Ketupat Kandangan, makanan khas Banjar yang seolah sudah menjadi "magnet rasa" bagi siapa pun yang melintas di Kalimantan Selatan. Kuliner ini berasal dari warisan kuliner 136 tahun yang lalu, tepatnya dari tahun 1890.
Bukan sekadar makanan biasa, ketupat kandangan adalah cerita panjang tentang warisan, identitas, dan cinta masyarakat Banjar terhadap kuliner leluhur mereka.
Apa Itu Ketupat Kandangan?
Ketupat Kandangan adalah salah satu makanan Banjar yang ikonik dari Kalimantan Selatan. Berbeda dari ketupat pada umumnya, sajian ini menggunakan kuah santan yang kaya rempah sebagai dasarnya bukan seperti kuah opor maupun kuah gulai biasa.
Yang membuat ketupak Kandangan semakin istimewa adalah pilihan lauknya. Lauk utamanya adalah iwak haruan (ikan gabus) yang telah dibakar hingga kecokelatan, ditambah hintalu jaruk (telur asin) sebagai pelengkap. Ikan gabus bukan pilihan sembarangan, ikan ini dikenal kaya akan albumin dan protein tinggi, menjadikannya bukan hanya lezat, tetapi juga menyehatkan.
Proses pembuatan ketupat ini juga tidak boleh dilakukan sembarangan. Semua tahap awal hingga akhir mulai dari menganyam ketupat, membakar ikan haruan, membuat kuah santan dengan rempah-rempah, hingga membuat sambal, semuanya membutuhkan waktu, ketelatenan, dan keterampilan yang diajarkan turun-temurun.
Di Mana Ketupat Kandangan Berasal?
Ketupat Kandangan lahir dan besar di Kandangan, ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan, seperti namanya. Kota ini, yang juga dikenal sebagai Kota Dodol, berjarak sekitar 135 kilometer dari ibu kota provinsi, Banjarmasin.
Makanan Banjar ini berasal dari Kandangan dan telah tersebar ke banyak tempat. Sekarang, warung ketupat Kandangan dapat ditemukan di mana-mana di Kalimantan Selatan, bahkan di luar provinsi seperti Kalimantan Timur dan bahkan di DKI Jakarta.
Kota Kandangan bahkan membangun Tugu Monumen Ketupat Kandangan di Jalan Brigjen TNI HM Yusi untuk menunjukkan betapa pentingnya kuliner bagi identitas daerah.
Siapa yang Melestarikan Warisan Kuliner Ini?
Seorang pemuda dari Banjarmasin bernama Husni Nafarin gigih mempertahankan warisan ini di tengah gempuran makanan cepat saji dan tren kuliner modern.
Husni mendapatkan perusahaan ketupat Kandangan dari orang tuanya. Dia menganggap bisnis ini lebih dari itu; mereka telah mempertahankan resep ini selama lebih dari 136 tahun sejak tahun 1890.
Husni tidak hanya mempertahankan gaya lama, tetapi juga berubah untuk mengikuti perkembangan. Dia mempromosikan Ketupat Kandangan di seluruh Pulau Kalimantan, bahkan di luar negeri, dengan menggunakan media sosial, menawarkan kemasan yang menarik dan bersih, dan menggunakan GrabFood untuk mengirimkan makanan.
Kapan Ketupat Kandangan Paling Dirindukan?
Ketupat Kandangan menjadi sangat penting selama Lebaran. Warung Ketupat Kandangan, yang terletak di Jalan A. Yani, Kandangan, hampir selalu digunakan oleh pemudik yang mengunjungi Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, dan daerah sekitarnya setiap tahun.
Rasa rindu terhadap bentuk asli Ketupat Kandangan meningkat setelah sebulan berpuasa selama bulan Ramadan. Pada hari Lebaran Idulfitri, Ketupat Kandangan penuh dengan pengunjung di warung-warung yang sudah terkenal, beberapa di antaranya langganan resmi Pemerintah Kabupaten HSS, hingga antrean mobil mengular di pinggir jalan.
Selain makanan, ketupat kandangan adalah tradisi pulang kampung yang membawa semangat dan kenangan. Ketupat Kandangan bukan hanya makanan ia adalah pembawa pesan bagi para pemudik atau masyarakat asli terhadap cita rasa yang membawa kehangatan.
Mengapa Ketupat Kandangan Tetap Bertahan?
Banyak makanan tradisional akan berhenti bersaing dengan makanan kontemporer. Apa yang menyebabkan rahasia Ketupat Kandangan tetap hidup dan bahkan menjadi lebih dikenal?
Tiga kekuatan utama yang memberikan jawaban adalah rasa haruan yang unik, nilai gizi yang tinggi dari ikan haruan yang kaya albumin, dan adaptasi cerdas penjualnya terhadap perubahan zaman.
Terdapat fakta menarik dari pemilik Husni Nafarin menunjukkan bahwa mayoritas pelanggannya merupakan remaja berusia 20 tahun ke atas; sisanya berusia di atas 45 tahun, dan ada juga pengunjung di bawah 20 tahun. Ini menunjukkan bahwa Ketupat Kandangan disukai oleh orang tua dan generasi z, serta generasi milenial yang suka makan.
Bagaimana Cara Menikmati Ketupat Kandangan Hari Ini?
Menikmati Ketupat Kandangan akan menjadi lebih mudah di tahun 2026. Merasakannya tidak perlu lagi menempuh jarak ratusan kilometer ke Kandangan. Sepiring Ketupat Kandangan hangat bisa tiba langsung di meja makan Kawan GNFI berkat layanan online yang tersedia di berbagai platform.
Namun, akses langsung ke Jalan A. Yani, Kandangan tetaplah opsi terbaik jika Kawan GNFI ingin menikmati kuah santan yang mengepul dengan udara khas Kalimantan Selatan dan menikmati suasana kota dodol Kandangan.
Ketupat Kandangan adalah identitas, kebanggaan, dan simbol ketangguhan budaya Kalimantan Selatan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Bukan hanya makanan khas Banjar. Di tengah perubahan yang begitu cepat, cerita Husni Nafarin dan ribuan penjual Ketupat Kandangan lainnya mengajarkan satu hal penting mengenai warisan kuliner yang dijaga dengan hati tidak akan pernah benar-benar hilang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


