tidak hanya beras ketahanan pangan butuh diversifikasi - News | Good News From Indonesia 2026

Tidak Hanya Beras, Ketahanan Pangan Butuh Diversifikasi

Tidak Hanya Beras, Ketahanan Pangan Butuh Diversifikasi
images info

Foto oleh micka randrianjafisolo dari Pexels


Ketika berbicara tentang pangan, sebagian besar masyarakat Indonesia hampir selalu membayangkan satu hal, yaitu beras. Ungkapan "belum makan kalau belum makan nasi" masih melekat kuat dalam kehidupan sehari-hari. Nasi bukan sekadar makanan pokok, melainkan juga bagian dari budaya konsumsi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Akibatnya, beras menjadi komoditas yang memiliki posisi dominan dalam sistem pangan nasional.

Ketergantungan ini terlihat dari pola konsumsi masyarakat Indonesia. Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (2024), konsumsi beras masyarakat Indonesia mencapai sekitar 79 kilogram per kapita per tahun. Meskipun menunjukkan tren penurunan dibanding beberapa tahun sebelumnya, angka tersebut tetap menempatkan beras sebagai sumber karbohidrat utama masyarakat.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahwa sebagian besar kebutuhan energi dari kelompok pangan pokok masih berasal dari beras. Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem pangan Indonesia masih bertumpu pada satu komoditas utama.

Di satu sisi, beras memang memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional. Namun, ketergantungan yang terlalu besar terhadap satu jenis pangan menyimpan berbagai risiko. Menurut Food and Agriculture Organization (FAO, 2024), sistem pangan yang bergantung pada sedikit komoditas cenderung lebih rentan terhadap gangguan produksi, perubahan iklim, bencana alam, maupun fluktuasi harga. Ketika produksi salah satu komoditas terganggu, dampaknya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat dalam bentuk kenaikan harga dan berkurangnya akses terhadap pangan.

baca juga

Risiko tersebut semakin relevan dalam situasi saat ini. Perubahan iklim menyebabkan pola musim tanam menjadi semakin sulit diprediksi. Kekeringan berkepanjangan maupun curah hujan yang tinggi dapat memengaruhi produktivitas tanaman pangan. Selain itu, alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan industri, perumahan, dan infrastruktur terus terjadi di berbagai daerah. Berdasarkan data BPS (2025), luas lahan pertanian pangan di beberapa wilayah mengalami tekanan akibat perubahan penggunaan lahan. Ketika produksi padi menurun akibat faktor-faktor tersebut, ketahanan pangan nasional ikut menghadapi tantangan.

Di tengah kondisi tersebut, Indonesia sebenarnya memiliki kekayaan pangan lokal yang melimpah. Singkong, jagung, sagu, talas, sorgum, sukun, pisang, serta berbagai jenis umbi-umbian telah lama menjadi bagian dari budaya pangan masyarakat Nusantara. Sebelum beras mendominasi pola konsumsi nasional, banyak daerah mengandalkan sumber karbohidrat yang berbeda sesuai kondisi lingkungan dan budaya setempat.

Menurut Kementerian Pertanian (2024), komoditas seperti singkong, sagu, jagung, dan sorgum memiliki potensi besar untuk mendukung ketahanan pangan karena mampu tumbuh pada berbagai kondisi agroekologi. Singkong, misalnya, dapat berkembang pada lahan marginal dengan kebutuhan air yang relatif rendah. Sorgum dikenal lebih tahan terhadap kekeringan dibandingkan padi. Sementara itu, sagu mampu tumbuh pada lahan rawa yang tidak cocok digunakan untuk budidaya padi. Keunggulan tersebut menjadikan pangan lokal sebagai alternatif strategis dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Potensi pangan lokal juga didukung oleh berbagai hasil penelitian terbaru. Penelitian yang dipublikasikan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada tahun 2025 menunjukkan bahwa sorgum memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap kondisi lahan kering serta berpotensi menjadi sumber pangan alternatif yang mendukung ketahanan pangan nasional. Berbagai penelitian lain juga menunjukkan bahwa singkong, talas, dan sukun memiliki kandungan karbohidrat yang dapat memenuhi kebutuhan energi masyarakat apabila diolah secara tepat dan diterima oleh konsumen.

Upaya diversifikasi pangan sebenarnya mulai mendapat perhatian lebih besar dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Pangan Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal. Regulasi tersebut menegaskan bahwa pembangunan ketahanan pangan nasional perlu dilakukan melalui pemanfaatan berbagai sumber pangan lokal yang tersedia di setiap daerah. Kebijakan ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya diukur dari ketersediaan beras, tetapi juga dari keberagaman sumber pangan yang dapat diakses masyarakat.

Beberapa daerah telah memberikan contoh nyata keberhasilan pengembangan pangan lokal. Masyarakat Papua masih mempertahankan sagu sebagai salah satu sumber pangan utama yang memiliki nilai budaya dan ekonomi. Di Nusa Tenggara Timur, pengembangan sorgum mulai diperluas karena tanaman ini mampu tumbuh pada kondisi lahan kering yang sering menghadapi keterbatasan air. Sejumlah kelompok tani dan komunitas pangan lokal di berbagai daerah juga mulai mengembangkan produk berbasis singkong, talas, maupun sukun sebagai alternatif pangan sekaligus sumber pendapatan.

Meski memiliki potensi besar, diversifikasi pangan masih menghadapi berbagai tantangan. Budaya konsumsi masyarakat menjadi salah satu hambatan utama. Banyak orang masih menganggap bahwa makan belum lengkap tanpa nasi. Selain itu, produk pangan lokal sering kali kalah bersaing dari segi pemasaran, kemasan, dan citra produk dibandingkan pangan berbasis beras atau produk impor. Di tingkat kebijakan, pengembangan pangan lokal juga memerlukan dukungan yang konsisten mulai dari produksi, distribusi, hingga pemasaran.

baca juga

Dalam konteks ini, peran generasi muda menjadi semakin penting. Anak muda memiliki kemampuan untuk memperkenalkan pangan lokal melalui inovasi produk, media digital, maupun kegiatan kewirausahaan. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui penelitian dan pengembangan teknologi pengolahan pangan lokal. Industri pangan dapat menciptakan produk yang lebih praktis dan sesuai dengan preferensi konsumen modern. Pemerintah pun juga memiliki peran dalam menciptakan kebijakan yang mendorong produksi dan konsumsi pangan lokal secara berkelanjutan.

Pada akhirnya, ketahanan pangan tidak hanya berarti tersedianya beras dalam jumlah yang cukup. Ketahanan pangan juga mencakup kemampuan masyarakat untuk memperoleh pangan yang beragam, bergizi, aman, terjangkau, dan berkelanjutan. Ketika sumber pangan semakin beragam, risiko ketergantungan terhadap satu komoditas dapat dikurangi dan kemampuan masyarakat menghadapi berbagai tantangan pangan menjadi lebih kuat.

Indonesia memiliki modal besar untuk mewujudkan hal tersebut. Kekayaan pangan lokal yang tersebar dari Sabang sampai Merauke merupakan aset yang tidak dimiliki banyak negara. Sudah saatnya singkong, sagu, jagung, sorgum, talas, sukun, pisang, dan berbagai umbi-umbian tidak lagi dipandang sebagai pangan pelengkap atau pilihan kedua. Pangan lokal perlu ditempatkan sebagai bagian penting dari masa depan ketahanan pangan Indonesia. Semakin beragam pangan yang kita konsumsi, semakin kokoh fondasi ketahanan pangan yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

TP
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.