motif batik parang klitik makna dan berasal dari - News | Good News From Indonesia 2026

Menelusuri Makna Motif Batik Parang Klitik, Asal, Sejarah, Hingga Cara Merawatnya Agar Tetap Lestari

Menelusuri Makna Motif Batik Parang Klitik, Asal, Sejarah, Hingga Cara Merawatnya Agar Tetap Lestari
images info

Menelusuri Makna Motif Batik Parang Klitik, Asal, Sejarah, Hingga Cara Merawatnya Agar Tetap Lestari | Wikimedia Commons @Nationaal Museum van Wereld


Tidak lengkap rasanya jika tidak membahas motif batik Parang Klitik saat membahas keindahan ragam hias Nusantara. Bagi Kawan yang penasaran batik Parang dari mana, corak batik ini lahir dari pusat peradaban Kerajaan Mataram yang masih lestari hingga hari ini.

Batik Parang sendiri memang memiliki beragam jenis, salah satunya motif batik Parang Klitik yang karena makna filosofinya yang sakral menjadi salah satu batik larangan di wilayah Keraton Yogyakarta.

Kawan GNFI, mari kita telusuri bersama jejak peninggalan kebudayaan ini, mulai dari makna filosofi, asal-usul sejarah, hingga panduan cara merawat batik Parang Klitik agar tidak mudah luntur dan rusak. Artikel ini sangat cocok dijadikan referensi tugas akademis, mata pelajaran seni budaya, maupun bahasa Jawa. Jadi, simak sampai habis, ya!

baca juga

Apa itu Batik Parang Klitik?

Secara visual, batik Parang Klitik adalah ragam hias yang menampilkan deretan garis diagonal parang yang berukuran lebih mungil dan rapat dibandingkan dengan jenis parang lainnya.

Pilihan warnanya kini bervariasi, tapi versi warna rona soga atau cokelat klasik, berpadu dengan aksen putih bersih dan hitam legam yang elegan cenderung lebih umum ditemui.

Dikutip dari laman resmi Museum Sonobudoyo, kata "Parang" berasal dari bahasa Jawa yang berarti "pedang". Secara umum, motif batik Parang melambangkan kekuatan, keberanian, serta semangat juang pada diri orang yang mengenakannya.

Karena ukuran coraknya yang kecil dan rapat, batik Parang Klitik ini sangat pas dan cocok bagi perempuan serta orang-orang berpostur badan kecil yang ingin menampilkan citra profesional yang halus.

Makna Motif Batik Parang

Gambar Motif Batik Parang dan Maknanya, Si Batik Larangan di Lingkungan Keraton! | Wikimedia Commons @Alteaven
info gambar

Asal dan Makna Motif Batik Parang, Batik Larangan di Lingkungan Keraton | Wikimedia Commons @Alteaven


Seperti yang sudah disinggung, batik Parang melambangkan kekuatan, keberanian, semangat juang pada diri si pemakainya.

Namun, berbeda dengan nuansa itu, makna batik Parang Klitik yang halus dan kecil melambangkan perilaku yang halus, lemah lembut, dan bijaksana. Klitik dapat dimaknai "cilik" dalam bahasa Jawa yang jika diterjemahkan berarti kecil, karena ukuran motif parang yang kecil.

Batik Parang Klitik Berasal Dari Mana?

Banyak Kawan GNFI yang mungkin kebingungan batik Parang Klitik berasal dari daerah mana, mengingat ada yang berpendapat batik ini berasal dari Jogja dan ada pula yang menyebut Solo.

Barangkali hal ini disebabkan oleh akar batik Parang sendiri yang bersumber langsung dari Kerajaan Mataram yang memang sekarang terpecah menjadi dua pusat kebudayaan besar, yakni Keraton Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Namun, secara spesifik telah tertera secara resmi dalam database laman Dinas Kebudayaan DIY bahwa karya adiluhung Batik Parang Klitik berasal dari Yogyakarta.

baca juga

Sejarah Motif Batik Parang, Bagaimana Asal-Usulnya?

Membahas sejarah panjangnya, platform edukasi Google Arts and Culture menyebut motif batik Parang Klitik merupakan perkembangan dari corak batik Parang tradisional.

Menurut sejarah, motif batik Parang lahir pada masa Kesultanan Mataram sekitar abad ke-16. Pada masa itu, batik yang melambangkan keberanian dan kekuasaan ini hanya boleh secara eksklusif digunakan oleh anggota keluarga kerajaan sebagai simbol status mereka yang tinggi di masyarakat.

Kawan GNFI perlu tahu bahwa Batik Parang tidak hanya dianggap sebagai pakaian, tetapi juga sebagai lambang sosial yang menunjukkan kedudukan seseorang dalam masyarakat. Motif ini biasanya digunakan pada busana resmi seperti kebaya dan kain panjang seremonial.

Mengenai penamaannya sendiri, laman resmi Kraton Jogja membagikan dua referensi berbeda. Salah satunya menyebutkan bahwa nama Parang tercipta dari kata "karang", karena Panembahan Senopati yang membuat mahakarya ini terinspirasi oleh deru ombak Laut Selatan yang menghantam tebing karang.

Terdapat pula versi sejarah lain yang mengatakan bahwa motif batik Parang tersebut sering dipakai oleh prajurit karena menurut kepercayaan budaya masa lampau, coraknya bisa menggandakan kekuatan fisik si pemakai.

Di lingkungan Keraton Yogyakarta, aturan pemakaiannya sangat ketat. Sampai saat ini, batik motif Parang tidak boleh sembarangan digunakan. Hanya keluarga kerajaan dengan pangkat penting yang boleh mengenakannya.

Batik Parang Klitik atau Parang Rusak Klitik hanya boleh dipakai oleh keluarga kerajaan seperti selir raja atau selir putra mahkota. Dengan aturan rincinya, Parang Klithik ukuran 4 cm ke bawah dipakai oleh putra ampeyan Dalem dan garwa ampeyan atau selir putra mahkota, cucu, cicit maupun buyut, canggah, dan wareng.

Sementara itu, Kampuh Parang Rusak Klithik secara eksklusif dipakai untuk istri dan garwa ampeyan putra mahkota.

baca juga

Cara Merawat Batik Parang Klitik Agar Awet dan Tidak Luntur

Cara Merawat Batik Agar Tidak Rusak atau Mudah Luntur, Jangan Langsung Disetrika! | Unsplash @Planetcare
info gambar

Cara Merawat Batik Agar Tidak Rusak atau Mudah Luntur, Jangan Langsung Disetrika! | Unsplash @Planetcare


Berikut tips cara merawat batik Parang Klitik agar awet, tidak luntur maupun rusak:

  • Pisahkan saat mencuci: Selalu pisahkan batik dari pakaian lain yang mudah luntur atau baju yang baru dibeli.

  • Atur suhu air: Gunakan air biasa dan jangan terlalu panas agar serat kain tidak rusak atau menciut.

  • Jemur di tempat teduh: Cukup diangin-anginkan di tempat yang teduh dan hindari sinar matahari langsung agar warnanya awet.

  • Utamakan cuci manual: Lebih bagus dikucek lembut memakai tangan. Jika terpaksa memakai mesin cuci, pastikan untuk mengubah pengaturan ke mode paling lembut.

  • Jangan rendam terlalu lama: Proses merendam yang terlalu lama bisa memicu lunturnya warna asli pada serat kain.

  • Pilih sabun yang tepat: Gunakan deterjen berbahan lembut atau cairan khusus pencuci batik (lerak).

  • Gunakan kain pelapis saat menyetrika: Lapisi batik dengan selembar kain tipis di atasnya saat menyetrika agar tidak bersentuhan langsung dengan panas.

  • Jaga suhu setrika: Gunakan suhu rendah dan hanya naikkan sedikit jika ada bagian kain yang benar-benar kusut.

  • Balik baju saat menyetrika: Selalu posisikan bagian dalam baju di luar sewaktu disetrika agar gambar batik Parang Klitik tidak cepat pudar.

Sekian artikel berjudul "Menelusuri Makna Motif Batik Parang Klitik, Asal, Sejarah, Hingga Cara Merawatnya Agar Tetap Lestari".

Semoga artikel ini membantu Kawan untuk mengenali motif batik Parang Klitik lebih dalam, mengetahui dari mana asalnya, dan bisa merawatnya agar tetap lestari!

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Allicia Dhea lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Allicia Dhea.

AD
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.