lulus dari penangkaran di kampus ipb 10 rusa timor akhirnya pulang ke alam - News | Good News From Indonesia 2026

“Lulus” dari Penangkaran di Kampus IPB, 10 Rusa Timor Akhirnya Pulang ke Alam

“Lulus” dari Penangkaran di Kampus IPB, 10 Rusa Timor Akhirnya Pulang ke Alam
images info

Rusa Timor dari Penangkaran IPB


Sepuluh ekor rusa timor (Rusa timorensis) kembali menginjak habitat alaminya di Suaka Margasatwa Cikepuh, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada 14 Juni 2026, setelah bertahun-tahun dibesarkan dalam penangkaran IPB University. ]]

Seluruh rusa tersebut merupakan hasil penangkaran Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (KSHE), Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (FAHUTAN) IPB University di Taman Hutan Kampus IPB Dramaga. Program ini menandai keberhasilan upaya konservasi ex situ, yakni melindungi satwa di luar habitat aslinya, yang kini berlanjut ke tahap in situ, mengembalikan satwa ke alam.

Bagi spesies yang populasinya terus tertekan akibat hilangnya habitat dan perburuan, pelepasliaran bukan sekadar memindahkan satwa. Proses ini menjadi bagian dari strategi untuk memulihkan populasi liar sekaligus memperkuat fungsi ekosistem.

Catat Sejarah dalam Konservasi di Kampus

Taman Hutan Kampus IPB Dramaga, selama bertahun-tahun menjadi tempat berkembang biaknya rusa timor yang kini berstatus rentan menurut Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). 

Sejak 2008, rusa timor masuk kategori Vulnerable setelah mengalami penurunan populasi akibat kerusakan habitat dan perburuan. Di Indonesia, spesies ini juga dilindungi melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 106 Tahun 2018.

Kepala Departemen KSHE IPB University, Dr. Nyoto Santoso, mengatakan keberhasilan pelepasliaran tersebut merupakan hasil kolaborasi panjang antara IPB University, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, United Tractors, dan pemerintah daerah.

Menurutnya, dukungan berbagai pihak memungkinkan pengembangan penangkaran, mulai dari peningkatan kualitas kandang hingga perawatan satwa.

"Kolaborasi ini menunjukkan bahwa konservasi tidak dapat dilakukan sendiri. Sinergi perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci untuk menghadirkan kembali satwa liar di habitat alaminya," ujar Nyoto, dikutip dari IPB Today.

Ia menambahkan bahwa pelepasliaran ini bukan akhir dari program konservasi. Tim peneliti IPB University akan terus memantau perkembangan rusa melalui penelitian mahasiswa untuk memastikan satwa mampu beradaptasi, bertahan hidup, dan berkembang biak di alam liar.

"IPB University juga akan terus melakukan pemantauan melalui kegiatan penelitian mahasiswa guna memastikan perkembangan populasi rusa di habitat alaminya," katanya.

Satwa Penting yang Terus Menghadapi Ancaman

Rusa timor merupakan mamalia asli Indonesia yang secara alami tersebar di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, termasuk Pulau Timor. Satwa ini umumnya hidup di padang rumput, savana, hingga hutan terbuka. Sebagai herbivora, rusa berperan dalam menjaga dinamika vegetasi sekaligus membantu penyebaran biji berbagai jenis tumbuhan.

Namun dalam beberapa dekade terakhir, populasinya terus menurun. Alih fungsi lahan, fragmentasi habitat, dan perburuan liar menjadi penyebab utama berkurangnya jumlah rusa di alam. Kondisi tersebut membuat program penangkaran menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga keberlangsungan populasi sebelum satwa dikembalikan ke habitat yang aman.

Kawasan Suaka Margasatwa Cikepuh sendiri dipilih karena masih memiliki habitat yang sesuai bagi rusa timor. Pelepasliaran di kawasan konservasi ini juga menjadi bagian dari program restocking, yaitu menambah populasi satwa liar di habitat yang sebelumnya pernah dihuni spesies tersebut.

Tidak Berhenti Saat Satwa Dilepas

Keberhasilan pelepasliaran sangat bergantung pada kondisi habitat setelah satwa kembali ke alam. Karena itu, perlindungan kawasan konservasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya pemulihan populasi.

Kepala Bidang KSDA Wilayah I BBKSDA Jawa Barat, Wawan Sukawan, menegaskan bahwa pelepasliaran harus diikuti dengan pengawasan dan perlindungan habitat secara berkelanjutan.

"Alam merupakan rumah terbaik bagi satwa liar. Tugas kita bersama adalah memastikan habitat tersebut tetap lestari sehingga satwa yang dilepasliarkan dapat hidup, berkembang biak, dan kembali menjadi bagian penting dari keseimbangan ekosistem," ujarnya.

Komitmen serupa juga disampaikan Human Capital, Communications and Sustainability Director United Tractors, Ari Sutrisno. Menurutnya, pelepasliaran rusa merupakan bagian dari program lingkungan perusahaan melalui UTrees yang mengedepankan kolaborasi lintas sektor.

"Program ini adalah bentuk gerak bersama atau moving as one. Kami percaya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan masyarakat akan menghasilkan dampak yang lebih besar bagi kelestarian lingkungan," katanya.

Pelepasliaran sepuluh rusa timor ini memang belum mengubah kondisi populasi secara menyeluruh. Namun, langkah tersebut menunjukkan bahwa penangkaran yang dikelola dengan baik dapat menjadi jembatan penting untuk mengembalikan satwa liar ke habitatnya. 

baca juga

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.