mengenal turun taun kenuri ulu naih kejurun belang dan mah taun dalam tradisi memulai musim padi di gayo lues - News | Good News From Indonesia 2026

Mengenal Turun Taun, Kenuri Ulu Naih, Kejurun Belang, dan Mah Taun dalam Tradisi Memulai Musim Padi di Gayo Lues

Mengenal Turun Taun, Kenuri Ulu Naih, Kejurun Belang, dan Mah Taun dalam Tradisi Memulai Musim Padi di Gayo Lues
images info

Mengenal Turun Taun, Kenuri Ulu Naih, Kejurun Belang, dan Mah Taun dalam Tradisi Memulai Musim Padi di Gayo Lues


Kabupaten Gayo Lues merupakan wilayah yang banyak ditanami tanaman padi dan menjadi salah satu penghasil padi terbesar di Aceh. Hal ini dikarenakan untuk memnuhi kebutuhan sendiri, masyarakat Gayo Lues tidak memasok beras dari daerah lain, tetapi menanam sendiri.

Bagi masyarakat Gayo Lues, padi merupakan tanaman yang dianggap memiliki jiwa dan semangat, sehingga tanaman ini diperlakukan berbeda dengan cara yang terdapat di daerah lain.

Musim padi di Gayo Lues punya tahapan yang sakral dan tradisi ini sudah dilaksanakan secara turun temurun, kegiatan tersebut diantaranya adalah Turun Taun, Kenuri Ulu Naih, Kejurun Belang, dan Mah Taun.

Turun Taun

Istilah Turun Taun bermakna sebagai waktu mulai menanam padi. Waktu Turun Taun biasanya ditanyakan kepada orang yang sudah tua atau dituakan. Tujuannya adalah untuk mengetahui kapan mulai musim kemarau atau musim hujan. Supaya tidak mengalami kesulitan baik pada waktu menanam (nomang) atau waktu panen (nuling) dan hasil memuaskan.

Kenuri Ulu Naih

Kenuri Ulu Naih atau sering disebut dengan Nlongom dalam tradisi masyarakat Gayo Lues merupakan kegiatan memohon kepada Allah SWT supaya diberikan ampunan, kesehatan, dan rezeki serta memilih orang-orang yang akan ditunjuk sebagai Tue Ladang atau Kejurun Belang dan orang Mah Taun.

Kejurun Belang (Tue Ladang)

Kejurun Belang sering disebut juga dengan Tue Ladang merupakan sosok penting dalam musim penanaman padi di Gayo Lues. Ia merupakan satu orang yang dipilih untuk bertanggung jawab tentang penanaman padi, mulai dari tabur benih (seme), sampai panen (nuling), dan pada waktu panen padi Tue Ladang memperoleh upah satu kaleng (20 liter) padi dari setiap keluarga yang menanam padi. Alasan pemberin upah tersebut karena Tue Ladang mempunyai beberapa tugas yang diberikan diantaranya adalah:

  1. Membagi pagar keliling persawahan kepada masyarakat yang ikut menanam padi, dengan menentukan batas akhir waktu pemagaran harus sudah selesai
  2. Menentukan waktu gotong royong untuk memperbaiki atau membuat tali air (rak), setelah Tue Ladang bekerja sendiri selama tiga hari. Apabila selama tiga hari pekerjaan tidak selesai, baru diundang seluruh masyarakat yang ikut menanam padi untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut
  3. Menentukan jenis padi yang akan ditanam. Misalnya, rom runtik, rom alas, rom atas, rom renah (sebutan jenis padi dalam bahasa Gayo), dan lain-lain.
  4. Mengatur pembagian air dan pendistribusian air ke sawah
  5. Memeriksa kondisi tanaman padi dan memeriksa pagar keliling

Mah Taun

Mah Taun adalah orang yang bertugas untuk memulai semua pekerjaan, kecuali panen (nuling), padi siapa yang lebih tua maka dialah yang pertama untuk panen. Mah Taun bertujuan untuk menentukan hari dan hadapan (arab) menabur benih (seme), dan menanam padi (nomang).

Menurut kepercayaan sebagian masyarakat Gayo Lues, hari, waktu, dan arah untuk menabur benih, menanam padi, dan memotong padi sangat menentukan keberhasilan atau keberkatan hasil panen. Setelah tiga hari orang yang Mah Taun menanam padi (nene) baru boleh diikuti oleh keluarga lain untuk menanam padi dan setelah itu baru boleh menanam padi secara keseluruhan.

Penutup

Beberapa penjelasan diatas yakni Turun Taun, Kenuri Ulu Naih, Tue Ladang atau Kejurun Belang, dan Mah Taun merupakan tahapan dan orang-orang yang bertugas dalam memulai musim padi di Gayo Lues. Kegiatan ini diwariskan secara turun temurun dan masih dipertahankan sampai sekarang.

Setelah rangkaian kegiatan tersebut, kegiatan di musim padi baru dilakukan dengan aktivitas selanjutnya seperti penjemen (memagar sepetak sawah untuk ditaburkan benih), nyauk seme (tabur benih), membajak sawah dengan kerbau (sekarang menggunakan mesin), nerlis (membersihkan pematang sawah dari rerumputan) dan lain-lain sampai pada panen dan menjadi beras.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.