Ketika tumpukan jerami tak lagi sekadar sisa, melainkan awal dari sebuah langggam cerita.
Aroma jerami kering bercampur serat bambu tercium kuat ketika memasuki lorong Ndalem Art Space Bojonegoro. Di tempat inilah, Fatoerachman Jacob (Ayik) menyulam harapan tentang nasib pertanian, melalui medium wayang kontemporer dari jerami.
Ayik melihat dunia pertanian kian jauh dari generasi muda. Terpinggirkan modernitas. Dianggap usang. Bahkan tak lagi menjanjikan. Dari keresahan itulah, ia mencari cara agar pertanian kembali populer — tidak melalui ceramah, kotbah, atau kampanye: tapi lewat boneka wayang kontemporer.
Ayik menjadikan wayang sebagai bagian dari upaya mengembalikan marwah dunia pertanian. Bukan wayang biasa. Tapi wayang customize — tidak kolot dan punya daya fleksibilitas untuk bisa digunakan di berbagai seni pertunjukan kontemporer.
Selama ini, wayang identik dalang dan gamelan. Ayik berupaya mendekonstruksi bahwa wayang tak melulu begitu. Wayang, menurut Ayik, harus punya fleksibilitas dan resiliensi untuk mampu hidup di dunia kontemporer.
Baca Selengkapnya

