Sebagai mahasiswa Administrasi Perkantoran semester 6, magang atau pelatihan kerja selalu menjadi salah satu kegiatan yang dijalani setiap harinya.
Posisi mereka berbeda, ada yang menjadi staf yang selalu membantu atasan (atau pembimbingnya), ada pula posisi administrator yang setiap hari selalu berada di dalam sebuah ruangan dengan tumpukan surat di meja dan boks arsip.
Saat ini saya masih menjalani magang di salah satu museum di Jakarta Barat. Di instansi tempat saya magang, saya tetap menemukan sosok Kartini yang menginspirasi selama melaksanakan magang tahun ini.
Mungkin beberapa, tetapi yang saya kenal hanya ada tiga sosok Kartini yang menginspirasi saya selama di tempat magang ini, ada Bu Intan, Kak Zahwa, dan Bu Yati.

Kak Zahwa (kanan)|Nadya Diviandini
Sosok Kartini yang pertama adalah Bu Intan (nama lengkap: Intan Cahyanita). Ia merupakan mentor (pembimbing) saya saat melaksanakan magang di Museum Seni Rupa dan Keramik, Kawasan Kota Tua Jakarta, Jakarta Barat.
Dari saat saya mendaftar hingga menjalani kehidupan magang seperti sekarang ini, saya dapat melihat kepribadiannya yang begitu teduh dan cara penyampaiannya yang menenangkan kepada para peserta magang.
Saya ingat momen ketika saya dan teman-teman ditempatkan di ruang anak untuk briefing tugas selama magang.
Pada hari pertama, kami diminta untuk membuat kartu nama peserta magang. Sehari setelahnya, barulah briefingpembagian tugas. Saat pembagian tugasmulai dilakukan, di WhatsApp, saya selalu menyapa Bu Intan, diteruskan dengan kalimat "Ada yang bisa dibantu?".
Akhirnya, ia mengatakan, saya mendapat posisi sebagai administrator, sedangkan yang lain menjadi kurator museum.
Saat itu juga, saya diajak ke ruang administrator untuk mendata arsip aktif dan inaktif. Dari sini, saya menyadari bahwa tugas ini jauh lebih berat. Saya selalu melihat momen di mana mereka melaksanakan uji kompetensi kurator museum (itupun hanya sekadar kalimat di WhatsApp) setelah seharian mengitari ruangan museum.
Adapun saya, hanya berada di dalam ruang administrator dan tidak pernah keluar sama sekali (kecuali untuk keperluan yang penting).
Meski begitu, setiap kali saya bertanya mengenai apa yang harus saya lakukan hari ini kepada Bu Intan, ia menjawab dengan solutif dan membuat nyaman.
Kelembutan Bu Intan juga terlihat saat menyampaikan kabar kepada saya di depan loket. Jumat lalu, tepatnya tanggal 10 April 2026, saya diberitahu oleh Bu Intan jika tugas saya menjadi petugas loket untuk melayani pengunjung museum sudah selesai.
Ini artinya, saya harus kembali ke ruang arsip untuk menyelesaikan input arsip inaktif pada Jumat berikutnya.
Namun, yang membuat meninggalkan Museum Keramik terasa berat, tentunya pemberitahuan mengenai kepindahan saya ke Museum Tekstil Tanah Abang pada awal Mei nanti. Semangat, sekaligus sedih karena harus meninggalkan kenyamanan di sini.
Sosok Kartini kedua adalah Kak Zahwa (nama: Mutiara Zahwa Nauli Siregar), penanggung jawab pengarsipan yang saat ini masih bekerja di Museum Tekstil Tanah Abang. Yang saya ingat dari dirinya adalah ketulusan dan sikapnya yang menghargai.
Pernah saat awal saya mulai bekerja di ruang administrasi. Ketulusan Kak Zahwa terlihat saat ia menjelaskan perbedaan surat masuk dan surat keluar, serta kode klasifikasi arsip agar tidak keliru saat melakukan input data arsip. Semua dilakukan dengan telaten dan penuh kesabaran. Dirinya juga senantiasa mengingatkan saya untuk tidak memaksakan diri ketika lelah.

Hari terakhir saya membantu Bu Yati melayani pengunjung MuseumKeramik|Nadya Diviandini
Sosok Kartini inspiratif yang terakhir adalah Bu Yati (penjaga loket Museum Keramik). Pertama kali saya bertemu dengannya pada akhir Maret silam.
Waktu itu, saya ditugaskan oleh Bu Intan untuk menjadi petugas loket setiap Jumat. Tentunya saya tidak sendiri, saya ditemani oleh salah satu teman magang saya (salah satu mahasiswa UIN Jakarta) dan Bu Yati.
Tugas saya saat itu hanya menghitung berapa jumlah pengunjung yang membeli tiket masuk dan memastikan penjenisan pengunjung.
Yang saya sukai dari Bu Yati tentunya sifatnya yang humoris dan sosok yang selalu mendukung anaknya untuk mengejar impian.
Untuk Kawan GNFI, semua orang, termasuk saya, tentunya selalu punya sosok Kartini yang inspiratif dalam kehidupan sehari-hari. Hargailah setiap semangat perjuangan mereka, karena setiap wanita selalu punya cerita unik dan inspiratif dalam hidup mereka.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


