dari bakteri baik hingga emposan tikus kknt ipb ajak warga pucangluwuk belajar bertani ramah lingkungan - News | Good News From Indonesia 2026

Dari Bakteri Baik hingga Emposan Tikus: KKNT IPB Ajak Warga Pucangluwuk Belajar Bertani Ramah Lingkungan

Dari Bakteri Baik hingga Emposan Tikus: KKNT IPB Ajak Warga Pucangluwuk Belajar Bertani Ramah Lingkungan
images info

Sosialisasi Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR), Pembuatan Pestisida nabati dan Emposan Tikus kepada petani Desa Pucangluwuk


Hama tikus masih menjadi masalah utama bagi sebagian petani di Desa Pucangluwuk, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal. Kehadirannya kerap merusak tanaman di lahan pertanian dan berpotensi menurunkan hasil panen.

Di sisi lain, penggunaan pestisida kimia secara terus-menerus juga dapat menimbulkan berbagai dampak terhadap lingkungan apabila tidak dilakukan secara bijak. Kondisi inilah yang mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Institut Pertanian Bogor (IPB) menghadirkan edukasi mengenai berbagai alternatif pengelolaan tanaman dan pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan.

Sebagai bentuk kontribusi kepada masyarakat, mahasiswa KKNT IPB menyelenggarakan kegiatan sosialisasi dan demonstrasi pada Jumat (17/07/2026) di Desa Pucangluwuk, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal. Kegiatan tersebut diikuti oleh ketua dan anggota kelompok tani, perangkat desa, ketua RT dan RW, petani, serta warga Desa Pucangluwuk.

Melalui kegiatan ini, peserta diajak mengenal Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR), mempelajari pembuatan pestisida nabati, hingga mempraktikkan pembuatan emposan tikus sebagai salah satu alternatif pengendalian hama di lahan pertanian.

baca juga

Sesi pertama diawali dengan sosialisasi mengenai Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) atau bakteri baik yang hidup di sekitar perakaran tanaman. Bakteri ini berperan dalam mendukung pertumbuhan tanaman melalui peningkatan penyerapan unsur hara, merangsang pertumbuhan akar, serta membantu tanaman menghadapi cekaman lingkungan.

Dalam pemaparannya, mahasiswa KKNT IPB menjelaskan bahwa pemanfaatan PGPR dapat menjadi salah satu langkah menuju praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan. Peserta juga diajak memahami bahwa mikroorganisme yang bermanfaat dapat dimanfaatkan sebagai pendukung produktivitas tanaman tanpa selalu bergantung pada input kimia.

Selain memiliki berbagai manfaat, PGPR juga memiliki beberapa keterbatasan yang perlu dipahami oleh petani. Keberhasilan aplikasi PGPR dipengaruhi oleh jenis tanaman, kondisi tanah, lingkungan, serta kualitas mikroorganisme yang digunakan. Efeknya pun tidak dapat dirasakan secara instan karena bakteri membutuhkan waktu untuk beradaptasi dan berkembang di sekitar perakaran tanaman. Oleh karena itu, mahasiswa KKNT IPB juga menjelaskan teknik aplikasi PGPR yang tepat, mulai dari perendaman benih sebelum tanam hingga pengocoran larutan PGPR pada area perakaran tanaman yang telah tumbuh.

Setelah sesi sosialisasi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan pestisida nabati berbahan dasar daun pepaya. Demonstrasi ini menunjukkan bahwa bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar rumah juga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pengelolaan organisme pengganggu tanaman.

Pembuatan pestisida nabati dilakukan dengan menghaluskan dua lembar daun pepaya menggunakan satu liter air, kemudian menyaring hasil blender untuk memisahkan ampasnya. Larutan tersebut selanjutnya didiamkan selama satu malam agar senyawa aktif dari daun pepaya terekstraksi secara lebih optimal sebelum diaplikasikan pada tanaman.

Demonstrasi pembuatan emposan tikus sebagai alternatif pengendalian hama
info gambar

Demonstrasi pembuatan emposan tikus sebagai alternatif pengendalian hama


Tak hanya itu, mahasiswa KKNT IPB juga memperkenalkan pembuatan emposan tikus sebagai respons terhadap tingginya serangan hama tikus yang dialami petani Desa Pucangluwuk. Emposan dibuat menggunakan campuran belerang, pupuk KNO₃, soda kue, dan arang batok kelapa yang telah dihaluskan.

Seluruh bahan dicampurkan hingga homogen, kemudian dimasukkan ke dalam selongsong sebagai media emposan. Melalui demonstrasi ini, peserta tidak hanya memperoleh penjelasan mengenai fungsi setiap bahan, tetapi juga dapat melihat secara langsung tahapan pembuatannya sehingga lebih mudah dipahami.

baca juga

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Berbagai pertanyaan diajukan mengenai cara penggunaan PGPR, efektivitas pestisida nabati, hingga penerapan emposan tikus di lahan pertanian. Diskusi yang berlangsung menunjukkan tingginya minat masyarakat untuk mengenal inovasi pertanian yang lebih ramah lingkungan sekaligus sesuai dengan kondisi di Desa Pucangluwuk. Interaksi tersebut juga menjadi ruang berbagi pengalaman antara petani dan mahasiswa mengenai berbagai tantangan yang dihadapi di lapangan.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKNT IPB berharap masyarakat Desa Pucangluwuk semakin mengenal berbagai alternatif pengelolaan tanaman yang memadukan pengetahuan ilmiah dengan pemanfaatan sumber daya lokal. Edukasi mengenai PGPR, pestisida nabati, dan emposan tikus diharapkan dapat menjadi tambahan wawasan bagi petani dalam menghadapi permasalahan organisme pengganggu tanaman.

Meski dimulai dari kegiatan sederhana, edukasi seperti ini diharapkan dapat menambah wawasan petani mengenai berbagai alternatif pengelolaan tanaman. Dengan semakin banyaknya pengetahuan yang dimiliki, masyarakat dapat menentukan metode yang paling sesuai dengan kondisi lahan dan kebutuhan pertanian di Desa Pucangluwuk.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

NZ
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.