Sampah organik rumah tangga yang selama ini kerap berakhir sebagai limbah ternyata dapat dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan pertanian. Melalui program POCTANI (Pupuk Organik Cair untuk Petani), Tim KKNT Inovasi IPB University Kelompok Katulampa mengajak masyarakat memanfaatkan sampah organik dan bahan-bahan sederhana yang tersedia di rumah menjadi pupuk organik cair (POC) dan insektisida alami.
Kegiatan yang diikuti oleh 37 peserta dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Kapulaga, warga RW 09 dan RW 19, serta masyarakat sekitar ini menjadi ruang belajar sekaligus praktik bagi masyarakat untuk mengenal alternatif pemanfaatan limbah rumah tangga dalam mendukung budidaya tanaman yang lebih ramah lingkungan.
Program POCTANI dilaksanakan sebagai respons terhadap masih tingginya ketergantungan pada pupuk dan pestisida kimia serta belum optimalnya pemanfaatan limbah organik rumah tangga. Melalui edukasi dan praktik langsung, masyarakat dinalkan pada cara sederhana mengolah bahan yang tersedia di sekitar menjadi produk yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan budidaya. Upaya tersebut sekaligus mendukung pengembangan urban farming dan praktik pertanian ramah lingkungan di Kelurahan Katulampa.
Mengubah Sampah Dapur Menjadi POC

Pembuatan pupuk organik cair oleh KWT Kapulaga Katulampa (Dokumentasi Pribadi)
Salah satu kegiatan utama dalam POCTANI adalah praktik pembuatan POC berbahan dasar sampah organik rumah tangga. POC dihasilkan melalui proses fermentasi bahan organik dengan bantuan mikroorganisme. Melalui proses tersebut, bahan organik diuraikan menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga dapat lebih mudah dimanfaatkan oleh tanaman.
Bahan yang digunakan dalam praktik terdiri atas 2 kg sampah organik, sekitar 3,6 liter air cucian beras, 50 ml EM4, dan 100 ml molase. Air cucian beras berperan sebagai sumber nutrisi bagi mikroorganisme, EM4 menyediakan mikroorganisme yang membantu proses penguraian, sedangkan molase menjadi sumber energi selama proses fermentasi.
Setelah seluruh bahan dicampurkan dan diaduk hingga merata, wadah ditutup dan disimpan di tempat teduh selama 14–21 hari. Selama proses fermentasi, wadah perlu dibuka secara berkala untuk mengeluarkan gas yang terbentuk. Peserta juga diberikan pemahaman mengenai ciri-ciri POC yang berhasil, antara lain berwarna cokelat kekuningan hingga cokelat gelap, memiliki aroma asam fermentasi seperti tape, tidak berbau busuk, serta tidak terdapat belatung.
POC yang telah selesai difermentasi dapat dimanfaatkan melalui penyiraman pada tanah maupun penyemprotan pada daun dengan pengenceran sesuai kebutuhan. Hasil fermentasi juga dipraktikkan secara langsung dalam kegiatan Pangan Lestari. Pemanfaatan POC diharapkan dapat membantu menyediakan unsur hara bagi tanaman sekaligus menjadi salah satu cara untuk mengurangi limbah organik rumah tangga.
Bawang Putih dan Cabai sebagai Insektisida Alami

Pembuatan insektisida alami dari bahan dapur (Dokumentasi Pribadi)
Selain mengolah limbah organik menjadi POC, Tim KKNT IPB University Kelompok Katulampa juga mengenalkan pembuatan insektisida alami dengan memanfaatkan bahan yang mudah ditemukan di rumah, yaitu bawang putih dan cabai rawit.
Formulasi yang diperkenalkan terdiri atas 50 gram bawang putih, 20 gram cabai rawit, dan 1,5 liter air. Peserta juga diperkenalkan pada penggunaan 3 ml sabun cair sebagai bahan tambahan yang bersifat opsional untuk membantu larutan menempel dan menyebar pada permukaan daun.
Bawang putih dan cabai dipilih karena memiliki senyawa aktif yang dapat membantu mengganggu aktivitas serangga. Bawang putih mengandung allicin, sedangkan cabai mengandung capsaicin. Larutan tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu mengendalikan beberapa jenis hama tanaman, seperti kutu daun, trips, kutu kebul, ulat daun, dan belalang kecil.
Dalam penggunaannya, sebanyak 250 ml insektisida alami dicampurkan dengan 750 ml air. Larutan kemudian dapat disemprotkan terutama pada bagian bawah permukaan daun pada pagi atau sore hari dan diaplikasikan kembali setiap 5–7 hari sesuai kebutuhan.
Praktik Langsung Jadi Kunci Pembelajaran
Tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, POCTANI dirancang sebagai kegiatan yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk terlibat secara langsung. Setelah mendapatkan penjelasan mengenai POC dan insektisida alami, peserta mengikuti demonstrasi serta praktik pembuatannya. Sesi diskusi dan tanya jawab juga dilakukan agar peserta dapat memahami setiap tahapan sekaligus mendiskusikan penerapannya di rumah.
Antusiasme terlihat dari keterlibatan peserta selama kegiatan berlangsung. Bagi sebagian peserta, pembuatan POC menjadi pengalaman baru sekaligus membuka wawasan mengenai pemanfaatan bahan-bahan yang selama ini mudah ditemukan di lingkungan rumah. Bu Nurul dari PKK Kelurahan Katulampa turut menyampaikan bahwa kegiatan POCTANI memberikan pengetahuan yang bermanfaat dan mudah diterapkan dalam aktivitas bercocok tanam sehari-hari.
“Kegiatannya sangat bermanfaat. Penyampaiannya ringan sehingga mudah dipahami dan diingat. Pembuatan POC juga mudah dengan bahan-bahan yang tersedia di rumah, sehingga bisa dipraktikkan sendiri untuk membantu kegiatan menanam sayuran di rumah maupun di KWT,” ujar Bu Nurul dari PKK Kelurahan Katulampa.
Respons positif tersebut menunjukkan bahwa pendekatan edukasi yang disertai praktik langsung dapat membantu masyarakat memahami sekaligus menerapkan pemanfaatan bahan-bahan sederhana di lingkungan sekitar untuk mendukung kegiatan pertanian.
Langkah Sederhana Menuju Pertanian Berkelanjutan
Melalui POCTANI, Tim KKNT IPB University Kelompok Katulampa berupaya memperkenalkan sudut pandang bahwa limbah rumah tangga tidak selalu berakhir sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi masih dapat diolah menjadi sumber daya yang bermanfaat. Sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan POC, sementara bahan dapur seperti bawang putih dan cabai dapat diolah menjadi insektisida alami.
Keberhasilan program ini tidak hanya dilihat dari terlaksananya kegiatan edukasi dan praktik, tetapi juga dari sejauh mana pengetahuan yang diberikan dapat diterapkan kembali oleh masyarakat secara mandiri. Dengan bahan yang relatif mudah diperoleh dan proses pembuatan yang sederhana, praktik yang diperkenalkan melalui POCTANI diharapkan dapat terus dilakukan setelah kegiatan berakhir.
Melalui langkah sederhana dari lingkungan rumah tangga, POCTANI diharapkan dapat mendorong pemanfaatan limbah secara lebih produktif sekaligus memperkuat praktik urban farming di Kelurahan Katulampa. Program ini menjadi salah satu upaya Tim KKNT IPB University Kelompok Katulampa dalam mendukung tumbuhnya kebiasaan pertanian yang lebih mandiri, ramah lingkungan, dan berkelanjutan di tengah masyarakat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


