ketika sampah tak laku di bank sampah cerita kami membangun insinerator di kampung ketahanan pangan desa pagelaran - News | Good News From Indonesia 2026

Ketika Sampah Residu Tak Lagi Punya Rumah: Kisah Insinerator dari Kampung Ketahanan Pangan

Ketika Sampah Residu Tak Lagi Punya Rumah: Kisah Insinerator dari Kampung Ketahanan Pangan
images info

Pembuatan Insinerator


Selama 45 hari menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Pagelaran, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, kelompok kami mendapati satu persoalan yang selama ini luput dari perhatian banyak orang: ternyata tidak semua sampah punya nilai jual.

Sebagian besar program pengelolaan sampah yang selama ini digaungkan memang berhasil mendorong warga memilah barang bekas yang bisa didaur ulang atau dijual kembali, tapi ada satu jenis sampah yang nyaris selalu terlewat dari pembahasan, yaitu sampah residu. Sampah jenis ini tidak laku dijual, tidak bisa dikomposkan, dan pada akhirnya hanya menumpuk tanpa ada yang benar-benar bertanggung jawab untuk menanganinya.

Program kerja kami secara khusus dipusatkan di kawasan Perumahan Bukit Asri, RW 16, tepatnya di lokasi yang oleh warga setempat dinamai Kampung Ketahanan Pangan. Kawasan ini bukan tempat biasa. Di sana, warga secara swadaya menjalankan berbagai aktivitas produktif seperti beternak ikan, memelihara ayam, menanam sayuran, hingga membudidayakan maggot sebagai bagian dari upaya ketahanan pangan mandiri. Semangat gotong royong dan kemandirian ini yang kemudian menjadi salah satu alasan kuat mengapa kelompok kami tertarik untuk terlibat lebih jauh di kawasan tersebut.

Ketika mulai berbaur dengan warga, kami menemukan bahwa bank sampah di RW 16 sebenarnya sudah berjalan cukup baik. Warga rutin menyetorkan sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomis, dan pengurus bank sampah pun aktif mengelolanya. Namun, seiring waktu, muncul persoalan yang jarang dibicarakan secara terbuka: bank sampah hanya menerima sampah yang bisa didaur ulang atau dijual kembali.

baca juga

Sementara itu, sampah residu seperti popok bekas, plastik berlapis alumunium, styrofoam yang sudah kotor, hingga berbagai jenis sampah campuran lainnya sama sekali tidak terserap oleh sistem yang ada. Akibatnya, sampah-sampah ini menumpuk begitu saja di sudut-sudut kawasan tanpa ada solusi yang jelas.

Dari situ, muncul pertanyaan sederhana yang justru menjadi titik balik program kerja kami: jika bank sampah tidak bisa menampung semua jenis sampah, lalu ke mana sampah-sampah residu ini seharusnya pergi? Pertanyaan inilah yang akhirnya mendorong kelompok KKN Universitas Negeri Malang Desa Pagelaran untuk merancang sebuah alat insinerator sederhana sebagai salah satu program kerja unggulan kami di kawasan ini.

Peresmian Insinerator Sederhana

Membangun insinerator ternyata bukan proses yang instan. Kami harus terlebih dahulu memahami secara mendalam jenis-jenis sampah apa saja yang benar-benar tidak terserap oleh bank sampah, kemudian berdiskusi langsung dengan warga Kampung Ketahanan Pangan untuk memastikan alat yang kami rancang benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lapangan. Diskusi ini penting agar insinerator yang dibangun tidak hanya berfungsi secara teknis, tetapi juga benar-benar dapat diterima dan dijalankan oleh warga secara berkelanjutan.

Proses perancangan diwarnai banyak trial and error. Mulai dari menentukan ukuran ruang bakar yang proporsional, memilih material yang tahan panas namun tetap terjangkau, hingga menyesuaikan sistem sirkulasi udara agar proses pembakaran berlangsung lebih efisien dan minim asap.

Beberapa kali desain awal harus direvisi setelah uji coba lapangan menunjukkan hasil yang belum optimal. Namun, justru dari proses panjang inilah kami mendapatkan pembelajaran paling berharga selama KKN, yaitu bahwa solusi terbaik untuk masyarakat sering kali lahir dari masalah yang tampak kecil dan mudah terlewat begitu saja.

Nama Kampung Ketahanan Pangan sendiri bukan tanpa alasan. Kawasan ini memang telah lama digerakkan oleh warga sebagai percontohan ketahanan pangan mandiri di lingkungan Perumahan Bukit Asri. Berbagai kegiatan produktif yang dijalankan warga menjadi bukti nyata bahwa kemandirian bukan sekadar wacana, melainkan praktik yang dijalankan sehari-hari. Kehadiran insinerator ini kami harapkan dapat melengkapi semangat tersebut, sehingga kawasan ini tidak hanya mandiri dalam hal pangan, tetapi juga mandiri dalam pengelolaan sampah rumah tangganya sendiri.

Selama proses pembangunan, kami turut melibatkan warga secara langsung, mulai dari tahap pengumpulan bahan hingga proses perakitan alat. Keterlibatan ini kami rasa penting agar warga tidak sekadar menjadi penerima manfaat, tetapi juga memahami cara kerja dan perawatan insinerator tersebut. Dengan begitu, ketika masa KKN kami berakhir, warga tetap dapat mengoperasikan dan merawat alat ini secara mandiri tanpa harus bergantung pada pihak luar.

baca juga

Alat ini kami harapkan bisa terus dipakai warga bahkan setelah masa KKN kami berakhir. Insinerator ini bukan sekadar proyek seremonial yang selesai begitu mahasiswa pulang kampung, melainkan benar-benar dirancang sebagai solusi jangka panjang untuk persoalan sampah residu yang sebelumnya tidak memiliki tempat penyelesaian.

Kami menyadari bahwa satu alat insinerator sederhana tentu tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan sampah di RW 16, namun setidaknya alat ini menjadi langkah awal yang konkret dan dapat terus dikembangkan oleh warga di kemudian hari.

Bagi kami, itulah esensi sebenarnya dari pengabdian masyarakat, bukan soal seberapa besar programnya, melainkan seberapa nyata manfaatnya bagi warga yang kami layani. Pengalaman 45 hari di Desa Pagelaran mengajarkan kami bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar dan rumit. Terkadang, ia justru lahir dari kepekaan terhadap masalah kecil yang selama ini dianggap wajar dan luput dari perhatian, seperti tumpukan sampah residu yang tak lagi punya tempat untuk pergi.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

DH
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.