Mohamed Ali Eltaher, atau yang lebih akrab di telinga masyarakat Indonesia sebagai Muhammad Ali Taher, mungkin terdengar asing dalam buku teks sejarah sekolah. Namun, dalam lembaran emas diplomasi kemerdekaan Republik Indonesia, sosok ini ternyata begitu berjasa.
Ia bukan sekadar pengamat dari jauh; ia adalah napas bagi para diplomat Indonesia yang tengah berjuang di tanah Arab ketika tanah air sedang dikepung oleh agresi kolonial.
Profil Sang Penjaga Gerbang Intelektual Arab
Lahir pada tahun 1896 di Nablus, sebuah kota bersejarah di Tepi Barat, Palestina, Ali Taher tumbuh di pusat kebudayaan yang kental. Garis keturunannya merujuk pada marga Jaradat dan keturunan Juhayna dari Arab Saudi.
Pada tahun 1912, ia memutuskan pindah ke Mesir, memulai kariernya sebagai jurnalis yang tajam di surat kabar Fata Al Arab.
Ali Taher bukan jurnalis biasa; ia adalah seorang visioner. Ia menerbitkan tiga surat kabar besar: Ashoura, Al-Shabab, dan Al-Alam Al-Masri. Kantornya, Dar Ashoura, di pusat Kota Kairo, bukan sekadar ruang redaksi. Tempat itu berubah menjadi "suaka intelektual" bagi para pejuang kemerdekaan dari berbagai belahan dunia yang melarikan diri dari rezim otoriter. Selama 19 jam sehari, pintu Dar Ashoura selalu terbuka bagi siapa saja yang membawa api perlawanan terhadap penjajahan.
Sang Juru Bicara Kemerdekaan Indonesia di Timur Tengah
Peran Ali Taher terhadap Indonesia berawal dari kedekatan emosional dan ideologis. Baginya, Indonesia adalah simbol harapan bagi kebangkitan dunia Islam. Di Dar Ashoura, tokoh-tokoh besar seperti Haji Agus Salim, Mohammad Hatta, Mohamed Rashidi, hingga pemuda Abdul Kahar Muzakkir diterima dengan tangan terbuka.
Ali Taher tak segan menggunakan pengaruhnya untuk melobi Menteri Pendidikan Mesir demi kelancaran studi mahasiswa Indonesia yang kesulitan akibat perang.
Puncaknya, Ali Taher menjadi motor penggerak dalam Panitia Komite Pembela Indonesia pada tahun 1945. Melalui jaringan medianya, ia terus menyuarakan dukungan agar negara-negara Arab segera memberikan pengakuan kedaulatan kepada Republik Indonesia.
Saat film proklamasi diputar di Hotel Semiramis Kairo pada 1947, Ali Taher dengan haru berujar, "Sungguh-sungguh kita telah menyaksikan kelahiran satu bangsa." Tanpa diplomasi medianya, posisi Indonesia di panggung internasional mungkin akan jauh lebih sunyi.
Solidaritas Tanpa Tanda Terima: Penyerahan Seluruh Harta
Momentum paling heroik terjadi saat Indonesia berada di titik nadir akibat Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948. Ketika Yogyakarta jatuh dan para pemimpin RI ditawan, harapan seolah padam. Kabar pilu ini sampai ke telinga Ali Taher di Kairo.
Di tengah situasi Palestina sendiri yang sedang bergejolak akibat perang Arab-Israel, Ali Taher justru menunjukkan kemuliaan hati yang tiada tanding.
Ia menarik tangan M. Zein Hassan, Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia, menuju Bank Arabia.
Di sana, tanpa ragu sedikit pun, Ali Taher menguras seluruh tabungan pribadinya dan menyerahkan semuanya untuk membiayai perjuangan Indonesia. "
“Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia!" ucapnya tegas.
Luar biasanya, ia menyerahkan harta benda tersebut tanpa meminta satu lembar pun kuitansi atau tanda bukti penerimaan. Bagi Ali Taher, kemerdekaan Indonesia adalah harga mati yang lebih berharga daripada angka-angka di buku banknya.
Solidaritas ini adalah bukti nyata bahwa persaudaraan antara Palestina dan Indonesia bukanlah sekadar basa-basi politik, melainkan pengorbanan darah dan harta yang terukir abadi dalam sejarah.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


