sejarah rumah joglo jawa dan filosofi - News | Good News From Indonesia 2026

Sudah Ada Sejak Zaman Majapahit, Begini Sejarah Rumah Joglo dan Filosofinya

Sudah Ada Sejak Zaman Majapahit, Begini Sejarah Rumah Joglo dan Filosofinya
images info

Begini Sejarah Rumah Joglo Jawa dan Filosofi Hunian yang Sudah Ada Sejak Zaman Majapahit | Wikimedia Commons @Gunawan Kartapranata


Sebagai salah satu hunian tradisional Nusantara, sejarah rumah joglo berkaitan langsung dengan struktur masyarakat Jawa kala itu. Filosofi rumah joglo pun pada akhirnya melambangkan adat dan budaya yang dianut warga penghuninya.

Mempelajari sejarah dan filosofi rumah joglo merupakan sebuah langkah penting untuk memahami berbagai nilai kehidupan sosial masyarakat pada masanya, mengingat bangunan tradisional ini menyimpan begitu banyak cerita tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan alam, menjaga keharmonisan antar sesama, serta merawat kearifan lokal.

Artikel ini akan mengupas bagaimana sejarah rumah joglo Jawa dan apa saja makna filosofis yang terkandung di setiap sudut arsitekturnya yang indah. Jadi, simak sampai habis, ya!

baca juga

Sejarah Rumah Joglo Jawa Tak Lepas dari Stratifikasi Sosial

Sejarah Rumah Joglo Jawa dan Filosofinya, Tak Lepas dari Stratifikasi Sosial | Pemda DIY
info gambar

Sejarah Rumah Joglo Jawa dan Filosofinya, Tak Lepas dari Stratifikasi Sosial | Pemda DIY


Pembahasan mengenai sejarah rumah joglo Jawa tentu tidak bisa dipisahkan dari dinamika sosial dan ekonomi masyarakat pada masa lampau.

Apabila kita menilik asal-usul rumah joglo, pada awalnya hunian megah ini hanya dimiliki oleh kalangan atas dan masyarakat yang mampu, dalam arti memiliki status dan kondisi ekonomi yang tergolong kelas menengah ke atas.

Hal ini dibahas oleh R.M.T. Sunarmi (2012) dalam tulisannya, di mana ia menyebutkan bahwa rumah joglo dulunya dianggap eksklusif hanya untuk kaum bangsawan, raja serta golongan terhormat dan terpandang.

Biaya produksi mulai dari material yang cenderung mahal dan banyak pun membuat rumah joglo hanya bisa dibangun oleh mereka yang kondisi ekonominya berada. Meski begitu, akibat perkembangan zaman, gaya hunian ini mulai bisa digunakan oleh masyarakat biasa.

Kembali membahas masa lalu, Hermawan dan Prihatmaji (2019) menjelaskan bahwa adanya sistem pemerintahan kerajaan pada masa itu turut menimbulkan stratifikasi sosial yang sangat kentara di tengah masyarakat.

Penggolongan status sosial yang tercipta pada masyarakat Jawa terbagi menjadi golongan sentonodalem, abdidalem, serta kawulodalem.

Sejarah dan Perkembangan Atap Rumah Joglo Lengkap Filosofinya Melambangkan Apa | Dinas Kebudayaan DIY
info gambar

Sejarah dan Perkembangan Atap Rumah Joglo Lengkap Filosofinya Melambangkan Apa | Dinas Kebudayaan DIY


Stratifikasi dalam berbagai golongan ini terwujud secara fisik dari bentuk atap rumah yang dibangun warga kerajaan tersebut, di antaranya:

  1. Tajug: untuk tempat ibadah, milik keraton atau kasunan
  2. Joglo: golongan keraton atau ningrat
  3. Limasan: golongan menengah
  4. Kampung: rakyat biasa/rakyat kecil di luar kompleks keraton (kawulodalem)
  5. Pangga pe: untuk istirahat petani di sawah

Lima bentuk atap di atas tidak langsung berdiri demikian, melainkan melewati perkembangan dan adaptasi dari bentuk awalnya, yakni atap tajug. Tajug sendiri merupakan bentuk atap yang terinspirasi dari bentuk gunung.

Bentuk itu dikembangkan lagi menjadi joglo atau tajug loro dengan cara menumpuk desain awal yang mirip gunungan sebelumnya.

Dari situ, atap rumah joglo melalui proses penyederhanaan hingga tercipta limasan, kemudian bentuk limasan dikembangkan lagi menjadi kampung dan pangga pe.

Menurut Hermawan dan Prihatmaji, klasifikasi bentuk atap tradisional bangunan Jawa ini sudah ada sejak abad ke-13.

Pada masa ini sendiri, berbagai kepulauan di Nusantara dikuasai oleh Kerajaan Majapahit, tepatnya mulai sekitar tahun 1293 hingga 1527 Masehi jika menilik jurnal Unesa. Dari sini bisa dikira-kira bahwa bentuk rumah joglo sudah ada sejak masa Majapahit.

Rumah joglo Situbondo menjadi contoh salah satu warisan budaya tertua yang masih bertahan sejak era Kerajaan Majapahit, tepatnya sekitar abad ke-16.

baca juga

Filosofi Rumah Joglo Jawa, Arsitekturnya Melambangkan Apa?

Filosofi Rumah Joglo Jawa Melambangkan Apa? Ini Makna dari Arsitekturnya | Dinas Kebudayaan DIY
info gambar

Filosofi Rumah Joglo Jawa Melambangkan Apa? Ini Makna dari Arsitekturnya | Dinas Kebudayaan DIY


Keberadaan arsitektur tradisional ini tidak hanya sebatas fungsi estetika, melainkan wujud nyata dari upaya manusia membangun harmoni dengan alam semesta.

Dilihat dari atapnya, rumah joglo memiliki filosofi yang melambangkan sebuah gunung. Bagi masyarakat Jawa tradisional, gunung diyakini sebagai sebuah tempat yang sakral dan suci, sehingga menginspirasi perwujudan bentuk atap tajug maupun joglo yang menjulang tinggi ke atas.

Laman BPK Penabur menyebut desain atap yang semakin kecil ke atas merupakan simbol kedekatan manusia dengan Tuhan. Sementara itu, tata ruang yang disusun teratur menggambarkan prinsip hidup masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi keharmonisan hidup, tata krama, serta menghormati orang lain.

Sari dan Mutiari (2014)menerangkan lebih dalam melalui jurnalnya. Berikut filosofi rumah joglo menurut arsitektur dan struktur bangunannya:

  1. 4 soko guru (tiang utama) di pendhopo yang melambangkan empat arah mata angin.
  2. Tumpang sari atau tiang penyangga di bagian atas atap pada bagian pendopo yang disusun bertingkat melambangkan tingkatan untuk menuju pada suatu titik puncak, yang terdiri dari seriat, tarekat, hakekat, dan makrifat.

Tata ruang rumah joglo juga mengandung makna filosofis tersendiri. Dikutip dari buku Filosofi Rumah Jawaberikut di antaranya:

  1. Pendhopo atau ruang depan untuk menerima tamu, melambangkan keterbukaan dari pemilik rumah, perlindungan, dan kelancaran komunikasi.
  2. Pringgitan (area tengah) mengandung makna peralihan antara urusan luar dan kehidupan keluarga yang lebih privat.
  3. Ndalem dan Senthong merupakan area dalam khusus untuk keluarga. Senthong tengah dipercaya masyarakat Jawa sebagai tempat bersemayam Dewi Sri atau dewi kesuburan.

Mempelajari filosofi rumah joglo memberikan wawasan baru bagi kita, Kawan GNFI, bahwa leluhur kita telah memiliki tingkat kecerdasan spasial dan kedalaman spiritual yang luar biasa dalam menciptakan sebuah ruang kehidupan yang setara, damai, dan harmonis.

Sekian artikel berjudul "Sudah Ada Sejak Zaman Majapahit, Begini Sejarah Rumah Joglo dan Filosofinya".

Semoga artikel ini membantu Kawan yang ingin mempelajari filosofi rumah joglo dan asal-usul di balik desainnya yang unik!

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Allicia Dhea lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Allicia Dhea.

AD
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.