ketika scroll menjadi tempat melarikan diri - News | Good News From Indonesia 2026

Ketika Scroll jadi Tempat Melarikan Diri

Ketika Scroll jadi Tempat Melarikan Diri
images info

Seseorang sedang scrolling | Foto: (Unsplash | Shane)


Awalnya kita mungkin hanya ingin membuka sosial media sebentar untuk refreshing. Namun tanpa sadar, waktu terus berjalan, sementara jari masih sibuk menggulir layar tanpa tujuan yang jelas.

Setelah satu konten lewat, lalu muncul lagi konten lainnya sampai waktu berjam-jam terasa hilang begitu saja. Sampai akhirnya kita tersadar, berapa lama yang sudah dilewatkan?

Momen seperti itu mungkin sudah terasa biasa bagi banyak remaja saat ini. Media sosial perlahan menjadi tempat untuk mengisi kekosongan, rasa bosan, atau sekadar pelarian diri dari pikiran yang terasa ramai. Karena itu, scrolling pun jadi hal yang tanpa sadar terus dilakukan untuk mengalihkan semuanya.

Kebiasaan ini dikenal dengan istilah doomscrolling, yaitu kebiasaan menggulir media sosial secara terus-menerus tanpa benar-benar memiliki tujuan yang jelas.

Awalnya mungkin hanya ingin melihat satu konten, tetapi algoritma media sosial seolah selalu punya cara untuk membuat seseorang tetap di depan layar dan tanpa disadari. Scrolling yang awalnya hanya ingin dilakukan beberapa menit perlahan berubah jadi berjam-jam.

Yang membuat doomscrolling terasa melelahkan bukan cuma soal waktu yang terbuang, tetapi juga perasaan kosong setelahnya. Kita terus melihat banyak hal dalam waktu singkat, tetapi sering kali tidak benar-benar merasa puas oleh apapun.

baca juga

Mungkin jawabannya bukan karena semua konten di media sosial menarik, tetapi karena scrolling memberi distraksi tanpa henti.

Saat media sosial terus menampilkan berbagai konten secara cepat, seseorang tidak perlu benar-benar berhadapan dengan pikirannya sendiri. Rasa bosan, overthinking, atau kesepian bisa terasa sedikit menghilang ketika perhatian terus dialihkan dengan scrolling.

Tanpa sadar, media sosial akhirnya bukan lagi sekadar tempat mencari hiburan, tetapi juga menjadi ruang pelarian yang terasa paling mudah dijangkau. Ketika merasa lelah dengan pikiran yang terlalu ramai, membuka sosial media sering terasa seperti cara tercepat untuk kabur sejenak dari semuanya.

Namun sayangnya, pelarian itu sering kali hanya memberi rasa tenang sementara. Setelah layar dimatikan, rasa lelah atau kosong tadi sering tetap ada. Bahkan terkadang muncul perasaan bersalah karena waktu yang habis begitu saja tanpa benar-benar membuat diri merasa lebih baik.

Di sisi lain, terlalu banyak menerima informasi dalam waktu singkat juga membuat pikiran terasa penuh. Otak dipaksa terus menerima video, berita, hiburan, tren, dan berbagai kehidupan orang lain tanpa jeda.

Akibatnya, seseorang bisa merasa cepat lelah, sulit fokus, bahkan kesulitan menikmati momen yang sebenarnya sederhana di kehidupan nyata karena perhatian sudah terbiasa terus berpindah dengan cepat.

baca juga

Fenomena ini menunjukkan bahwa doomscrolling bukan sekadar kebiasaan “bermain handphone terlalu lama”. Ada banyak emosi yang sering tersembunyi di baliknya. Terkadang seseorang scrolling bukan karena benar-benar ingin melihat konten, tetapi karena tidak tahu harus melarikan diri ke mana selain scrolling media sosial.

Karena itu, mungkin yang perlu dipahami bukan sekadar bagaimana cara mengurangi waktu bermain media sosial, tetapi juga alasan mengapa seseorang terus ingin larut di dalamnya.

Bisa jadi, sulitnya berhenti scrolling bukan semata karena kontennya menarik, melainkan karena media sosial terasa seperti tempat paling mudah untuk melarikan diri dari penatnya kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, doomscrolling membuat seseorang terus terhubung dengan berbagai konten di media sosial, tetapi perlahan kehilangan kedekatan dengan dirinya sendiri.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

NC
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.