Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun tahukah Anda bahwa saat ini kita sedang menghadapi ancaman serius bernama krisis petani muda? Minat generasi Z dan Alpha untuk terjun ke sektor pertanian kian menurun. Kebanyakan anak muda kini lebih memilih bekerja di sektor industri atau teknologi di perkotaan. Menyadari tantangan besar ini, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Institut Pertanian Bogor (IPB) tahun 2026 di Desa Dukuhtengah hadir membawa solusi kreatif dari akar rumput melalui program inovatif bertajuk "Tani Muda".
Program ini dilakukan pada hari Selasa (14/7/2026) yang menyasar siswa SD kelas 5 dan 6 di Desa Dukuhtengah ini bukan sekadar kegiatan menanam tanaman biasa.
Mahasiswa KKN-T IPB merancang program ini dengan pendekatan psikologis anak, yakni menumbuhkan kebiasaan bertani dengan cara merawat tanaman layaknya merawat anak atau hewan peliharaan sendiri.
Membangun Karakter lewat Kedekatan dengan Alam
Usia 10 hingga 12 tahun (kelas 5 dan 6 SD) dinilai sebagai masa emas untuk menanamkan nilai tanggung jawab dan membentuk kebiasaan (habit).
Oleh karena itu, edukasi pertanian tidak diberikan melalui teori-teori rumit, melainkan lewat praktik langsung yang menyenangkan.
Setiap siswa diberikan bibit tanaman, gelas plastik, pupuk dan media tanam. Namun, ada satu aturan unik yang harus mereka ikuti: setiap tanaman wajib diberi nama.
"Kami ingin anak-anak memiliki ikatan emosional dengan tanamannya. Ketika tanaman itu diberi nama, seperti 'Si Ijo Royo-royo', "Cili', atau 'Kembang', anak-anak tidak lagi melihatnya sebagai sekadar tumbuhan, melainkan sebagai makhluk hidup yang butuh kasih sayang dan perhatian mereka," ungkap Ilham Maulana, salah satu perwakilan mahasiswa KKN-T IPB.

Gambaran pengembangan karakter (Dokumentasi Pribadi)
Bukan Sekadar Ditanam, Lalu Ditinggalkan
Dalam program Tani Muda, keberhasilan tidak diukur dari seberapa cepat tanaman itu tumbuh, melainkan seberapa konsisten anak-anak merawatnya. Mereka diajarkan rutinitas sederhana yang berdampak besar:
Mengecek kelembapan tanah setiap pagi sebelum berangkat sekolah.
Menyiram dengan takaran yang pas, karena tanaman juga bisa "sakit" jika terlalu banyak air.
Menempatkan tanaman di bawah sinar matahari agar mereka bisa "makan" dengan baik.
Membersihkan gulma atau hama yang mengganggu tanaman mereka.
Melalui kebiasaan sehari-hari ini, siswa SDN di Desa Dukuhtengah tanpa sadar sedang belajar ilmu dasar agronomi sekaligus mengasah empati.
Mereka merasa bangga ketika daun baru muncul, dan merasa cemas jika daun tanamannya mulai layu. Perasaan inilah yang menjadi pondasi kuat untuk mencintai dunia pertanian.
Langkah Kecil Melawan Krisis Regenerasi Petani
Kegiatan Tani Muda di SDN Dukuhtengah (Sumber: Dokumentasi pribadi)
Keseruan di raut wajah anak-anak saat tangan mereka belepotan tanah membuktikan bahwa dunia pertanian sebenarnya jauh dari kata membosankan.
Jika dikemas dengan cara yang tepat dan menyenangkan, bertani bisa menjadi kegiatan yang sangat dinikmati oleh generasi muda.
Langkah kecil yang diinisiasi oleh mahasiswa KKN-T IPB 2026 di Desa Dukuhtengah ini adalah bentuk perlawanan nyata terhadap krisis petani muda di Indonesia.
Dengan menanamkan rasa cinta, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap tanaman sejak dini, program "Tani Muda" diharapkan mampu mencetak generasi penerus yang tidak hanya menghargai alam, tetapi juga bangga dan siap untuk menjadi pahlawan pangan Indonesia di masa depan.
Dari tangan-tangan mungil di Desa Dukuhtengah, harapan untuk pertanian Indonesia yang lebih hijau dan lestari terus disemai.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

