Di ujung timur laut Indonesia, tersembunyi di balik lebatnya hutan hujan tropis, terdapat sebuah desa kecil bernama Dodinga. Desa ini terdiri dari sekitar 80 rumah sederhana, beberapa masjid, satu sekolah dasar, dan sebuah toko kecil yang menjual kebutuhan sehari-hari.
Namun hampir 170 tahun lalu, di desa terpencil di Halmahera inilah teori seleksi alam pertama kali dirumuskan, sebuah gagasan revolusioner yang selamanya mengubah cara manusia memahami kehidupan di bumi.
Saat Demam Menyerang, Gagasan Besar Lahir
Hampir 170 tahun lalu, seorang naturalis otodidak terbaring di sebuah gubuk kecil di Dodinga. Tubuhnya menggigil dan berkeringat karena malaria. Tanpa diketahui siapa pun, di desa yang bahkan tidak tercantum di peta-peta besar saat itu, salah satu lompatan intelektual terbesar dalam sejarah manusia sedang terjadi.
Naturalis itu adalah Alfred Russel Wallace.

Alfred Russel Wallace | Credit: UK/English Heritage Photo Library/Bridgeman
Ia tiba di Ternate pada 8 Januari 1858, setelah hampir empat tahun menjelajahi kawasan yang ia sebut Malay Archipelago. Bersama para asistennya, ia telah mengumpulkan puluhan ribu spesimen—dari orangutan, burung cendrawasih, hingga ribuan jenis kumbang.
Tak lama setelah tiba di Ternate, ia menyeberang ke Halmahera. Setelah singgah sebentar di Sedingole yang ia anggap kurang menjanjikan, ia akhirnya menetap di Dodinga.
Di sanalah malaria menyerangnya.
Dalam bukunya Natural Selection and Tropical Nature, Wallace menggambarkan momen itu:
“…tiba-tiba terlintas dalam benak saya gagasan tentang survival of the fittest. Dalam dua jam sebelum serangan demam saya mereda, hampir seluruh teori itu telah saya pikirkan, dan pada malam yang sama saya membuat sketsa draf tulisan saya.”
Di sebuah gubuk bocor yang pemiliknya enggan memperbaiki atapnya, di desa yang nyaris tak dikenal dunia, lahirlah teori yang akan mengguncang fondasi ilmu pengetahuan.
Dua Jam yang Mengubah Segalanya
Malaria memaksa Wallace untuk berbaring. Dalam kondisi itu, pikirannya melayang kepada Thomas Malthus, pemikir era Georgian yang pernah ia baca bertahun-tahun sebelumnya. Malthus berargumen bahwa populasi manusia dikendalikan oleh “positive checks”: perang, penyakit, dan kelaparan.
Wallace lalu bertanya: bagaimana jika logika yang sama berlaku pada hewan? Dari pertanyaan itu muncul pertanyaan berikutnya: mengapa ada yang mati dan ada yang bertahan hidup? Jawabannya, seperti yang kemudian ia tulis, datang seperti kilat: yang paling sesuai akan bertahan.
Dua jam. Dalam dua jam sebelum demamnya reda, hampir seluruh teori itu sudah terbentuk.
Yang tersisa adalah satu pertanyaan penting: kepada siapa ia harus mengirimkannya? Wallace sadar bahwa gagasannya kontroversial, menantang pemahaman tentang alam sekaligus doktrin agama saat itu. Ia membutuhkan seseorang dengan reputasi kuat untuk memvalidasi dan membantu menerbitkannya.
Pilihannya jatuh pada Charles Darwin, seorang naturalis yang sudah ia kenal dan hormati. Pilihan ini bukan hal baru, Wallace sebelumnya telah mengirimkan makalah Sarawak Law pada 1855 ke komunitas ilmiah yang sama, sebuah karya yang oleh Giacomo Bernardi dinilai sama pentingnya dengan kunjungan Darwin ke Kepulauan Galápagos dalam perkembangan teori evolusi.
Catatan Lapangan yang Mengubah Sains
Jurnal lapangan Wallace yang tersimpan di Linnean Society of London membuktikan bahwa ia berada di Halmahera sepanjang Februari 1858, dan baru kembali ke Ternate pada 1 Maret.
Detail ini penting, karena selama bertahun-tahun dunia keliru mengira penemuan itu terjadi di Ternate, akibat makalahnya yang ditandatangani “Ternate, Februari 1858.”
Kini para peneliti meyakini bahwa Wallace mencantumkan Ternate hanya sebagai alamat pos. Dodinga, desa yang nyaris tak ada di peta, adalah lokasi sebenarnya dari penemuan bersejarah ini.

Makalah tersebut dikirim kepada Charles Darwin dan kemudian dikenal sebagai The Ternate Essay.
Dr. George Beccaloni dari Natural History Museum menyebutnya sebagai “mungkin makalah ilmiah paling penting dalam sejarah biologi.” Sebuah penilaian luar biasa untuk karya yang ditulis di gubuk bocor oleh seorang yang sedang sakit keras di desa terpencil.
Persimpangan Sejarah
Ketika surat Wallace tiba di Inggris pada 18 Juni 1858, Darwin terguncang. Ia telah mengembangkan teorinya sendiri selama hampir dua dekade. Namun dalam beberapa halaman saja, seseorang dari desa terpencil di Halmahera telah merumuskan gagasan yang sama.
Rekan-rekan Darwin kemudian mengatur agar kedua makalah dibacakan bersama di Linnean Society pada 1 Juli 1858, tanpa kehadiran Wallace yang masih berada di Nusantara. Darwin lalu mempercepat penerbitan On the Origin of Species pada November 1859.
Namanya pun terpatri dalam sejarah. Sementara Wallace, yang penemuannya mendorong Darwin untuk segera menerbitkan karyanya, perlahan terlupakan.
Sebagian pengkaji bahkan menyimpulkan bahwa “Darwin dan rekan-rekannya di komunitas ilmiah secara sistematis merampas pengakuan Wallace atas seleksi alam,” dan menyebutnya sebagai “salah satu ketidakadilan terbesar dalam sejarah sains.”
Ironinya, Wallace sendiri memilih tetap berada di balik bayangan. Ketika Darwin mengusulkan nama “Darwin–Wallace,” Wallace justru bersikeras menyebutnya sebagai “Darwinisme.”
Warisan yang Terlambat Diakui
Wallace kembali ke Inggris pada 1862 dengan membawa 125.660 spesimen, termasuk lebih dari 83.000 kumbang. Pada 1869, ia menerbitkan The Malay Archipelago, buku yang tidak pernah berhenti dicetak hingga kini.
Buku tersebut menginspirasi Joseph Conrad dan memantik ketertarikan seorang David Attenborough muda terhadap dunia alam.

Ia juga meninggalkan jejak penting dalam sains melalui konsep “Wallace Line,” sebuah batas biogeografis yang memisahkan fauna Asia dan Australia, membentang dari Selat Lombok hingga Selat Makassar. Sekitar 250 spesies kemudian dinamai untuk menghormatinya.
Pengakuan paling nyata atas apa yang terjadi di Dodinga justru datang jauh belakangan, sebuah plakat sederhana yang dipasang di persimpangan menuju bekas lokasi rumahnya.
Bukan di London. Bukan di institusi ilmiah bergengsi. Melainkan di ujung gang kecil, menghadap masjid desa, di Dodinga.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


