Jauh sebelum aksara Jawa modern dikenal luas lewat hanacaraka, Nusantara telah memiliki sistem tulis yang matang dan berpengaruh besar, yakni aksara Kawi.
Aksara ini bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan fondasi penting perkembangan tradisi tulis di Jawa dan wilayah sekitarnya.
Melalui aksara Kawi, jejak intelektual, budaya, dan administrasi kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara dapat ditelusuri hingga hari ini. Aksara Kawi sering disebut sebagai aksara Jawa Kuno.
Ia berkembang sekitar abad ke-8 hingga ke-16 Masehi dan digunakan secara luas di Jawa, Bali, hingga sebagian Sumatra.
Kehadirannya berkaitan erat dengan masuknya pengaruh India, khususnya melalui agama Hindu dan Buddha, yang membawa serta tradisi tulis dan sastra. Namun, seiring waktu, aksara ini beradaptasi dengan kondisi masyarakat lokal.
Berakar dari Aksara Pallawa
Secara historis, aksara Kawi berasal dari aksara Pallawa yang berkembang di India Selatan. Aksara Pallawa masuk ke Nusantara sekitar abad ke-4 hingga ke-5 Masehi melalui jalur perdagangan dan penyebaran agama.
Bukti awal penggunaan aksara Pallawa dapat dilihat pada prasasti-prasasti tertua seperti Prasasti Kutai dan Prasasti Tarumanegara, yang ditulis dalam bahasa Sanskerta.
Dalam perkembangannya, bentuk Pallawa perlahan mengalami perubahan. Huruf-hurufnya mulai menyesuaikan dengan fonologi bahasa Jawa Kuno.
Perubahan ini menandai lahirnya aksara Kawi sebagai sistem tulis yang lebih “membumi”. Salah satu tonggak pentingnya adalah Prasasti Dinoyo bertahun 760 M dari Kerajaan Kanjuruhan di Jawa Timur, yang menunjukkan penggunaan bahasa Jawa Kuno secara lebih dominan.
Ciri dan Sistem Penulisan Aksara Kawi
Aksara Kawi tergolong sebagai abugida, yaitu sistem tulisan di mana setiap huruf konsonan memiliki vokal inheren /a/. Untuk mengubah bunyi vokal, digunakan tanda-tanda khusus yang disebut sandhangan. Selain itu, terdapat pula huruf vokal mandiri yang digunakan di awal kata.
Secara visual, aksara Kawi memiliki bentuk yang tegas dengan garis-garis angular pada fase awalnya. Seiring penggunaan pada media lontar, bentuk huruf menjadi lebih membulat dan kursif.
Penulisan dilakukan dari kiri ke kanan tanpa spasi antar kata, sehingga pembaca perlu memahami konteks kalimat secara menyeluruh.

Tabel aksara kawi | Wikimedia Commons: Alteaven
Media penulisan aksara Kawi sangat beragam, mulai dari batu, logam, hingga daun lontar. Hal ini menunjukkan fleksibilitas aksara Kawi dalam berbagai kebutuhan, baik untuk kepentingan keagamaan, sastra, maupun administrasi kerajaan.
Prasasti sebagai Sumber Sejarah
Keberadaan aksara Kawi banyak diketahui melalui prasasti. Prasasti Canggal (732 M) misalnya, memuat informasi tentang Raja Sanjaya dan pendirian bangunan suci.
Prasasti Kayumwungan mencatat peristiwa penetapan desa perdikan. Sementara prasasti-prasasti era Majapahit seperti Adan-Adan (1301 M) dan Manjusri (1343 M, Malang) memperlihatkan fungsi aksara Kawi dalam tata kelola pemerintahan.
Melalui prasasti-prasasti inilah para sejarawan dan filolog merekonstruksi kehidupan sosial, politik, dan budaya masyarakat Nusantara kuno.
Pengaruh dan Warisan Aksara Kawi
Pengaruh aksara Kawi sangat luas. Ia menjadi induk bagi berbagai aksara daerah, seperti aksara Jawa modern, Bali, dan Sunda Kuno.
Karya-karya sastra besar seperti Nagarakretagama, Arjunawiwaha, dan Sutasoma ditulis menggunakan aksara ini, memperkaya khazanah sastra Nusantara.
Meski penggunaannya mulai berkurang seiring masuknya aksara Arab dan Latin, warisan aksara Kawi tetap hidup. Saat ini, aksara tersebut dipelajari kembali melalui kajian filologi, pendidikan budaya, hingga upaya digitalisasi manuskrip kuno.
Aksara Kawi bukan hanya saksi bisu sejarah, melainkan bukti kemampuan masyarakat Nusantara dalam mengolah pengaruh asing menjadi identitas sendiri.
Memahami sejarah aksara Kawi berarti memahami akar intelektual dan budaya yang membentuk jati diri bangsa.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


