inovatif mahasiswa dan dosen um kembangkan grow instructional model berbasis socio scientific issues ciptakan pembelajaran kimia yang lebih bermakna - News | Good News From Indonesia 2026

INOVATIF! Mahasiswa dan Dosen UM Kembangkan GROW Instructional Model Berbasis Socio-Scientific Issues, Ciptakan Pembelajaran Kimia yang Lebih Bermakna

INOVATIF! Mahasiswa dan Dosen UM Kembangkan GROW Instructional Model Berbasis Socio-Scientific Issues, Ciptakan Pembelajaran Kimia yang Lebih Bermakna
images info

INOVATIF! Mahasiswa dan Dosen UM Kembangkan GROW Instructional Model


Universitas Negeri Malang (UM) kembali menunjukkan komitmennya dalam menghasilkan inovasi di bidang pendidikan melalui pengembangan GROW (Gather–Reframe–Outline–Work) Instructional Model berbasis Socio-Scientific Issues (SSI) yang terintegrasi dengan pendekatan Flipped Classroom. Model pembelajaran ini dikembangkan untuk menciptakan pengalaman belajar kimia yang lebih bermakna sekaligus meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif mahasiswa pada mata kuliah Dasar Kimia Analitik.

Penelitian ini didukung oleh pendanaan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) di bawah naungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Program Penelitian Tahun Anggaran 2026. Tim peneliti dipimpin oleh Prof. Dr. Hayuni Retno Widarti, M.Si. dengan anggota Dr. Munzil, M.Si., Prof. Dr. Suharti, M.Si., Nur Indah Agustina, M.Pd. sebagai mahasiswa peneliti, serta Prof. Dr. Memet Karakus dari Turki sebagai mitra kolaborasi internasional. Kolaborasi tersebut menjadi salah satu upaya untuk memperkuat kualitas pengembangan model pembelajaran melalui jejaring akademik lintas negara.

Menjawab Tantangan Pembelajaran Kimia Abad ke-21

Pengembangan GROW Instructional Model dilatarbelakangi oleh kebutuhan pembelajaran kimia yang tidak hanya berfokus pada penguasaan konsep, tetapi juga mampu membangun keterampilan berpikir kritis, kreatif, komunikasi ilmiah, dan kemampuan memecahkan masalah. Di tengah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, mahasiswa dituntut mampu menghubungkan konsep-konsep kimia dengan berbagai persoalan nyata yang berkembang di masyarakat sehingga pembelajaran menjadi lebih relevan dan bermakna.

Namun demikian, proses pembelajaran kimia di perguruan tinggi masih menghadapi berbagai tantangan. Aktivitas perkuliahan sering kali masih berpusat pada dosen dengan penekanan pada penyampaian teori dan penyelesaian soal, sehingga kesempatan mahasiswa untuk menganalisis isu-isu aktual serta mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS) belum optimal. Kondisi tersebut mendorong perlunya inovasi model pembelajaran yang lebih kontekstual, partisipatif, dan berorientasi pada pengembangan kompetensi abad ke-21.

baca juga

Mengintegrasikan Socio-Scientific Issues dan Flipped Classroom

Sebagai solusi atas tantangan tersebut, tim peneliti mengembangkan GROW Instructional Model dengan mengintegrasikan pendekatan Socio-Scientific Issues (SSI) dan Flipped Classroom. Melalui pendekatan ini, mahasiswa mempelajari materi terlebih dahulu secara mandiri melalui Learning Management System (LMS) sebelum mengikuti perkuliahan.

Waktu tatap muka kemudian dimanfaatkan untuk berdiskusi, mengembangkan argumentasi ilmiah, melakukan analisis terhadap isu-isu sosio-saintifik, serta menyusun solusi berdasarkan konsep-konsep kimia analitik.

Pendekatan ini diharapkan mampu mengubah paradigma pembelajaran dari sekadar memahami konsep menjadi proses pembelajaran yang menumbuhkan kemampuan berpikir reflektif, kolaboratif, dan berbasis penyelesaian masalah.

Menghubungkan Kimia dengan Permasalahan Nyata

Keunggulan model GROW terletak pada pemanfaatan Socio-Scientific Issues sebagai konteks pembelajaran. Mahasiswa diajak mengkaji berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti pencemaran logam berat pada air, mikroplastik, kualitas air bersih, keamanan pangan, kesadahan air, hingga pengelolaan limbah industri.

Melalui pembelajaran tersebut, mahasiswa tidak hanya memahami teknik analisis dalam kimia analitik, tetapi juga mampu mengevaluasi berbagai alternatif solusi berdasarkan bukti ilmiah, mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Pendekatan ini menjadikan pembelajaran kimia lebih kontekstual karena konsep-konsep yang dipelajari di kelas dikaitkan langsung dengan permasalahan yang dihadapi masyarakat.

Empat Sintaks GROW Instructional Model

Model pembelajaran yang dikembangkan terdiri atas empat tahapan utama, yaitu Gather, Reframe, Outline, dan Work. Tahap Gather berfokus pada eksplorasi pengetahuan awal melalui pembelajaran mandiri sebelum perkuliahan. Tahap Reframe mengajak mahasiswa mengidentifikasi dan menganalisis isu sosio-saintifik dari berbagai perspektif.

Selanjutnya, pada tahap Outline, mahasiswa menyusun strategi penyelesaian masalah berdasarkan konsep-konsep kimia yang telah dipelajari. Tahap terakhir, Work, menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan solusi, melakukan refleksi, serta memperkuat pemahaman melalui aktivitas kolaboratif dan penugasan lanjutan.

Keempat sintaks tersebut dirancang sebagai satu kesatuan yang saling terintegrasi sehingga mampu membangun pengalaman belajar yang aktif, sistematis, dan berorientasi pada pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi.

Menghasilkan Perangkat Pembelajaran yang Komprehensif

Selain menghasilkan model pembelajaran, penelitian ini juga mengembangkan berbagai perangkat pendukung yang meliputi Buku Model GROW Instructional Model, Buku Dosen, Buku Mahasiswa, modul pembelajaran, lembar kerja mahasiswa, media pembelajaran berbasis LMS, serta instrumen penilaian keterampilan berpikir kritis dan kreatif. Seluruh perangkat dirancang secara terpadu untuk mendukung implementasi model dalam pembelajaran Dasar Kimia Analitik.

Tahapan pengembangan dilakukan secara sistematis melalui proses analisis kebutuhan, perancangan model, validasi oleh para ahli, uji coba terbatas, hingga penyempurnaan berdasarkan masukan dari validator dan pengguna. Dengan demikian, model yang dihasilkan diharapkan memiliki tingkat validitas, kepraktisan, dan efektivitas yang tinggi ketika diterapkan dalam pembelajaran.

baca juga

Mendorong Inovasi Pendidikan Tinggi

Ketua peneliti, Prof. Dr. Hayuni Retno Widarti, M.Si., menyampaikan bahwa pengembangan GROW Instructional Model merupakan salah satu bentuk komitmen Universitas Negeri Malang dalam menghadirkan inovasi pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat.

"Pembelajaran kimia perlu memberikan pengalaman belajar yang bermakna, sehingga mahasiswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan berbagai persoalan nyata serta menghasilkan solusi yang didasarkan pada pemikiran ilmiah," ungkapnya.

Melalui penelitian ini, Universitas Negeri Malang terus memperkuat budaya riset dan inovasi sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Hasil pengembangan GROW Instructional Model diharapkan dapat menjadi referensi bagi dosen, peneliti, dan institusi pendidikan tinggi dalam mengembangkan pembelajaran kimia yang lebih kontekstual, inovatif, dan berpusat pada mahasiswa.

Selain itu, penelitian ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goal (SDG) 4: Quality Education, yaitu mewujudkan pendidikan yang berkualitas, inklusif, dan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki keterampilan berpikir kritis, kreatif, serta siap menghadapi tantangan global.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

NI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.