Fenomena ikan invasif di Indonesia kembali menjadi sorotan publik setelah aksi konten kreator asal Jakarta, Arif Kamarudin, viral di media sosial. Selama setahun terakhir, Arif aktif memburu ikan sapu-sapu di bantaran Sungai Ciliwung, Jakarta. Setiap hari, ia mengaku mampu menangkap 20 hingga 30 ekor ikan sapu-sapu untuk dimusnahkan demi mengurangi populasi spesies perusak tersebut.
Aksi Arif Kamarudin ini memicu perhatian besar dari masyarakat hingga pemerintah daerah. Pasukan oranye, aparat TNI, bahkan pemerintah Jakarta ikut turun tangan dalam operasi penangkapan massal ikan sapu-sapu. Gubernur Daerah Khusus Jakarta, Pramono Anung, bahkan dikabarkan berencana membentuk pasukan khusus untuk memberantas ikan sapu-sapu dari sungai-sungai ibu kota.
Ikan sapu-sapu sendiri dikenal sebagai spesies invasif yang merusak ekosistem sungai. Mereka memakan telur ikan lokal, merusak dasar sungai, dan berkembang biak dengan cepat. Namun ternyata, ikan sapu-sapu bukan satu-satunya “hama” air tawar di Indonesia, tapi ada juga ikan cere.
Ikan Cere Ternyata Bukan Asli Indonesia
Ikan cere, atau dalam dunia ilmiah dikenal sebagai Gambusia affinis, merupakan ikan air tawar kecil yang sangat mudah ditemukan di Indonesia. Ikan ini biasa hidup di selokan, sawah, sungai dangkal, saluran irigasi, hingga danau.
Banyak orang mengira ikan cere adalah ikan lokal Indonesia karena keberadaannya hampir di semua wilayah. Padahal, fakta mengejutkan menunjukkan bahwa ikan cere berasal dari Amerika Utara dan Amerika Tengah, serta beberapa wilayah tropis di Amerika Selatan.
Di habitat aslinya, ikan cere dikenal sebagai pemangsa larva nyamuk. Karena kemampuan inilah, ikan ini dianggap sangat efektif sebagai pengendali alami penyakit malaria.
Alasan Belanda Membawa Ikan Cere ke Indonesia
Sekitar tahun 1920-an, pemerintah kolonial Belanda membawa ikan cere ke Hindia Belanda atau Indonesia sebagai bagian dari program kesehatan masyarakat untuk membasmi nyamuk malaria. Saat itu, malaria menjadi ancaman serius bagi produktivitas tenaga kerja perkebunan dan stabilitas ekonomi kolonial.
Belanda memilih ikan cere karena memiliki banyak keunggulan, seperti:
- Mampu hidup di air dengan kadar oksigen rendah
- Tahan terhadap perubahan suhu ekstrem
- Berkembang biak sangat cepat sepanjang tahun
- Rakus memakan jentik dan larva nyamuk
Dengan kemampuan tersebut, ikan cere disebar ke berbagai kolam, got, waduk, dan genangan air di Indonesia.
Dari Solusi Jadi Bencana Ekologis
Awalnya, program ini dianggap sukses. Populasi nyamuk di sejumlah wilayah sempat berkurang. Namun, seperti banyak kebijakan kolonial yang minim kajian ekosistem, dampak jangka panjangnya justru menjadi masalah baru.
Ikan cere berkembang tak terkendali dan berubah menjadi spesies invasif. Meski ukurannya kecil, ikan cere sangat agresif. Mereka bisa menyerang ikan lain, menggigit sirip, memakan telur dan larva ikan lokal, bahkan membunuh spesies kecil lain di habitatnya.
Kehadirannya juga mengganggu struktur komunitas zooplankton, serangga air, dan krustasea lokal. Kini, ikan cere tersebar luas hampir di seluruh perairan tawar Indonesia dan mendominasi banyak ekosistem.
Pelajaran dari Ikan Sapu-Sapu dan Ikan Cere
Kasus viral Arif Kamarudin memburu ikan sapu-sapu membuka mata publik bahwa spesies invasif memang ancaman nyata bagi lingkungan.
Namun, kisah ikan cere membuktikan bahwa ancaman itu tidak selalu datang “diam-diam” dari alam. Kadang, ancaman justru datang dari kebijakan manusia di masa lalu.
Ikan sapu-sapu adalah contoh invasi modern yang merusak sungai. Sementara ikan cere adalah warisan kebijakan kolonial Belanda yang awalnya bertujuan baik, tetapi berujung menjadi hama ekologis.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


