Masyarakat Muslim di Indonesia, khususnya di tanah Jawa, mengenal dua kali perayaan lebaran di bulan Syawal. Selain Idulfitri pada tanggal 1 Syawal, terdapat tradisi "Bakda Kupat" atau Lebaran Ketupat yang dirayakan tepat sepekan setelahnya, yakni pada 8 Syawal.
Jauh dari sekadar ritual makan bersama, Lebaran Ketupat merupakan bentuk ajaran Islam yang berpadu harmonis dengan budaya lokal melalui kiprah para Wali Songo.
Asal-Usul dan Strategi Dakwah Sunan Kalijaga
Sejarah Lebaran Ketupat tidak dapat dilepaskan dari peran Raden Said atau Sunan Kalijaga pada masa Kesultanan Demak abad ke-15. Dalam menyebarkan Islam, Sunan Kalijaga menggunakan pendekatan akulturasi budaya yang sangat halus. Ia mengadaptasi tradisi pemujaan terhadap Dewi Sri (dewi kesuburan dalam tradisi Majapahit dan Pajajaran) yang menggunakan anyaman janur, lalu mengubah maknanya menjadi simbol rasa syukur kepada Allah SWT.
Sunan Kalijaga memperkenalkan konsep "Dua Bakda" kepada masyarakat: Bakda Lebaran dan Bakda Kupat. Bakda Lebaran dirayakan pada 1 Syawal sebagai tanda kemenangan setelah sebulan berpuasa Ramadhan. Sementara itu, Bakda Kupat dirayakan pada 8 Syawal setelah umat Islam menyelesaikan puasa sunnah Syawal selama enam hari. Hal ini menjadi media edukasi yang efektif agar masyarakat terbiasa menjalankan ibadah sunnah dengan penuh kegembiraan.
Filosofi Ketupat: Ngaku Lepat dan Laku Papat
Kata "Ketupat" atau "Kupat" dalam bahasa Jawa merupakan singkatan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat.
Ngaku Lepat berarti mengakui kesalahan. Tradisi ini diwujudkan melalui prosesi sungkeman, di mana anggota keluarga yang lebih muda memohon maaf kepada yang lebih tua. Ini adalah fondasi dari kerukunan sosial, di mana keegoisan dilebur dalam pengakuan dosa.
Sementara itu, Laku Papat (empat tindakan) merujuk pada empat pilar perilaku pasca-Ramadhan:
- Lebaran: Berasal dari kata lebar (usai), menandakan selesainya waktu berpuasa. Pintu ampunan telah dibuka lebar.
- Luberan: Berarti melimpah. Simbol dari ajakan untuk bersedekah dan mengeluarkan Zakat Fitrah kepada yang membutuhkan.
- Leburan: Berarti melebur. Momen di mana dosa dan kesalahan antar sesama manusia dianggap habis karena telah saling memaafkan.
- Laburan: Berasal dari kata labur (kapur putih). Ini melambangkan manusia yang kembali suci dan bersih hatinya, seperti dinding yang baru dikapur putih.
Simbolisme Material: Janur dan Anyaman
Tak hanya namanya, fisik ketupat pun sarat akan makna filosofis. Pembungkus ketupat yang menggunakan Janur memiliki arti Jatining Nur (hati nurani) atau serapan dari bahasa Arab Ja’a al-nur (telah datang cahaya). Penggunaan pucuk daun kelapa yang berwarna kuning ini melambangkan harapan agar manusia selalu mengikuti cahaya sejati dari Tuhan.
Anyaman ketupat yang rumit dan saling tumpang tindih merupakan representasi dari kerumitan hidup dan banyaknya kesalahan manusia. Namun, di balik kerumitan tersebut, terdapat isi nasi putih yang padat dan bersih. Ini menyimbolkan bahwa setelah melewati "anyaman" persoalan dan memohon maaf, yang tersisa hanyalah kesucian hati.
Pasangan Ketupat: Makna Filosofis Lepet
Dalam penyajiannya, ketupat hampir selalu berdampingan dengan Lepet. Kudapan dari ketan ini mengandung pesan moral melalui filosofi "Silep kang rapet" (kubur yang rapat).
Lepet dibalut dengan tali yang kuat, melambangkan pesan agar setelah saling memaafkan, segala aib, kesalahan, dan perselisihan di masa lalu harus dikubur rapat-rapat. Tekstur ketan yang lengket juga menjadi simbol eratnya tali persaudaraan (silaturahmi) yang tidak boleh terputus kembali.
Tradisi yang Melintasi Daerah
Kini, Lebaran Ketupat telah berkembang dengan berbagai variasi nama di penjuru Nusantara. Di Jawa, dikenal dengan Kupatan. Di Lombok, masyarakat merayakannya sebagai Lebaran Topat dengan ritual ziarah makam. Sementara di Sulawesi, tradisi serupa dikenal dengan nama Tallua.
Meski berbeda sebutan, nilai intinya tetap sama yaitu gotong royong, sedekah makanan, dan penguatan ikatan sosial melalui makan bersama. Tradisi 8 Syawal ini membuktikan betapa Islam di Indonesia mampu tumbuh subur dengan menghargai akar budaya tanpa menghilangkan esensi teologisnya.
Lebaran Ketupat adalah warisan adiluhung yang mengajarkan kita bahwa kesucian diri (kesalehan ritual) harus dibarengi dengan keharmonisan sosial (kesalehan sosial). Dengan memahami filosofi Ngaku Lepat dan Laku Papat, kita diajak untuk tidak sekadar merayakan seremoni, tetapi benar-benar melestarikan budaya meminta maaf dan berbagi dalam kehidupan sehari-hari. Mari jadikan semangat "Laburan" sebagai momentum untuk menjaga hati tetap putih dan tali persaudaraan tetap erat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


