Kawan GNFI, ketika hujan berhenti terlalu lama, air yang biasanya datang dari langit harus didatangkan menggunakan truk.
Situasi seperti itu mulai dirasakan oleh masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia pada musim kemarau 2026. Di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah misalnya, kekeringan yang berlangsung sejak pertengahan Juni telah berdampak pada 3.330 kepala keluarga atau 10.908 jiwa hingga 21 Juli.
Untuk memenuhi kebutuhan warga, distribusi air bersih telah dilakukan menggunakan 321 tangki dengan total sekitar 1.605 juta liter air.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kekeringan bukan sekedar perkara cuaca panas. Ketika berlangsung cukup lama, berkurangnya hujan dapat memengaruhi ketersediaan air untuk rumah tangga, pertanian, hingga lingkungan. Dan tahun ini, Indonesia memang perlu lebih waspada.
Kemarau Meluas, Hujan Makin Jarang
Kawan GNFI, berdasarkan analisis BMKG hingga akhir Juli 2026, sebanyak 73,8 persen wilayah Indonesia atau 516 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau.
Kondisi kering diperkirakan masih berlanjut pada pertengahan Agustus, ketika sejumlah wilayah mulai mengalami puncak musim kemarau.
Sebelumnya BMKG memprediksi 429 ZOM atau 61,4 persen wilayah yang memiliki pola musim kemarau akan mengalami puncak kemarau pada Agustus. BMKG juga memperkirakan sebagian besar wilayah mengalami sifat musim kemarau lebih kering dari kondisi normal.
Kondisi tersebut turut dipengaruhi oleh dinamika iklim global. BMKG menyebut penguatan El Nino dan kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) yang cenderung positif berkontribusi terhadap berkurangnya suplai hujan di Indonesia. Pada periode 11-17 Agustus hujan diperkirakan semakin jarang di sejumlah wilayah.
Namun, kekeringan bukan hanya tentang hujan yang sedikit.
Secara sederhana, kekeringan metereologis terjadi ketika curah hujan berada di bawah kondisi normal dalam periode tertentu. Jika berlangsung lebih lama, dampaknya dapat merambet pada ketersediaan air di sungai, waduk, maupun sumber air lainnya. Di sektor pertanian, berkurangnya kelembapan tanah juga dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.
Kekeringan adalah persoalan tentang ketersediaan air dari waktu ke waktu.
Ketika Air Mulai Sulit Ditemukan
Kawan GNFI, kasus Klaten memperlihatkan bagaimana persoalan tersebut sampai ke tingkat rumah tangga.
Di sejumlah wilayah Kecamatan Kemalang, masyarakat harus bergantung pada distribusi air bersih ketika sumber air semakin sulit diakses. Hingga 21 Juli, ribuan kepala keluarga telah terdampak.
Situasi serupa juga muncul di wilayah lain. BNPB mencatat kekeringan berdampak pada 9.002 jiwa di Banyumas dan 27.605 jiwa di Cilacap pada periode yang sama. Pemerintah daerah melakukan distribusi air bersih sebagai bagian dari penanganan dampak kekeringan.
Persoalan kemudian tidak berhenti pada kebutuhan air rumah tangga. Ketika ketersediaan air menurun, sektor pertanian juga menghadapi tekanan karena kebutuhan irigasi harus bersaing dengan kebutuhan domestik.
Kekeringan akhirnya dapat berkembang menjadi persoalan ketahanan pangan ketika air yang tersedia tidak lagi cukup untuk mendukung kegiatan pertanian
Indonesia Sebenarnya Sudah Bersiap
Namun, mengatakan Indonesia tidak siap menghadapi kekeringan juga tidak sepenuhnya tepat.
Indonesia telah memiliki sistem pemantauan dan peringatan dini melalui BMKG. Di tingkat penanganan, pemerintah juga melakukan berbagai intervensi untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat dan mempertahankan produktivitas pertanian.
Kementerian Pekerjaan Umum, misalnya, melaporkan telah menangani 492 titik kekeringan hingga Agustus 2026. Penanganan tersebut mencakup 105 lokasi sawah dengan luas sekitar 22.120 hektare serta 387 lokasi permukiman yang membutuhkan layanan air bersih untuk sekitar 155.228 jiwa. Dari keseluruhan lokasi tersebut, 442 telah selesai ditangani, sementara 50 lainnya masih dalam proses.
Data tersebut menunjukkan bahwa respons terhadap kekeringan sudah berjalan. Namun, skala penanganan juga menunjukkan betapa luasnya kebutuhan intevensi ketika musim kemarau puncaknya.
Karena itu, kesiapan menghadapu kekeringan tidak cukup diukur dari seberapa banyak air yang dapat dikirimkan ketika sumber air mengering.
Dari Peringatan Dini menjadi Tindakan
Kawan GNFI, tantangan yang lebih besar adalah bagaimana informasi mengenai ancaman kekeringan diterjemahkan menjadi tindakan sebelum dampaknya meluas.
BMKG telah menyediakan prediksi musim, pemantauan kondisi atmosfer, serta peringatan dini kekeringan. Informasi tersebut seharusnya menjadi dasar bagi pemerintah dan masyrarakat untuk mengambil langkah lebih awal, mulai dari mengatur pola tanam, mengelola sumber air, menyiapkan distribusi air bersih, hingga melindungi wilayah yang paling rentan.
Prinsip inilah yang dikenal sebagai Early Warning menjadi Early Action peringatan dini tidak berhenti sebagai informasi, tetapi diterjemahkan menjadi tindakan nyata. BMKG menekankan penitngnya rantai informasi yang dapat ditindaklanjuti agar peringatan dini benar-benar membantu mengurangi risiko.
Indonesia memang tidak dapat menentukan kapan hujan akan turun. Namun, Indonesia dapat menentukan seberapa siap ketika hujan tidak kunjung datang.
Sebab menghadapi kekeringan bukan hanya menunggu langit kembali basah. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa sebelum hujan berikutnya tiba, masyarakat tetap memiliki akses terhadap air yang mereka butuhkan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


