mahasiswa kknt ipb kenalkan varietas unggul padi gogo ipb 9g dan pembuatan pgpr sebagai solusi peningkatan produktivitas pertanian di desa kajenengan - News | Good News From Indonesia 2026

Mahasiswa KKNT IPB Kenalkan Varietas Unggul Padi Gogo IPB 9G dan Pembuatan PGPR sebagai Solusi Peningkatan Produktivitas Pertanian di Desa Kajenengan

Mahasiswa KKNT IPB Kenalkan Varietas Unggul Padi Gogo IPB 9G dan Pembuatan PGPR sebagai Solusi Peningkatan Produktivitas Pertanian di Desa Kajenengan
images info

Mahasiswa KKNT IPB bersama perwakilan kelompok tani di Desa Kajenengan setelah pelaksanaan Program Tani Lestari


Mahasiswa KKNT IPB di Desa Kajenengan memperkenalkan varietas unggul padi gogo IPB 9G, edukasi hama, dan penyakit pada padi, sekaligus memperkenalkan bakteri Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR) kepada petani di Desa Kajenengan, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal.

Kegiatan yang dilaksanakan pada 24 Juli 2026 ini menjadi bagian dari rangkaian program kerja mahasiswa KKNT IPB dengan tujuan mendorong peningkatan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat kemandirian petani dalam mengelola lahan secara berkelanjutan. 

Padi IPB 9G Sebagai Solusi bagi Lahan Kering 

Sebagian besar lahan pertanian di Desa Kajenengan tergolong lahan kering dengan ketersediaan air yang terbatas, terlebih pada musim kemarau atau saat curah hujan tidak menentu. Kondisi ini membuat petani kesulitan mengandalkan padi sawah konvensional yang membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar, sehingga banyak lahan yang tidak berproduksi secara optimal. 

Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa KKNT IPB memperkenalkan padi gogo IPB 9G sebagai solusi yang lebih adaptif. Varietas ini dikembangkan agar mampu tumbuh optimal pada lahan dengan pasokan air terbatas, sehingga menjadi alternatif strategis bagi petani Desa Kajenengan di tengah kondisi lahan kering dan pola curah hujan yang semakin tidak menentu.

Mengenal Hama dan Penyakit pada Padi sebagai Langkah Awal Pengendalian yang Tepat

Mahasiswa KKNT IPB juga memberikan pemahaman dasar mengenai berbagai jenis hama dan penyakit yang umum menyerang tanaman padi di Desa Kajenengan, mulai dari faktor pemicu hingga gejala serangan hama dan penyakit yang timbul pada padi.

Selain itu, mahasiswa juga turut memaparkan berbagai cara pengendalian yang dapat diterapkan oleh petani, baik melalui pendekatan pengamatan rutin di lapangan hingga penjelasan mengenai rekomendasi dosis. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai hama dan penyakit, petani diharapkan mampu bertindak lebih cepat dan tepat sasaran, sehingga risiko kehilangan hasil panen dapat ditekan.

PGPR sebagai Pupuk Hayati Ramah Lingkungan

Mahasiswa dan Petani Melakukan Praktik Pembuatan PGPR
info gambar

Mahasiswa dan Petani Melakukan Praktik Pembuatan PGPR


Sebagai kelanjutan dari materi pengendalian hama dan penyakit, mahasiswa KKNT IPB juga mengadakan sosialisasi sekaligus praktik pembuatan PGPR, yaitu kelompok bakteri yang hidup di sekitar perakaran tanaman dan berperan membantu pertumbuhan tanaman secara alami. 

Dalam praktiknya, mahasiswa KKNT IPB mendemonstrasikan tahapan pembuatan larutan PGPR menggunakan bahan-bahan yang mudah didapatkan di lingkungan sekitar, sementara petani mengamati sekaligus berdiskusi mengenai proses dan prinsip di baliknya. Melalui pendekatan ini, petani diharapkan dapat memahami cara kerja PGPR sehingga mampu menerapkannya secara mandiri dan berkelanjutan setelah masa KKNT berakhir.

Penggunaan PGPR menjadi bagian dari solusi untuk menekan biaya produksi pertanian, mengingat harga pupuk kimia yang kerap menjadi beban tersendiri bagi petani di Desa Kajenengan dan kurangnya ketersediaan pupuk kimia. Selain itu PGPR juga dinilai lebih ramah lingkungan karena tidak meninggalkan residu kimia pada tanah maupun hasil panen.

baca juga

Sambutan Positif dari Petani Desa Kajenengan

Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari petani setempat. Antusiasme terlihat dari partisipasi aktif peserta, baik dalam sesi pemaparan materi maupun praktik langsung pembuatan PGPR di lapangan.

Oleh karena itu, pendampingan dan edukasi berkelanjutan dinilai tetap diperlukan agar hasil dari program ini dapat dirasakan secara nyata dalam jangka panjang.

Sinergi untuk Ketahanan Pangan

Program pengenalan padi gogo IPB 9G dan PGPR, serta edukasi hama dan penyakit padi ini merupakan wujud nyata sinergi antara mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah daerah dalam mendorong sektor pertanian yang lebih produktif dan berkelanjutan.

Melalui pendekatan berbasis sains yang diterapkan secara sederhana dan mudah diadopsi oleh petani, mahasiswa KKNT IPB berharap program ini dapat menjadi langkah awal bagi Desa Kajenengan untuk mengoptimalkan potensi lahan pertaniannya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

SF
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.