mempreteli tren healing dari sekadar ngopi estetik menuju pemulihan emosi yang hakiki - News | Good News From Indonesia 2026

Mempreteli Tren Healing: Dari Sekadar Ngopi Estetik Menuju Pemulihan Emosi yang Hakiki

Mempreteli Tren Healing: Dari Sekadar Ngopi Estetik Menuju Pemulihan Emosi yang Hakiki
images info

Foto oleh Mor Shani di Unsplash


Pernahkah Kawan GNFI merasa begitu penat karena tumpukan tugas atau tekanan pekerjaan, lalu secara refleks mengeluh, “Duh, butuh healing banget nih?"

Tak lama setelah itu, layar ponsel kita biasanya langsung dibanjiri rekomendasi hotel bernuansa alam untuk staycation, kafe tersembunyi dengan kopi susu literan yang estetik, atau tiket konser musisi indie yang siap menemani kita menangis berjamaah. Kita pun tergiur, rela merogoh kocek cukup dalam, lalu mengambil foto terbaik untuk diunggah ke media sosial lengkap dengan caption andalan: “Healing time.”

Namun, mari sejenak jujur pada diri sendiri. Ketika ritual "penyembuhan" itu selesai dan kita harus kembali menghadap laptop atau meja kerja, apakah rasa cemas dan penat itu benar-benar menguap? Atau jangan-jangan, yang tersisa justru kepanikan baru karena melihat saldo rekening yang mendadak sekarat?

Kalau Kawan GNFI juga merasakannya, tenang, kamu tidak sendirian. Fenomena ini memicu sebuah refleksi besar: apakah kita memang sedang memulihkan jiwa, atau justru terjebak dalam simplifikasi makna healing?

baca juga

Ketika "Penyembuhan" Menjadi Komoditas Jualan

Secara psikologis, healing (atau self-healing) sebetulnya bukan istilah main-main. Ini adalah sebuah proses aktif untuk menyembuhkan luka batin, mengurai emosi negatif, dan berdamai dengan trauma masa lalu. Sebuah perjalanan personal yang menuntut kita untuk berkaca dan melihat jauh ke dalam diri sendiri.

Sayangnya, di era algoritma media sosial yang serba visual, makna yang begitu mendalam ini mengalami pergeseran yang luar biasa. Healing dikemas ulang sedemikian rupa agar terlihat fotogenik di layar kaca. Menenangkan diri seolah baru dianggap sah kalau punya latar belakang pemandangan yang indah atau secangkir kopi dengan seni busa (latte art) yang rapi.

Kenyataan ini pun terekam dalam data. Sebuah studi sosiologi dari Universitas Lambung Mangkurat yang terbit di Huma: Jurnal Sosiologi (2024) menemukan bahwa label self-healing di kalangan anak muda kini rentan dikomersialkan. Istilah ini bergeser fungsi menjadi pembenaran baru untuk berperilaku konsumtif demi mendapat kepuasan emosional sesaat. Kita telanjur percaya pada narasi linimasa bahwa ketenangan jiwa bisa dibeli lewat paket wisata atau barang-barang estetik.

Terjebak Pelarian Sementara yang Menipu

Nongkrong di kafe yang nyaman atau pergi berlibur sejenak tentu sama sekali tidak salah. Aktivitas itu sangat bagus untuk refreshing alias menyegarkan pikiran dari kejenuhan rutinitas harian. Namun, menganggap refreshing sama dengan healing adalah sebuah kekeliruan yang fatal.

Jurnal ilmiah internasional Cureus (2024) sempat menyoroti bahaya glorifikasi dan romantisisme isu kesehatan mental di media sosial. Ketika istilah psikologis diturunkan kelasnya sekadar menjadi tren visual, kita justru jadi abai pada esensi pemulihan yang sesungguhnya.

Dampaknya, kita terperangkap dalam apa yang disebut psikolog sebagai maladaptive coping atau mekanisme koping yang keliru. Sebuah penelitian dalam Al-Irsyad: Jurnal Bimbingan Konseling Islam (2025) menegaskan bahwa bahaya terbesar dari tren healing estetik adalah fungsinya yang hanya menjadi tameng pelarian.

Saat kita stres karena konflik relasi atau cemas memikirkan masa depan, kita melarikan diri ke hotel mewah. Kita memindahkan tubuh ke tempat yang nyaman, tetapi isi kepala dan batin kita tetap membawa beban masalah yang sama beratnya. Begitu liburan usai, akar masalahnya belum tersentuh sedikit pun. Stres itu tidak hilang, ia hanya menumpuk diam-diam dan siap meledak di kemudian hari.

Gelombang Kesadaran Baru Anak Muda

Menariknya, selalu ada kabar baik yang bisa kita rayakan dari generasi muda hari ini. Perlahan tapi pasti, mulai muncul gelombang kesadaran kritis di kalangan Gen Z dan Milenial untuk merebut kembali makna healing yang sebenarnya.

Anak muda mulai sadar bahwa mengganti latar belakang pemandangan tidak akan otomatis menyembuhkan luka batin selama cara berpikir kita belum diubah. Dalam ranah psikologi, proses membenahi isi kepala ini dikenal sebagai cognitive reappraisal yaitu menata ulang sudut pandang dan mengelola emosi secara sadar terhadap suatu masalah.

Kini, tren pemulihan di kalangan anak muda mulai bergeser ke aktivitas yang lebih substantif, murah, bahkan gratis. Kita bisa melihat masifnya gerakan detoks digital (puasa media sosial) untuk meredam rasa cemas akibat ketakutan akan ketertinggalan (FOMO). Aktivitas seperti journaling (menulis harian untuk memetakan emosi), meditasi mandiri, hingga mendengarkan podcast psikologi berbasis sains kini jauh lebih diminati.

Bahkan, ada sebuah pergeseran stigma yang sangat positif: datang ke psikolog atau konselor profesional tidak lagi dianggap tabu atau memalukan. Bagi anak muda modern, berani mengetuk pintu ruang konseling demi mengupas akar trauma adalah bentuk healing yang paling keren dan pemberani.

baca juga

Menuju Pemulihan yang Merdeka

Kawan GNFI, silakan tetap memesan kopi estetik favoritmu sore ini, atau merencanakan liburan akhir pekan nanti. Anggaplah itu sebagai bentuk perayaan kecil dan rekreasi atas segala kerja keras yang sudah kamu lalui.

Namun, mari kita sepakat untuk tidak lagi menjadikan aktivitas konsumtif tersebut sebagai "obat penenang" atas luka emosional yang sebetulnya butuh penanganan serius. Sebab, healing yang hakiki tidak pernah butuh kamera yang menyala, validasi berupa tombol suka di Instagram, atau dompet yang terkuras habis.

Healing sejati selalu dimulai dalam keheningan, saat kita berani duduk bersama diri sendiri, mengenali emosi yang hadir, memaafkan ketidaksempurnaan, dan melangkah maju dengan jiwa yang lebih tangguh. Mari kita kembalikan makna healing ke tempat yang semestinya: sebuah pemulihan emosi yang jujur, mendalam, dan memerdekakan jiwa.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KW
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.