Bagaimana bisa sebagian besar anak muda yang memiliki potensi dan keterampilan sering kali kesulitan dalam memperoleh pekerjaan? Pernahkah pertanyaan demikian timbul di benak Kawan GNFI pembaca?
Nyatanya, memang benar adanya bahwa kebanyakan anak muda sebenarnya memiliki kemampuan, potensi, dan semangat untuk berkembang. Mereka aktif belajar, mencoba berbagai hal, bahkan terus meningkatkan keterampilan yang dimiliki. Namun, ketika berbicara tentang kesiapan menghadapi dunia kerja, sering kali muncul satu pertanyaan yang sulit untuk dijawab, yakni apakah kesempatan yang dimiliki sudah setara?
Di tengah persaingan kerja yang semakin pelik, apa yang diperlihatkan di media sosial dan pengalaman menjadi faktor yang tidak kalah penting dibandingkan dengan kemampuan. Banyak mahasiswa dan fresh graduate yang sebenarnya siap dari segi wawasan dan keterampilan, tetapi belum pernah benar-benar terpapar pada lingkungan kerja profesional yang nyata. Akibatnya, banyak anak muda yang kesulitan dalam persaingan kerja, bukan karena kurang pintar atau kurang terampil, melainkan karena kurangnya akses terhadap pengalaman yang relevan.
Kesenjangan ini sering kali tidak terlihat secara langsung, tetapi dampaknya terasa. Kurangnya pengalaman mampu membuat individu ragu untuk mengambil kesempatan, merasa tidak cukup kompetitif, atau bahkan membatasi diri sebelum mencoba.
Padahal, dalam banyak kasus, yang dibutuhkan bukanlah kemampuan yang telah disempurnakan, melainkan ruang untuk terus mengembangkan apa yang sudah kita miliki. Di sinilah pentingnya membuka akses terhadap pengalaman yang lebih luas.
Salah satu bentuk exposure yang mulai banyak dicari oleh generasi muda adalah pengalaman kerja, terlebih yang menyediakan kesempatan di lintas negara. Hal ini dibutuhkan, bukan hanya untuk menambah nilai di Curriculum Vitae (CV), tetapi untuk benar-benar memahami bagaimana cara kerja di dunia profesional, terlebih di level global, mulai dari cara berkomunikasi, menyelesaikan masalah, hingga beradaptasi dengan perbedaan budaya yang ada.
Melalui program seperti Global Talent yang ditawarkan AIESEC in UNS, kesempatan tersebut menjadi lebih terarah. Program ini membuka peluang bagi mahasiswa tingkat akhir dan fresh graduate untuk terlibat langsung dalam pekerjaan di perusahaan multinasional maupun startup di luar negeri, baik secara langsung (offline), remote, maupun hybrid.
Dengan job description yang sudah jelas sejak tahap awal, peserta ditawari berbagai pilihan bidang untuk ditekuni, mulai dari Marketing, Engineering, Human Resources, hingga IT.
Tak sekadar itu, pengalaman bekerja di lingkungan yang berbeda mampu memberikan perspektif baru yang sulit didapatkan di tempat lain. Di sana peserta dapat belajar untuk menghadapi standar kerja yang berbeda, berinteraksi dengan rekan lintas budaya dan bahasa, sekaligus mengembangkan cara berpikir yang lebih adaptif dan terbuka. Hal-hal inilah yang akan membentuk kesiapan diri yang lebih nyata, bukan hanya secara teknis, tetapi juga personal.
Proses menuju pengalaman tersebut pun tidak harus dilalui sendirian. AIESEC in UNS menerapkan pendampingan yang optimal, mulai dari tahap persiapan CV, latihan interview, hingga monitoring selama program berlangsung, sehingga peserta memiliki ruang untuk belajar sekaligus berkembang dalam setiap tahapannya.
Tak hanya itu, bahkan setelah program Global Talent selesai, refleksi terhadap pengalaman yang didapat akan menjadi bagian penting dalam memahami arah karier ke depannya.
Dengan demikian, isu utamanya di sini bukanlah apakah anak muda cukup mampu, tetapi apakah mereka memiliki akses untuk membuktikan kemampuan tersebut.
Jadi, apakah Kawan GNFI pembaca kini tertarik untuk mencari pengalaman dengan magang di luar negeri? Kunjungi akun Instagram @unstoppable.youths untuk informasi lebih lanjut mengenai program Global Talent dan kegiatan exchange lainnya dari AIESEC in UNS!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


