Tombak Baruklinting adalah salah satu benda pusaka yang dimiliki oleh Ki Demang Wanabaya. Ada sebuah cerita rakyat dari Yogyakarta yang mengisahkan tentang legenda tombak Baruklinting milik Ki Demang Wanabaya tersebut.
Berikut kisah dari legenda tombak Baruklinting yang jadi pusaka milik Ki Demang Wanabaya.
Legenda Tombak Baruklinting yang Jadi Pusaka Ki Demang Wanabaya, Cerita Rakyat dari Yogyakarta
Dinukil dari buku Antologi Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta, pada zaman dahulu diceritakan jika Demang Jlegong hendak mengadakan syukuran di kediamannya. Syukuran ini digelar atas hasil panen yang didapatkan pada waktu itu.
Berbagai persiapan sudah dilakukan sejak lama. Pagelaran wayang kulit juga hendak digelar dalam acara syukuran tersebut.
Masyarakat yang ada di sekitar turut diundang oleh Demang Jlegong untuk menghadiri acara itu. Tidak hanya itu, para demang lain yang ada di daerah Mangir juga turut diundang oleh Demang jlegong.
Salah satu demang yang diundang secara khusus adalah Ki Demang Wanabaya. Sebab dirinya dikenal sebagai seorang yang sakti serta menjadi guru bagi demang lainnya yang ada di daerah Mangir.
Pada hari acara, Ki Demang Wanabaya datang lebih cepat di kediaman Demang Jlegong. Kedatangan Ki Demang Wanabaya disambut langsung oleh Demang Jlegong.
Begitu tiba di sana, Ki Demang Wanabaya kemudian menaburkan tolak bala agar acara syukuran bisa berlangsung dengan lancar. Demang Jlegong tentu menerima bantuan tersebut dengan senang hati.
Setelah semua proses ritual selesai dilakukan, Ki Demang Wanabaya kemudian dijamu oleh Demang Jlegong. Kedua demang ini saling bercengkrama antara satu sama lain.
Beberapa saat kemudian, Demang Jlegong mempersilahkan Ki Demang Wanabaya untuk menikmati hidangan yang ada. Demang Jlegong kemudian pergi dan menghampiri tamu lain yang datang pada acara tersebut.
Ki Demang Wanabaya kemudian menyantap hidangan yang tersedia dengan tenang. Ketika sedang asik memakan hidangan yang ada, tiba-tiba muncul seorang gadis cantik di hadapan Ki Demang Wanabaya.
Gadis ini bertanya apakah di ruangan tersebut ada sebuah pisau yang bisa dia gunakan untuk bekerja di dapur. Ki Demang Wanabaya merasa heran dengan kemunculan gadis cantik tersebut.
Dia merasa heran siapa gadis yang tidak sungkan menanyakan pisau pada seorang demang, Namun Ki Demang Wanabaya memutuskan untuk membantu gadis itu.
Ki Demang Wanabaya kemudian mengeluarkan sebilah pisau dan memberikannya pada sang gadis. Ki Demang Wanabaya berkata jika pisau itu sangat tajam dan bisa digunakan untuk memotong apapun.
Namun ada sebuah pantangan yang mesti dijaga oleh sang gadis. Dirinya tidak boleh meletakkan pisau itu di pangkuannya.
Gadis ini menerima pisau dari Ki Demang Wanabaya dengan senang hati. Dirinya kemudian kembali ke dapur dan melanjutkan pekerjaan.
Karena asik bekerja, gadis ini lupa dengan pesan Ki Demang Wanabaya. Tanpa sadar dia meletakkan pisau itu di pangkuannya.
Tidak lama kemudian, gadis cantik tersebut hamil. Dirinya kemudian melarikan diri ke dalam hutan karena malu.
Gadis cantik ini kemudian melahirkan sebutir telur berukuran besar. Telur ini kemudian dia letakkan di dalam belanga.
Ketika menetas, muncul seekor ular besar dari dalam telur tersebut. Seiring berjalannya waktu, ular ini mulai tumbuh dewasa.
Ular tersebut kemudian bertanya siapa ayahnya pada gadis cantik itu. Ibunya berkata jika ayahnya adalah Ki Demang Wanabaya yang ada di Mangir.
Setelah mendapatkan jawaban, ular tersebut kemudian pergi ke Mangir untuk menemui Ki Demang Wanabaya. Begitu tiba di kediamannya, ular tersebut kemudian bertemu Ki Demang Wanabaya dan berkata jika dia adalah anaknya.
Ki Demang Wanabaya kemudian berkata jika ular itu memang anaknya, maka dia bisa melingkari bukit yang ada di sana. Dengan yakin ular tersebut kemudian pergi dan melingkari bukit tersebut.
Namun usahanya untuk melingkari bukit hanya tersisa satu jengkal saja. Ki Demang Wanabaya kemudian memerintahkannya untuk menjulurkan lidah dan diikuti oleh ular tersebut.
Ki Demang Wanabaya kemudian memotong ular itu menjadi beberapa bagian. Potongan tubuhnya kemudian berubah menjadi pohon waru lengis.
Sementar itu, lidahnya berubah menjadi sebilah tombak. Tombak ini kemudian diberi nama Baruklinting dan menjadi pusaka Ki Demang Wanabaya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


