blue matcha tren global yang berakar dari bunga telang - News | Good News From Indonesia 2026

Blue Matcha, Tren Global yang Berakar dari Bunga Telang

Blue Matcha, Tren Global yang Berakar dari Bunga Telang
images info

Blue Matcha, Tren Global yang Berakar dari Bunga Telang


Di berbagai kafe, media sosial, hingga menu minuman rumahan, ada satu warna yang semakin sering muncul: biru cerah. Bukan pewarna sintetis, melainkan warna alami dari minuman yang dikenal dengan nama blue matcha. Meski namanya terdengar serupa dengan matcha hijau asal Jepang, blue matcha sebenarnya berasal dari bahan yang sama sekali berbeda.

Blue matcha adalah bubuk hasil olahan bunga telang (Clitoria ternatea), tanaman tropis yang telah lama tumbuh di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, istilah “blue matcha” menjadi populer karena tampilannya yang menarik dan asosiasinya dengan gaya hidup sehat. Di balik visualnya yang estetik, minuman ini juga menyimpan cerita menarik tentang bahan lokal, strategi penamaan, serta perubahan cara masyarakat memandang konsumsi minuman tradisional.

Bukan Teh, Tidak Mengandung Kafein

Dikutip dari websiteRRI dijelaskan bahwa blue matchatidak berasal dari tanaman teh (Camellia sinensis) seperti matcha hijau. Bahan dasarnya adalah bunga telang yang dikeringkan lalu diolah menjadi bubuk berwarna biru cerah. Karena bukan berasal dari daun teh, blue matcha hampir tidak mengandung kafein, sehingga sering dipilih sebagai alternatif minuman bagi Kawan GNFI yang sensitif terhadap kafein atau ingin minuman yang lebih menenangkan.

Keunikan lainnya, warna biru alami pada bubuk bunga telang berasal dari pigmen antosianin, jenis antioksidan yang juga banyak ditemukan pada buah beri dan sayuran berwarna ungu kebiruan. Antosianin inilah yang memberi karakter warna khas sekaligus menjadi alasan mengapa blue matcha sering dikaitkan dengan manfaat kesehatan.

Menariknya, warna blue matcha dapat berubah menjadi ungu ketika dicampurkan dengan bahan bersifat asam seperti lemon. Fenomena ini membuat minuman ini bukan hanya dikonsumsi sebagai minuman sehat, tetapi juga sebagai pengalaman visual yang unik.

Dari Bahan Lokal ke Tren Global

Urban Vibes menjelaskan bahwa popularitas blue matcha tidak bisa dilepaskan dari faktor visual dan strategi branding. Secara tradisional, bunga telang sudah lama digunakan masyarakat Asia Tenggara sebagai pewarna alami makanan dan minuman. Namun, ketika diangkat dengan istilah “blue matcha”, bahan lokal ini memperoleh identitas baru yang lebih mudah diterima oleh pasar urban global.

Di sinilah muncul perbedaan menarik antara matcha dan blue matcha. Matcha hijau berasal dari tradisi minum teh Jepang yang panjang dan sarat makna budaya. Sementara itu, blue matcha justru lahir dari reinterpretasi modern terhadap bahan lokal. Bukan tradisi yang dihidupkan kembali, melainkan bahan tradisional yang diberi kemasan baru.

Ironisnya, bunga telang sudah lama dikenal di berbagai daerah di Indonesia, tetapi baru mendapatkan perhatian luas ketika menggunakan istilah asing yang terasa lebih “marketable”.

baca juga

Kandungan dan Manfaat: Potensi, Bukan Klaim Berlebihan

RRI juga menyebutkan bahwa bunga telang mengandung antosianin yang berfungsi sebagai antioksidan. Dalam praktik tradisional, bunga telang juga dipercaya bermanfaat untuk:

  • membantu meredakan kelelahan mata.
  • Mendukung kesehatan kulit.
  • Memberi efek relaksasi.
  • Digunakan secara tradisional untuk perawatan rambut (misalnya sebagai bahan sampo herbal di Thailand).

Namun, RRI juga menekankan bahwa uji ilmiah pada manusia masih terbatas, sehingga manfaat kesehatan sebaiknya dipahami sebagai potensi, bukan klaim medis pasti. Sikap ini penting agar konsumsi blue matcha tetap berada dalam ranah edukasi, bukan promosi berlebihan.

Urban Vibes menambahkan bahwa perbedaan utama antara matcha hijau dan blue matcha terletak pada efeknya bagi tubuh. Matcha hijau mengandung kafein dan L-theanine yang mendukung fokus dan energi. Sebaliknya, blue matcha cenderung diasosiasikan dengan relaksasi dan konsumsi santai karena tidak mengandung kafein.

Dengan kata lain, bukan soal mana yang lebih baik, tetapi soal fungsi dan kebutuhan.

Rasa Ringan, Mudah Dikombinasikan

Dari sisi rasa, blue matcha cenderung memiliki karakter yang ringan dan netral. RRI menjelaskan bahwa bubuk ini mudah dipadukan dengan berbagai bahan seperti susu nabati, madu, atau sirup vanila. Karena rasanya tidak sekuat matcha hijau, blue matcha lebih fleksibel digunakan dalam berbagai minuman dan dessert, mulai dari latte, smoothie, hingga pastry.

Secara teknis, cara penyajiannya juga cukup sederhana. Bubuk blue matcha cukup diseduh dengan air hangat, diaduk hingga larut, lalu dapat dicampur susu dan pemanis sesuai selera. Inilah yang membuatnya cepat diadopsi oleh industri kafe dan konten kreator kuliner.

baca juga

Antara Estetika, Edukasi, dan Kesadaran Konsumsi

Tren blue matcha menunjukkan bahwa minuman kini tidak hanya dinilai dari rasa, tetapi juga dari narasi, visual, dan identitas. Minuman biru ini populer bukan hanya karena kandungannya, tetapi juga karena tampilannya yang fotogenik dan mudah viral.

Namun di balik tren tersebut, ada peluang refleksi bagi Kawan GNFI. Bunga telang sebagai bahan lokal sesungguhnya sudah lama hadir di sekitar kita. Blue matcha hanya menjadi contoh bagaimana bahan tradisional bisa mendapatkan tempat baru ketika dikemas dengan bahasa yang lebih global.

Pilihan untuk mengonsumsi blue matcha tidak harus didorong oleh tren, tetapi bisa menjadi bentuk kesadaran: mengenal bahan lokal, memahami asal-usulnya, dan tidak mudah terjebak pada istilah yang terdengar lebih “modern” padahal akarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, blue matcha bukan sekadar minuman estetik. Ia adalah contoh bagaimana budaya konsumsi berubah, bagaimana bahan lokal bisa naik kelas melalui narasi, dan bagaimana pentingnya memahami apa yang kita konsumsi, bukan sekadar mengikuti warna yang sedang viral.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

NA
AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.