mahasiswa kkn upn veteran jawatimur kenalkan teknologi iot untuk pembibitan durian di desa wonomerto - News | Good News From Indonesia 2026

Mahasiswa KKN UPN Veteran Jatim Kenalkan Teknologi IoT untuk Pembibitan Durian di Desa Wonomerto

Mahasiswa KKN UPN Veteran Jatim Kenalkan Teknologi IoT untuk Pembibitan Durian di Desa Wonomerto
images info

Penyerahan alat monitoring kelembapan tanah berbasis IoT kepada perwakilan Gapoktan Desa Wonomerto. Dokumentasi KKN 33 UPN "Veteran" Jawa Timur.


Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Bela Negara Kelompok 33 UPN "Veteran" Jawa Timur terus menghadirkan berbagai program yang bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat melalui pemanfaatan teknologi dan inovasi. Salah satu kegiatan yang diselenggarakan adalah sosialisasi yang bertema "Inovasi Teknologi Tepat Guna pada Lahan Pertanian" yang berlangsung di Desa Wonomerto, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang.

Kegiatan yang diselenggarakan diikuti oleh anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan juga Masyarakat setempat. Melalui sosialisasi ini, mahasiswa memperkenalkan penerapan teknologi Internet of Things (IoT) untuk membantu memantau tingkat kelembapan tanah pada pembibitan durian. Selain itu, peserta juga memperoleh edukasi mengenai pemanfaatan limbah popok sekali pakai untuk dijadikan Pupuk Organik Cair (POC) melalui proses fermentasi sebagai salah satu solusi pengelolaan limbah yang lebih ramah lingkungan.

Dalam sambutannya, Ketua Pelaksana KKN menyampaikan bahwa perkembangan teknologi seharusnya dapat dimanfaatkan hingga ke sektor pertanian. Menurutnya, penggunaan teknologi tepat guna ini tidak selalu harus rumit atau membutuhkan biaya yang besar. Dengan memanfaatkan alat yang sederhana namun fungsional, petani dapat memperoleh informasi yang lebih akurat mengenai kondisi lahan sebelum melakukan proses budidaya agar menjadi lebih efektif.

baca juga

Mahasiswa KKN 33 UPN Veteran Jawa Timur mendemonstrasikan alat monitoring kelembapan tanah berbasis IoT kepada anggota Gapoktan di Desa Wonomerto, Jombang.

Mahasiswa menjelaskan bahwa salah satu tantangan dalam pembibitan durian adalah menjaga tingkat kelembapan tanah agar tetap sesuai dengan kebutuhan tanaman. Selama ini, banyak petani masih mengandalkan pengalaman dan perkiraan saat menentukan waktu penyiraman. Meskipun cara tersebut telah lama dilakukan, hasilnya terkadang kurang konsisten karena kondisi cuaca dan lingkungan dapat berubah – ubah setiap saat.

Untuk menjawab permasalahan tersebut, mahasiswa memperkenalkan alat pemantau kelembapan tanah berbasis IoT yang mampu memberikan informasi mengenai kondisi media tanam secara lebih cepat. Dengan mengetahui tingkat kelembapan tanah, petani dapat menentukan waktu penyiraman yang lebih tepat sehingga bibit durian tumbuh menjadi lebih optimal.

Pada sesi penyampaian materi, mahasiswa memperlihatkan cara kerja alat menggunakan tiga sampel media tanam, yaitu tanah kering, tanah lembap, dan tanah basah. Sensor yang dipasang pada masing-masing media menampilkan hasil pembacaan yang berbeda sesuai kondisi tanah. Melalui praktik tersebut, peserta dapat melihat secara langsung bagaimana teknologi mampu membantu mengidentifikasi tingkat kelembapan tanpa harus mengandalkan perkiraan semata.

Suasana sosialisasi berlangsung interaktif. Para peserta terlihat antusias memperhatikan proses penyampaian materi, serta peserta yang hadir juga mengajukan berbagai pertanyaan mengenai penggunaan alat, biaya pembuatan, hingga kemungkinan penerapannya pada lahan pertanian mereka. Diskusi yang berlangsung menunjukkan besarnya minat masyarakat terhadap inovasi yang dapat membantu meningkatkan produktivitas pertanian di desa Wonomerto.

Salah seorang anggota Gapoktan mengaku memperoleh pengetahuan baru setelah mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, alat pemantau kelembapan tanah akan sangat membantu petani dalam merawat bibit durian, terutama pada musim kemarau ketika kebutuhan air tanaman menjadi lebih sulit diperkirakan.

"Dengan adanya alat ini kami sangat terbantu, Mas dan Mbak. Selama ini kami masih mengira-ngira kadar kelembapan tanah saat menyiram bibit. Sekarang jadi lebih yakin kapan bibit perlu disiram," ujar salah satu anggota Gapoktan.

Selain memperkenalkan teknologi IoT, mahasiswa juga memberikan materi mengenai pemanfaatan limbah popok sekali pakai menjadi pupuk organik cair melalui proses fermentasi. Edukasi ini diberikan sebagai upaya mengenalkan alternatif pengelolaan limbah rumah tangga yang lebih bermanfaat sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.

Mahasiswa menjelaskan bahwa limbah popok merupakan salah satu jenis sampah yang jumlahnya terus meningkat setiap tahun. Apabila tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut dapat menumpuk di tempat pembuangan akhir maupun mencemari lingkungan sekitar. Oleh karena itu, diperlukan inovasi yang mampu mengurangi dampak negatif limbah sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Dalam sesi tersebut, peserta diberikan penjelasan mengenai tahapan pengolahan limbah popok melalui proses fermentasi hingga dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair. Mahasiswa juga menjelaskan manfaat pupuk organik bagi tanaman, khususnya dalam membantu memperbaiki kualitas tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman apabila digunakan sesuai kebutuhan.

Materi mengenai pengelolaan limbah ini turut mendapat perhatian dari peserta. Salah seorang warga mengaku selama ini belum pernah memperoleh informasi mengenai pemanfaatan limbah popok dan menganggap materi tersebut menjadi pengetahuan baru yang bermanfaat bagi masyarakat.

Mahasiswa KKN 33 UPN Veteran Jawa Timur bersama warga mempraktikkan pembuatan pupuk organik cair dari limbah popok sekali pakai.

Salah seorang warga mengaku materi tersebut memberikan wawasan baru.

"Selama saya di sini, jarang ada yang memberikan ilmu tentang pengolahan limbah popok. Kebanyakan warga masih terbawa mitos bahwa popok tidak boleh dibakar dan harus dibuang, padahal hal tersebut justru menyebabkan limbah terus menumpuk dan berpotensi mencemari sungai maupun laut. Dengan adanya ilmu tentang pengolahan popok ini, kami berharap limbah dapat dikelola dengan lebih baik, mengurangi pencemaran lingkungan, serta memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk untuk pertanian," ungkap salah seorang peserta.

baca juga

Melalui kegiatan sosialisasi ini, Mahasiswa KKN Bela Negara Kelompok 33 berharap masyarakat Desa Wonomerto semakin terbuka terhadap penerapan teknologi tepat guna di bidang pertanian. Pemanfaatan teknologi IoT diharapkan mampu membantu petani dalam mengambil keputusan yang lebih tepat selama proses pembibitan durian, sedangkan inovasi pengolahan limbah menjadi pupuk organik cair dapat menjadi salah satu langkah sederhana untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Mahasiswa juga berharap pengetahuan yang telah dibagikan selama kegiatan tidak berhenti pada tahap sosialisasi saja, tetapi dapat diterapkan dan dikembangkan oleh masyarakat secara berkelanjutan. Dengan mengombinasikan pemanfaatan teknologi dan inovasi ramah lingkungan, sektor pertanian di Desa Wonomerto diharapkan mampu berkembang lebih baik serta memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung terciptanya lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KW
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.