Ada sebuah cerita rakyat dari Sulawesi Selatan yang menceritakan tentang asal usul hubungan kekeluargaan antara masyarakat Duri dan Baroko. Konon hubungan kekeluargaan ini terjadi dari sebuah peristiwa di masa lalu dulunya.
Pada waktu itu, ada seorang tokoh yang memimpin daerah Baroko. Sementara itu, adik dari tokoh tersebut menikah di Duri dan melahirkan anak keturunan di sana.
Konon dari hubungan persaudaraan inilah yang nantinya disadari oleh anak keturunan di Duri. Akhirnya mereka pun menjalin hubungan kekeluargaan dengan masyarakat yang ada di Baroko.
Berikut kisah lengkap dari asal usul hubungan kekeluargaan antara masyarakat Duri dan Baroko tersebut.
Asal Usul Hubungan Kekeluargaan Masyarakat Duri dan Baroko, Cerita Rakyat dari Sulawesi Selatan
Dilihat GNFI dari buku Nasruddin yang berjudul Kumpulan Cerita Legenda dari Tanah Duri, alkisah pada zaman dahulu hidup dua orang kakak beradik. Sang kakak bernama Tamasseung.
Sementara itu, adik perempuannya bernama Cammanini. Mereka merupakan anak dari seorang pemimpin di daerah Buntu.
Sejak kecil, Tamasseung dan Cammanini selalu bermain bersama. Pada suatu ketika, Tamasseung melakukan perbuatan yang tidak disukai oleh ayahnya.
Alhasil Tamasseung pun diusir dari rumah. Pemuda tersebut kemudian pergi ke daerah lain bernama Boko Allo.
Ketika Tamasseung berada di sana, dirinya dilihat oleh sang paman. Paman Tamasseung pun menceritakan hal tersebut pada ayahnya.
Namun ayahnya sudah kadung benci pada Tamasseung. Melihat hal tersebut, sang paman akhirnya membawa Tamasseung pergi ke kampung seberang bernama Baroko.
Di sana Tamasseung tumbuh besar dan menjadi pemuda yang tampan. Tidak hanya itu, dia pun menjadi pemimpin di kampung tersebut.
Pada suatu ketika, sang ayah secara tidak sengaja bertemu dengan Tamasseung saat melepas kerbaunya. Bukannya melepaskan rasa rindu, ayah dan anak ini justru salah paham antara satu sama lain.
Akhirnya sang ayah sepakat untuk berperang dengan Tamasseung. Kedua pemimpin ini kemudian menghimpun kekuatannya masing-masing.
Tamasseung pun menyerang sang ayah yang berada di Boko Allo. Pertempuran antara ayah dan anak ini akhirnya tidak terelakkan.
Pertempuran berlangsung dengan sangat sengit. Tidak ada pemenang yang keluar dari pertempuran tersebut.
Melihat situasi yang buntu, sang ayah akhirnya berteriak pada Tamasseung. Dia berkata jika akan menyerahkan kekuasaan pada Tamasseung, sehingga konflik di antara mereka tidak perlu berkepanjangan.
Akhirnya semua kekuasaan sang ayah berpindah tangan ke Tamasseung. Untuk memperingati hal tersebut, Tamasseung memotong kerbau sang ayah yang bernama Timbakan Babangan dan membagikannya ke semua masyarakat.
Sejak saat itu, Tamasseung kemudian membentuk delapan kelompok adat di wilayah Umbu. Delapan kelompok adat tersebut dipimpin langsung oleh Tamasseung, termasuk wilayah Baroko yang ada di dalamnya.
Beberapa waktu kemudian, sang adik Cammanini akhirnya menikah. Dirinya menikah di daerah Duri dan melahirkan keturunan yang diberi nama "Tallu Batu Papan."
Nantinya keturunan Cammanini sadar akan hubungan leluhur mereka dengan Tamasseung yang memimpin Baroko. Akhirnya masyarakat membuat sebuah perjanjian yang berkaitan tentang hubungan kekeluargaan antara masyarakat Duri dan Baroko.
Ada sebuah wilayah di mana masyarakat Duri dan Baroko mesti berganti pakaian. Misalnya, jika masyarakat Duri hendak pergi ke Baroko, maka di daerah itu mereka mesti berganti pakaian selayaknya orang-orang yang ada di daerah Baroko.
Hal ini juga berlaku sebaliknya. Jika orang-orang Baroko hendak pergi ke Duri, maka mereka pun mesti mengganti pakaian di sana.
Konon itulah kisah di balik asal usul hubungan kekeluargaan yang terjalin antara masyarakat Duri dan Baroko dulunya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


