Legenda Manggabras dan Aruken merupakan salah satu cerita rakyat yang berasal dari Biak Numfor, Papua. Legenda ini mengajarkan bahwa sifat bohong yang ada dalam diri seseorang akan dibalas dengan ganjaran setimpal nantinya.
Bagaimana kisah lengkap dalam legenda Manggabras dan Aruken tersebut?
Legenda Manggabras dan Aruken, Cerita Rakyat dari Biak Numfor Papua
Dikutip dari artikel Daun Yonathan Kapitarauw, "Manggabras dan Aruken" dalam buku Kumpulan Cerita Rakyat Papua (Pemenang Sayembara), alkisah pada zaman dahulu di pesisir timur Pulau Biak, hiduplah dua orang pemuda yang bernama Manggabras dan Aruken. Kedua pemuda ini sudah bersahabat sejak lama.
Keduanya tidak bisa terpisahkan dalam apapun juga. Bahkan kedua sahabat ini sudah terlihat seperti kakak beradik antara satu sama lain.
Sehari-hari Manggabras dan Aruken biasanya melakukan aktivitas bersama. Apalagi kedua pemuda tersebut sama-sama berprofesi sebagai nelayan.
Pada suatu hari, Manggabras dan Aruken pergi ke laut untuk pergi mencari ikan. Berbagai alat pun dipersiapkan untuk mendukung aktivitas mereka.
Setelah mendayung cukup lama, sampailah Manggabras dan Aruken ke tengah lautan. Kedua pemuda ini kemudian mulai menyebar jala dengan harapan bisa menangkap banyak ikan.
Meskipun demikian, nasib baik ternyata belum menghampiri mereka. Hingga tengah hari, belum ada satupun ikan yang berhasil mereka dapatkan.
Manggabras pun sudah mulai merasa kelaparan. Dia pun mengajak Aruken kembali ke darat dan mencari makanan sebelum melanjutkan aktivitas mencari ikan.
Aruken tentu setuju dengan saran itu. Apalagi dia juga sudah merasakan lapar yang sama seperti Manggabras.
Kedua pemuda ini kemudian menepi ke pantai. Sesampai di sana, mereka melihat sebuah pohon kelapa yang berbuah lebat.
Manggabras dan Aruken kemudian mendekati pohon tersebut. Dengan cekatan Manggabras memanjat pohon kelapa dan menjatuhkan buahnya satu per satu.
Sementara itu, Aruken memungut buah-buah yang berjatuhan. Namun karena sudah merasa kelaparan, Aruken mulai menghabiskan semua buah kelapa tersebut tidak bersisa.
Begitu Manggabras turun, dia tidak mendapati satu buah kelapa pun yang ada di sana. Manggabras tentu bertanya pada Aruken ke mana semua buah kelapa yang sudah dia jatuhkan sebelumnya.
Sambil berbohong, Aruken berkata jika semua buah kelapa yang ada sudah dia berikan pada orang-orang yang lewat di sana. Manggabras sebenarnya tahu jika sahabatnya ini tengah berbohong.
Namun dia tidak ingin ada pertengkaran panjang di antara mereka. Akhirnya Manggabras memilih diam dan mengajak Aruken kembali ke laut untuk mencari ikan.
Kedua sahabat ini kemudian kembali menaiki perahu dan kembali ke tengah laut. Sesampainya di sana, Manggabras memanjatkan doa agar mereka bisa mendapatkan hasil tangkapan yang banyak.
Namun takdir berkata lain. Cuaca yang tadinya cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap gulita.
Badai besar langsung menghantam perahu yang dinaiki kedua pemuda tersebut hingga pecah. Manggabras dan Aruken terombang-ambing di lautan lepas akibat hal itu.
Nasib nahas menimpa Aruken akibat kejadian ini. Saat terhempas dari perahu, salah satu potongan kayu tertancap di perutnya.
Semua kelapa yang dia makan sebelumnya langsung berserakan begitu saja. Tidak lama kemudian, Aruken menemui akhir hidupnya di sana.
Manggabras hanya bisa terpana melihat hal itu. Dia merasa sedih karena sahabatnya mesti menemui akhir hidupnya dengan cara demikian.
Dengan sekuat tenaga, Manggabras kemudian berhasil kembali ke daratan. Meskipun selamat, Manggabras mesti merelakan sahabatnya yang meninggal dunia dalam kejadian tersebut.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


