Tidak semua perjalanan diawali dengan rencana yang matang. Bagi Amaya, mahasiswi asal Sri Lanka, semuanya justru bermula dari hal kecil sebuah unggahan tentang program sukarelawan yang ia temukan secara tidak sengaja. Rasa penasaran membuatnya menggali informasi lebih jauh melalui AIESEC di kampusnya. Tanpa harapan yang berlebihan, ia mengambil keputusan yang pada akhirnya mengubah perspektifnya tentang dunia, relasi dengan orang lain, hingga pemahaman terhadap dirinya sendiri.
Indonesia yang sebelumnya hanya ia kenal sekilas, kini berubah menjadi tempat yang sarat akan pengalaman. Hal yang paling membekas bukan hanya destinasi yang ia datangi, melainkan orang-orang yang ia temui. Ia tidak pernah menyangka bahwa keluarga angkatnya akan terasa begitu dekat. Sosok Ms. Pritha yang awalnya asing justru menghadirkan kehangatan dan rasa nyaman. Di tempat yang bukan rumahnya, Amaya justru menemukan perasaan “rumah”.
Pengalaman tersebut menjadi awal dari berbagai momen berkesan selama perjalanannya. Salah satu yang paling ia ingat adalah kunjungannya ke Kota Tua bersama sesama relawan. Di tengah nuansa bangunan bersejarah, ia tidak hanya melihat sisi lain Indonesia, tetapi juga merasakan kedekatan yang semakin terjalin dengan teman-temannya. Bahkan pengalaman ke rumah hantu yang semula menegangkan justru berubah menjadi cerita penuh tawa. Dalam momen sederhana seperti itu, perbedaan budaya terasa memudar, digantikan oleh kebersamaan.
Perjalanannya tidak hanya tentang mengenal budaya, tetapi juga memahami isu lingkungan secara lebih nyata. Saat mengunjungi PT Polindo Utama, ia mendapatkan gambaran langsung mengenai sistem daur ulang di Indonesia. Pertemuannya dengan seorang pengajar di sana memperluas wawasannya tentang tantangan serta upaya pelestarian lingkungan di tingkat lokal. Hal yang sebelumnya hanya ia pahami secara umum kini terasa lebih konkret.
Di balik seluruh pengalaman tersebut, perubahan paling signifikan terjadi dalam dirinya keberanian untuk berbicara. Sebelumnya, ia merasa kurang percaya diri saat harus berbicara di depan umum. Rasa malu sering kali menghalanginya untuk berpendapat. Namun, lingkungan yang suportif mendorongnya untuk mulai berpartisipasi. Ia perlahan berani menjawab pertanyaan, terlibat dalam diskusi, dan aktif berinteraksi, terutama dengan relawan lokal Indonesia.
Menariknya, ia menyadari bahwa banyak orang di sekitarnya memiliki perasaan yang sama. Hal ini justru memotivasinya untuk mengambil langkah lebih dulu. Perubahan pun terjadi secara bertahap dan alami. Kini, ia tidak lagi menganggap public speaking sebagai sesuatu yang menakutkan, melainkan sebagai kemampuan yang bisa terus diasah. Bagi Amaya, ini adalah pencapaian yang sangat berarti.
Lebih dari itu, pengalaman ini juga membentuk cara pandangnya terhadap kerja sama tim. Ia belajar berkolaborasi dengan orang-orang dari latar belakang yang beragam, beradaptasi dengan kebiasaan baru, serta menghargai sudut pandang yang berbeda. Setiap interaksi menjadi proses pembelajaran tentang empati, toleransi, dan pentingnya saling menghormati.
Perjalanan ini semakin bermakna karena menjadi pengalaman pertamanya ke luar negeri dalam konteks pendidikan. Program ini tidak lagi sekadar kegiatan sukarelawan, melainkan pencapaian pribadi yang berperan dalam mempersiapkan masa depannya, termasuk dalam menghadapi dunia profesional. Pengalaman internasional ini memberinya kepercayaan diri sekaligus nilai tambah untuk langkah selanjutnya.

Di akhir perjalanannya, Amaya tidak hanya membawa kenangan, tetapi juga pelajaran penting. Ia memahami bahwa berada di negara lain menuntut sikap yang bijak menghormati budaya setempat, menjaga diri, serta aktif berkontribusi dalam setiap kegiatan. Baginya, memperlakukan negara yang dikunjungi dengan rasa hormat layaknya negara sendiri adalah kunci untuk memperoleh pengalaman yang bermakna.
Salah satu momen yang memperkuat pemahaman tersebut adalah saat ia mengikuti acara Global Village, sebuah perayaan keberagaman budaya. Di sana, ia melihat bagaimana perbedaan dapat dirayakan dalam harmoni. Pengalaman ini menjadi gambaran utuh dari perjalanannya: pertemuan antara identitas, pembelajaran, dan penghargaan terhadap keberagaman.
Kini, ketika merefleksikan seluruh pengalamannya, Amaya menyadari bahwa semuanya berawal dari satu keputusan sederhana mencoba. Dari sesuatu yang tidak direncanakan, ia menemukan perjalanan yang membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih percaya diri, terbuka, dan siap menghadapi masa depan.
Kisah Amaya mengingatkan bahwa langkah kecil dapat membawa perubahan besar. Dalam dunia yang semakin terhubung, keberanian untuk keluar dari zona nyaman bukan hanya membuka peluang baru, tetapi juga membawa seseorang lebih dekat pada versi terbaik dirinya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


