bike2school di tangsel gerakan anak bersepeda ke sekolah tiap jumat - News | Good News From Indonesia 2026

Bike2School di Tangsel, Gerakan Anak Bersepeda ke Sekolah Tiap Jumat

Bike2School di Tangsel, Gerakan Anak Bersepeda ke Sekolah Tiap Jumat
images info

Bike2School di Tangsel, Gerakan Anak Bersepeda ke Sekolah Tiap Jumat


Setiap Jumat pagi, anak-anak di Serpong Lagoon, Setu, Tangerang Selatan, berangkat ke sekolah dengan sepeda. Khusus hari itu, tidak ada antar jemput anak.

Kegiatan ini dikenal sebagai Bike2School.

Gerakan ini bukan program sekolah atau program pemerintah. Bike2School bermula dari gagasan Dimas, salah satu orang tua di kawasan itu.

Dimas Gilang Pamungkas, awalnya hanya ingin mengubah kebiasaan anaknya pergi ke sekolah.

Sebelumnya, anaknya mobilisasi ke sekolah menggunakan mobil jemputan. Alasannya karena jarak dan kondisi jalan yang belum ramah untuk pesepeda.

“Anak saya dulunya itu pakai mobil jemputan karena jaraknya jauh sama jalanannya sih yang enggak ramah buat anak-anak bersepeda,” ujar Dimas, dikutip dari Kompas.com, Jumat (17/4/2026).

Untuk itu, Dimas tidak memaksa anaknya bersepeda. Ia lebih dulu memastikan keamanan lingkungan dan keselamatan anaknya.

Karena itu, ia dan keluarganya memutuskan pindah ke Serpong Lagoon. Dimas menilai, setidaknya kawasan itu lebih aman untuk bersepeda.

Setelah merasa aman, kebiasaan baru mulai dibentuk. Anaknya mulai berangkat sekolah dengan sepeda.

“Jadi pertama itu harus dibentuk dulu niatnya untuk bersepeda. Lalu kedua rasa aman saat bersepeda. Kalau engga ada rasa aman, saya juga enggak akan biarin anak saya untuk bersepeda,” jelasnya.

Di lingkungan barunya, Dimas melihat pola yang sama. Banyak anak tetap diantar ke sekolah, meski jaraknya dekat.

Dari situ, ia mulai mengajak anak-anak lain untuk bersepeda bersama. Ajakan disampaikan lewat pengurus RT dan langsung mendapat respons.

Pada Januari 2021, sekitar 20 hingga 25 anak ikut di kegiatan pertama. Angka itu terus bertambah. Kini, sekitar 40 anak rutin bersepeda setiap Jumat.

baca juga

Jadi Ajang Interaksi di Kawasan Perumahan

Program Bike2School tidak hanya berdampak pada kebiasaan bertransportasi, tetapi juga pada interaksi sosial anak.

Melalui kegiatan ini, anak-anak yang sebelumnya tidak saling mengenal mulai membangun kedekatan karena rutin berangkat bersama.

“Mereka jadi saling kenal, bisa ngobrol di jalan, bahkan di luar kegiatan, mereka juga bisa main bareng,” kata Dimas.

Kebersamaan selama perjalanan membuat aktivitas bersepeda ke sekolah berkembang menjadi ruang interaksi baru bagi anak-anak.

baca juga

Peluang Diadopsi di Daerah Lain

Dimas berharap gerakan ini bisa diterapkan di daerah lain. Meskipun, ia mengakui kondisi kota masih jadi tantangan utama. Lingkungan yang belum sepenuhnya ramah bagi pesepeda membuat kebiasaan ini sulit diterapkan secara luas.

“Kota kita dibangun bukan untuk manusia, tapi untuk kendaraan. Kalau untuk manusia kan harusnya ada jalur sepeda,” ujarnya.

Pernyataan itu berkaitan dengan minimnya infrastruktur pendukung, seperti jalur sepeda dan trotoar yang layak. Tanpa fasilitas tersebut, ruang gerak pesepeda—terutama anak-anak—menjadi terbatas.

Di sisi lain, ketergantungan masyarakat pada kendaraan bermotor juga ikut memperkuat kebiasaan lama. Akibatnya, sepeda semakin jarang digunakan sebagai alat transportasi harian.

Meski begitu, Dimas tetap melihat peluang. Ia berharap Bike2School tidak berhenti di lingkungannya saja, tetapi bisa ditiru di tempat lain.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.