Ada satu pertanyaan yang hampir selalu muncul begitu orang tahu saya mulai berlatih MMA: "Kamu nggak takut dipukul terus jadi orangnya kasar?" Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi setiap kali mendengarnya, ada jarak besar yang terasa antara apa yang dijalani di dalam gym dan bagaimana orang membayangkannya dari luar. Bagi sebagian orang, seorang petarung MMA identik dengan sosok urakan, temperamental, dan haus kekerasan.
Kawan GNFI, anggapan semacam ini bukan hal baru. Sejak MMA mulai dikenal luas di Indonesia, terutama lewat ajang seperti One Pride yang telah berjalan sejak 2016 dan terus berkembang pesat hingga kini, olahraga ini kerap dilihat lewat satu sisi saja: sisi brutalnya. Padahal, di balik setiap pukulan dan bantingan yang tampil di atas kanvas, ada proses panjang yang jarang terlihat oleh penonton di layar kaca.
Tulisan ini lahir dari pengalaman pribadi sebagai seseorang yang menggeluti MMA, sekaligus dari pengamatan terhadap bagaimana dunia bela diri secara umum kerap dinilai sepihak. Sebab identitas sebagai petarung bukan sekadar soal siapa yang menang di atas ring, melainkan soal bagaimana disiplin, pengendalian diri, dan rasa hormat dibentuk lewat proses yang jarang dibicarakan.
Ketika Stereotip Datang Lebih Dulu daripada Perkenalan
Ada momen yang cukup sering terjadi: saat berkenalan dengan orang baru dan mereka tahu saya menekuni MMA, raut wajah mereka biasanya berubah sedikit waspada. Seolah ada jarak yang otomatis terbentuk, seakan olahraga yang dijalani mencerminkan siapa seseorang secara pribadi di luar arena. Padahal, sebagian besar waktu latihan justru dihabiskan untuk hal yang jauh dari kata agresif, yaitu mengasah kesabaran, membaca situasi, dan menahan diri.
Anggapan ini sebenarnya bisa dipahami, karena citra olahraga tarung memang lekat dengan tayangan pertarungan yang penuh adegan keras. Namun menyamakan olahraga dengan kepribadian pelakunya adalah generalisasi yang terlalu sederhana. Sebuah kajian yang membandingkan praktisi bela diri dengan atlet cabang olahraga kontak lain justru menemukan hal sebaliknya: praktisi bela diri menunjukkan tingkat agresivitas yang lebih rendah, disertai kontrol diri, stabilitas emosi, dan sikap kooperatif yang lebih tinggi (Tandfonline, 2025).
Dunia MMA profesional sebenarnya juga menyimpan banyak contoh yang berlawanan dengan stereotip itu. Sosok seperti Khabib Nurmagomedov dan Georges St-Pierre dikenal luas karena kerendahan hati dan kedisiplinan mereka baik di dalam maupun di luar oktagon, sementara Stipe Miocic dikenang sebagai petarung yang tetap membumi meski menyandang gelar juara dunia. Nama-nama ini menunjukkan bahwa puncak prestasi di olahraga paling keras sekalipun tidak harus dibayar dengan hilangnya kerendahan hati.
Disiplin yang Tidak Terlihat di Balik Layar Pertandingan
Yang jarang disadari orang, jam terbang seorang petarung MMA jauh lebih banyak dihabiskan di ruang latihan yang sunyi ketimbang di atas panggung yang disorot lampu. Rutinitas harian diisi dengan latihan teknik berulang kali, sesi kekuatan yang melelahkan, hingga evaluasi pola makan dan istirahat yang ketat. Semua itu berlangsung jauh dari sorotan kamera, tanpa tepuk tangan penonton.
Disiplin semacam ini sebenarnya bukan eksklusif milik dunia tarung. Namun karena olahraga ini identik dengan kekerasan fisik, orang sering lupa bahwa di baliknya ada struktur yang sangat terukur. Riset bahkan menunjukkan bahwa latihan bela diri yang konsisten turut menumbuhkan nilai seperti tanggung jawab, kegigihan, hingga rasa persaudaraan di antara sesama praktisinya (Tandfonline, 2025), nilai-nilai yang justru jarang diasosiasikan publik dengan olahraga ini.
Dustin Poirier menjadi salah satu contoh nyata bagaimana disiplin di dalam oktagon bisa tumbuh berdampingan dengan kepedulian sosial di luar itu. Lewat yayasan yang didirikannya bersama sang istri, ia dikenal luas atas kontribusinya membantu masyarakat yang membutuhkan, mulai dari bantuan pangan hingga akses layanan kesehatan, dan atas kerja sosialnya itu ia bahkan pernah dianugerahi penghargaan komunitas dari organisasi UFC. Contoh semacam ini menunjukkan bahwa disiplin yang dibentuk di atas matras kerap kali menemukan bentuknya yang lain di tengah masyarakat.
Menemukan Rasa Hormat di Tempat yang Dianggap Penuh Kekerasan
Salah satu hal yang paling mengejutkan ketika pertama kali masuk dunia MMA justru budaya saling menghormatinya. Di dalam gym, ada semacam kesepakatan tidak tertulis bahwa lawan latihan adalah rekan yang membantu kita bertumbuh, bukan musuh yang harus dijatuhkan tanpa ampun. Sikap saling menjaga ini justru paling kuat terasa di olahraga yang secara fisik paling keras sekalipun.
Fenomena ini sejalan dengan temuan bahwa masyarakat awam sebenarnya cenderung memiliki pandangan yang cukup positif terhadap olahraga bela diri, meski tetap menyimpan keraguan soal potensi agresivitas para pelakunya (Researchgate, 2023). Artinya, anggapan negatif yang melekat pada petarung sebenarnya tidak sepenuhnya berasal dari pengalaman langsung, melainkan dari citra yang terbentuk lewat tontonan sesaat di atas ring.
Identitas yang Lebih Luas daripada Sekadar Petarung
Semakin lama menekuni MMA, semakin terasa bahwa identitas sebagai petarung sebenarnya hanya satu lapisan dari diri seseorang, bukan keseluruhan dari siapa dirinya. Ada banyak sisi lain yang tidak pernah terlihat saat seorang atlet berdiri di atas matras, sisi yang gugup sebelum bicara di depan umum, sisi yang lembut saat berkumpul dengan keluarga, sisi yang sama rentannya dengan orang kebanyakan.
Perkembangan MMA di Indonesia sendiri, dengan semakin banyaknya ajang seperti One Pride yang kini rutin menggelar Fight Night dan membuka jalur menuju kompetisi internasional, sebenarnya menjadi peluang untuk memperbaiki citra ini secara perlahan. Semakin banyak masyarakat yang menonton dan memahami prosesnya, semakin besar pula kemungkinan stereotip lama mulai terkikis oleh pemahaman yang lebih utuh.
Namun perubahan citra ini tidak bisa hanya mengandalkan industri olahraga semata. Ia juga membutuhkan kesediaan para petarung sendiri, sebagaimana dicontohkan Khabib, GSP, Miocic, Poirier untuk tampil apa adanya, tidak hanya menunjukkan sisi tangguh di atas ring, tetapi juga sisi manusiawi di luar itu. Sebab identitas yang utuh selalu lebih kaya daripada satu label yang diberikan orang lain, sesederhana apa pun label itu terdengar.
Melihat Lebih dari Sekadar Sarung Tinju
Kawan GNFI, mungkin tidak semua dari kita akan pernah naik ke atas matras atau merasakan langsung dunia MMA. Namun rasanya, hampir semua orang pernah mengalami versi lain dari hal ini, dilihat hanya dari satu sisi, dinilai dari satu label, tanpa sempat dikenal lebih dalam sebagai manusia yang utuh.
Barangkali, di balik sarung tinju dan matras yang penuh peluh itu, ada pelajaran sederhana yang bisa dibawa pulang oleh siapa saja. Bahwa sebelum menilai seseorang dari apa yang tampak di permukaan, ada baiknya bertanya lebih jauh tentang proses, nilai, dan kesungguhan yang mereka jalani di balik layar yang jarang terlihat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


