Kawan GNFI, apakah kamu pernah mendengar soal diversifikasi pangan? Seorang content creator lokal di TikTok bernama Manik mengedukasi audiensnya tentang pembahasan ini, lo!
Dengan latar belakang pendidikannya di bidang gizi dan kesehatan masyarakat, ia membuat beragam konten soal diversifikasi pangan dan konsumsi pangan lokal non-beras.
Nah sebagai informasi, diversifikasi pangan sendiri merupakan upaya untuk memasukkan variasi jenis makanan dalam konsumsi harian. Cara ini diharapkan dapat meningkatkan ketahanan pangan, gizi, dan kesejahteraan masyarakat.
Upaya Hindari Ketergantungan Pangan
Konsentrasi konsumsi beras sebagai sumber pangan utama tidak hanya ditunjukkan oleh data, melainkan juga oleh keyakinan kolektif masyarakat Indonesia bahwa untuk mencapai kenyang harus dengan makan nasi.
Jika situasi ini tidak ditangani dalam jangka panjang, dikhawatirkan akan semakin membebani karena pemerintah harus terus memenuhi kebutuhan beras yang meningkat seiring pertumbuhan jumlah penduduk. Ini bisa mengancam ketahanan pangan di Indonesia.
Maka dari itu, diversifikasi pangan juga menjadi langkah strategis dan menjadi alternatif yang lebih fleksibel untuk memenuhi kebutuhan dan menjaga ketahanan pangan. Dengan demikian, kita tidak hanya bergantung pada satu komoditas saja.
Makanan Lokal Turut Tergeser
Melalui video yang diunggah di akun TikTok-nya, Manik sering membagikan berbagai variasi makanan yang ia konsumsi dalam upayanya menerapkan diversifikasi pangan dalam kesehariannya.
Bagi Manik, jika masyarakat terlalu ketergantungan pada satu bahan pangan, pangan lokal yang dulunya dianggap sebagai identitas, perlahan akan tergeser. Jika dibiarkan, bukan hanya sumber pangan yang hilang, melainkan juga pengetahuan lokalnya.
Manik sering membagikan pengalamannya mengonsumsi makanan tradisional dari berbagai daerah di Indonesia, sembari mengenalkan dan menjaga pengetahuan lokalnya agar tetap lestari. Alternatif yang ia tawarkan adalah bahan pokok lokal seperti umbi-umbian, kacang-kacangan, dan biji-bijian yang tetap bergizi.
Oiya, Kawan, berdasarkan data dan penelitian yang dilakukan oleh Badan Ketahanan Pangan (BKP) pada tahun 2021, masyarakat yang hanya mengonsumsi satu jenis bahan pangan pokok—seperti nasi—cenderung mengalami kekurangan mikronutrien seperti vitamin dan mineral.
Kekurangan mikronutrien berpotensi meningkatkan potensi masalah kesehatan serius seperti anemia, rabun senja, serta osteoporosis.
Campur Tangan Politik
Jika ditarik ke masa lampau Kawan, pada masa penjajahan Belanda di Indonesia, lahan pertanian yang subur dikuasai oleh para tuan tanah. Mereka memerintahkan masyarakat pribumi untuk menanam padi, sehingga produksi dan konsumsi beras turut meningkat.
Kecenderungan dan kebiasaan konsumsi beras tersebut terus berlanjut bahkan setelah Indonesia merdeka. Bukan semata-mata kebiasaan, konsentrasi konsumsi beras ternyata juga merupakan hasil dari keputusan politik.
Pada masa kemerdekaan, pemerintah membuat berbagai rencana yang menarget perluasan lahan dan peningkatan hasil produksi beras, seperti program Bimas, Insus, dan Supra Insus.
Konstannya produksi beras terus berlanjut hingga kini. Pada tahun 2025, Indonesia menjadi negara keempat tertinggi produsen beras dunia, mencapai 34,69 juta ton, diambil dari situs Kementan.
So, Kawan, apakah kamu sudah menerapkan diversifikasi pangan dalam konsumsi sehari-hari? Apakah cerita Manik membuat Kawan ingin turut mencobanya?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


