bagian sejarah unik yang menghiasi Singapura di masa lalu. Tak salah memang, sesuai dengan namanya, kampung ini dihuni oleh perantau Jawa yang berhijrah ke Singapura di masa lalu.

Komunitas wong Jowo di Singapura yang sudah ada sejak lama itu menggambarkan jejak masyarakat Jawa yang bermukim dan ikut berkontribusi dalam perkembangan negara tersebut sejak abad ke-19.

Awal Mula Kedatangan Orang Jawa ke Singapura

Catatan The National Library Singapore (NLB), orang-orang Jawa banyak yang mulai bermigrasi ke Singapura mulai abad ke-19. Sensus tahun 1825 yang dilakukan oleh Pemerintah Kolonial Inggris, tercatat ada 38 orang Jawa yang tinggal di Singapura.

Konon, rombongan awal yang datang ke sana diyakini berprofesi sebagai pedagang dan pengrajin. Para pengrajin banyak membuat kerajinan dari logam dan kulit. Sementara itu, pedagang-pedagangnya menjajakan kain, rempah, teks keagamaan, dan lain sebagainya.

Jumlah masyarakat Jawa yang merantau ke Singapura pun semakin banyak di akhir abad ke-19. Tahun 1891, tercatat ada 8.541 orang Jawa yang pindah ke Singapura.

Terdapat beberapa alasan yang membuat semakin banyak orang Jawa yang pergi ke Singapura. Dikatakan bahwa saat itu kondisi lokal tengah sulit karena terjadi ledakan populasi, kemiskinan, hingga kelangkaan lahan.

Selain itu, orang Jawa dipandang sebagai sumber tenaga kerja alternatif bagi orang Tionghoa dan India. Mereka percaya jika orang Jawa akan berasimilasi dengan baik dengan warga Melayu dan mahir dalam mengerjakan berbagai pekerjaan yang diberikan.

Namun, selain dua alasan di atas, NLB menuliskan jika banyaknya orang Jawa yang berhijrah ke Singapura juga didorong oleh keinginan mereka untuk melaksanakan ibadah haji atau ziarah ke Makkah.

Masalahnya, di masa itu Belanda memberikan batasan perjalanan, sehingga sulit bagi jemaah haji untuk langsung berangkat dari Hindia Belanda dan langsung menuju Makkah. Oleh karena itu, jemaah asal Jawa ini harus melakukan perjalanan ke Singapura dulu sebelum berlayar ke Arab Saudi, karena persyaratan dari Inggris cenderung lebih longgar.

Di pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20, diperkirakan ada sekitar 2.000-7.000 orang Jawa melakukan ziarah ke Makkah tiap tahunnya melalui Singapura. Banyak yang memilih untuk bekerja di Singapura atau Malaysia sembari mengumpulkan tabungan. Setelah berhaji, banyak dari mereka yang memilih untuk tetap tinggal di perantauan, entah untuk menetap atau bekerja.

Jumlah orang Jawa yang tinggal di Singapura juga terus bertambah. Namun, di tahun 1960-an, banyak dari mereka yang sudah berasimilasi ke dalam komunitas Melayu/Muslim di sana. Akibatnya, banyak yang mulai kehilangan kemampuan bahasa ibu mereka.

Kampong Java atau Kampung Jawa di Singapura

Masyarakat Jawa yang merantau ke Singapura awalnya ditempatkan di Kampong Java. Tempat ini menjadi lokasi tujuan imigran Jawa yang baru tiba di Singapura. Tak heran jika namanya pun diambil dari nama suku mayoritas masyarakat yang menghuni kampung itu.

Kampong Java ada di Distrik Rochor, dekat dengan Jalan Arab. Di kawasan ini, penduduknya banyak menjual hasil panen mereka di sepanjang jalan. Orang-orang Jawa ini sukses ikut menggerakkan perekonomian lokal.

Banyaknya orang Jawa di Singapura membuat mereka membangun rumah-rumah kayu sederhana. Perlahan, permukiman pun terbentuk melalui jaringan kekerabatan.

Mereka juga banyak yang melestarikan budaya Jawa, menghidupkan oase Nusantara di tanah rantau sembari tetap berinteraksi baik dengan masyarakat Melayu dan Arab yang sudah lebih dahulu ada di sana.

Uniknya, Perdana Menteri Singapura yang pertama, Lee Kuan Yew, juga lahir di Kampong Java di tahun 1923. Ayahnya disebut merupakan perantau asal Semarang yang “mengadu nasib” ke Singapura.

Lebih lanjut, Singapura yang semakin maju saat itu pun mulai membangun banyak infrastruktur, salah satunya Kampong Java Road atau Jalan Kampong Jawa pada 1850-an. Tak lama setelahnya, dibangunlah pemakaman Kristen di dekat situ.

Tahun 1973, pemerintah mendirikan Taman Kampong Java di lahan bekas pemakaman Kristen. Tempatnya berdekatan dengan area Kampong Java.

Eksistensi Kampong Jawa tak bertahan hingga masa kini. Setelah Singapura merdeka, banyak kawasan yang dimodernisasi, termasuk daerah kampung-kampung. Artinya, secara fisik kampung ini sudah tidak ada.

Jalan kampong Java di masa kini | Sengkang/WikimediaCommons
info gambar

Jalan kampong Java di masa kini | Sengkang/WikimediaCommons


Kawasan perkampungan itu kini menjadi area perkotaan modern. Taman Kampong Java juga sudah dihancurkan pada 2018 untuk dijadikan terowongan koridor.

Kawasan Kampong Jawa di masa kini sudah diisi dengan bangunan-bangunan modern, termasuk KK’s Women and Children Hospital. Meskipun demikian, nama Kampong Java masih terus diabadikan sebagai nama jalan. Kampong Java Road menghubungkan Bukit Timah Road ke Newton Circus.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.