Siapa sangka, salah satu cara paling sederhana untuk menjaga sebuah budaya bukan dimulai dari panggung pertunjukan atau upacara adat, melainkan dari meja makan.
Ketika banyak tradisi perlahan ditinggalkan, masyarakat Lampung masih memiliki kebiasaan yang mengajarkan bahwa kebersamaan tidak perlu dirayakan dengan sesuatu yang mewah. Cukup sepiring ikan bakar, sambal, dan orang-orang yang bersedia duduk bersama. Mereka menyebutnya nyeruit.
Di tengah kehidupan yang semakin sibuk, ketika waktu makan sering dihabiskan sambil menatap layar gawai atau bahkan dilakukan seorang diri, tradisi seperti nyeruit terasa semakin istimewa. Sebab yang disajikan di atas meja bukan hanya ikan bakar dan sambal, melainkan juga ruang untuk berbagi cerita.
Seruit, Kuliner Khas Lampung yang Sarat Makna
Jika berbicara tentang kuliner khas Lampung, nama seruit hampir selalu muncul di urutan teratas. Seruit merupakan hidangan berbahan dasar ikan air tawar atau ikan laut yang dibakar maupun digoreng, kemudian disantap bersama sambal terasi, tempoyak atau fermentasi durian, lalapan, dan terkadang ditambah mangga muda sebagai penyeimbang rasa.
Menurut Kompas, keunikan seruit terletak pada perpaduan rasa gurih, pedas, asam, dan sedikit aroma khas tempoyak yang menghasilkan cita rasa berbeda dibandingkan hidangan ikan dari daerah lain. Namun, yang membuat hidangan ini tetap bertahan hingga sekarang bukan semata soal rasa, melainkan budaya makan bersama yang menyertainya.
Di Lampung, menikmati seruit hampir selalu identik dengan berkumpul. Semakin banyak orang yang duduk mengelilingi makanan itu, semakin lengkap pula makna yang dirasakan.
Ketika Makan Bersama Menjadi Tradisi
Masyarakat Lampung mengenal istilah nyeruit, yakni tradisi menikmati seruit secara bersama-sama. Tradisi ini biasanya hadir dalam berbagai kesempatan, mulai dari makan siang keluarga, syukuran, penyambutan tamu, hingga acara adat.
Tidak ada aturan siapa yang harus duduk di posisi tertentu. Semua orang mengambil lauk dari hidangan yang sama sambil berbincang tanpa sekat.
detikFood pernah menuliskan bahwa nyeruit bukan sekadar kebiasaan makan bersama, tetapi juga menjadi simbol keakraban masyarakat Lampung. Dari tradisi inilah percakapan mengalir, persoalan disampaikan, dan hubungan antarkeluarga dipererat. Barangkali, inilah alasan mengapa seruit lebih dari sekadar kuliner. Ia menjadi ruang yang mempertemukan banyak cerita.
Sepiring Rasa yang Mencerminkan Kehidupan
Menariknya, seruit tidak pernah hanya menghadirkan satu rasa. Pedas dari cabai berpadu dengan gurihnya ikan bakar. Tempoyak memberikan sentuhan asam yang khas, sementara lalapan menghadirkan kesegaran. Semua unsur itu saling melengkapi tanpa saling menghilangkan.
Perpaduan tersebut seolah menggambarkan kehidupan masyarakat Lampung yang sejak lama terbuka terhadap keberagaman. Berbagai latar belakang budaya hidup berdampingan, sebagaimana berbagai rasa yang berpadu dalam sepiring Seruit.
Mungkin karena itulah seruit tidak pernah kehilangan tempat di hati masyarakatnya. Yang diwariskan bukan hanya resep, tetapi juga cara memandang kebersamaan.
Tradisi Lama yang Tetap Relevan
Hari ini, makan bersama mulai menjadi kebiasaan yang semakin langka. Kesibukan pekerjaan, sekolah, hingga kehadiran teknologi membuat banyak orang lebih sering makan sendiri. Percakapan di meja makan perlahan digantikan oleh notifikasi yang terus berdatangan dari telepon genggam.
Di tengah perubahan itu, nyeruit menawarkan sesuatu yang sederhana tetapi penting: meluangkan waktu untuk benar-benar hadir bagi orang-orang terdekat.
Mungkin kita tidak selalu bisa pulang ke kampung halaman. Namun kita masih bisa mewarisi semangat yang sama, yaitu menyediakan waktu untuk duduk bersama keluarga, mendengarkan cerita mereka, dan menikmati hidangan tanpa tergesa-gesa.
Tradisi seperti ini mengingatkan bahwa kebersamaan tidak harus diwujudkan melalui acara besar. Kadang, ia cukup dimulai dari satu meja makan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

