Bau amis langsung terasa ketika 7 mahasiswa KKN-T IPB University pertama kali mencoba membuat nugget ikan di dapur. Mereka sedang menyiapkan resep yang nantinya akan dibawa ke warga Desa Solokanjeruk. Adonan pertama sebenarnya sudah berhasil dibentuk dan digoreng. Rasanya pun tidak buruk. Masalahnya satu, bau ikan masih terlalu kuat.
Kalau nugget itu dimakan orang dewasa, mungkin tidak terlalu menjadi persoalan. Namun, mengingat targetnya juga mencakup anak-anak, ditambah lagi mereka yang selama ini memang kurang suka makan ikan.
Setelah proses diskusi dan pencarian solusi, tim akhirnya menemukan satu bahan yang cukup membantu mengatasi masalah tersebut, yakni keju.
Tambahan keju membuat rasa nugget lebih gurih sekaligus mengurangi bau amis yang sebelumnya masih terasa. Resep itu kemudian dibawa ke Sekretariat PKK Desa Solokanjeruk untuk dipraktikkan bersama ibu-ibu PKK pada Kamis, 6 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program ONUPA, singkatan dari "Pengolahan Nugget dari Patin", salah satu program kerja KKN-T IPB University di Desa Solokanjeruk.
Gagasan membuat nugget berangkat dari kondisi perikanan di desa. Budidaya ikan lele aktif dilakukan warga baik secara perorangan maupun BUMDes dan Karang Taruna. Namun, sebagian besar ikan hasil panen masih dijual dalam bentuk mentah. Setelah diangkat dari kolam, ikan kemudian dijual kepada pengepul.
Cara penjualan seperti ini memang menjadi jalur yang paling praktis bagi pembudidaya. Ikan tidak perlu diolah terlebih dahulu dan bisa langsung keluar dari desa. Persoalannya, ikan segar memiliki masa simpan yang pendek. Harga juga mengikuti kondisi pasar sehingga nilainya bisa berubah.
Bagi tim KKN, kondisi tersebut membuka kemungkinan untuk mengolah ikan sebelum dijual atau dikonsumsi. Salah satu bentuk olahan yang dipilih adalah nugget. Pertimbangannya bukan hanya soal nilai jual. Ada persoalan lain yang ditemukan tim, yaitu kebiasaan anak-anak yang tidak selalu mau makan ikan dalam bentuk segar.
Ikan masih sering dianggap merepotkan karena durinya. Bau amis juga menjadi alasan lain. Bagi anak-anak, ikan yang sudah digoreng atau dimasak biasa belum tentu menarik untuk dimakan, meskipun bahan tersebut merupakan sumber protein hewani.
Di Desa Solokanjeruk sendiri, populasi anak usia 0 sampai 6 tahun diperkirakan mencapai sekitar 2.300 anak yang tersebar di 15 RW. Kondisi tersebut membuat pilihan makanan untuk anak menjadi salah satu hal yang diperhatikan dalam perencanaan program.
Tim kemudian mencari bentuk olahan yang lebih mudah dimakan anak. Nugget dipilih karena ikan dapat diolah menjadi adonan yang tidak lagi menyisakan masalah duri seperti pada ikan utuh. Bentuknya juga lebih familiar bagi anak-anak. Dari situ, ikan yang biasanya dijual dari kolam dalam keadaan mentah dicoba diolah menjadi makanan yang bisa langsung disajikan di meja makan.
Bahan baku yang direncanakan sejak awal sebenarnya adalah ikan lele. Pilihan itu cukup masuk akal karena lele merupakan salah satu komoditas yang dibudidayakan warga di desa.
Namun, ketika persiapan mulai dilakukan, ketersediaan lele tidak mencukupi kebutuhan program. Tim akhirnya mengganti bahan baku dengan ikan patin.
Pergantian itu membuat proses persiapan dimulai lagi. Tim melakukan percobaan resep secara internal sebelum mengajak ibu-ibu PKK memasak bersama. Percobaan pertama menghasilkan nugget yang sudah bisa dimakan, tetapi bau amisnya masih terasa. Dari proses pencarian solusi, keju kemudian dipilih sebagai salah satu bahan tambahan untuk memperbaiki rasa dan aroma.
Setelah resep dianggap cukup sesuai, tim berkoordinasi dengan Ibu PKK Desa Solokanjeruk untuk mengadakan demonstrasi memasak. Kegiatan dijadwalkan pada Kamis, 6 Agustus 2026, di Sekretariat PKK Solokanjeruk.
Pada hari pelaksanaan, ibu-ibu PKK tidak hanya melihat proses dari awal sampai akhir. Mereka ikut mengerjakan hampir seluruh tahap pembuatan. Bahan-bahan dipotong, bumbu ditumis, bahan dicampur, adonan dibentuk, lalu nugget digoreng. Dari sekitar 300 gram daging ikan patin yang digunakan hari itu, dihasilkan lebih dari 40 butir nugget siap saji.
Bagi ibu-ibu PKK yang hadir, demonstrasi tersebut juga menjadi kesempatan untuk melihat bagaimana ikan bisa diolah menjadi menu lain di rumah.
Seska, Ketua PKK Desa Solokanjeruk, menyampaikan apresiasinya kepada mahasiswa KKN yang datang membawa kegiatan tersebut ke sekretariat PKK. Di sela kegiatan, ia bahkan sempat bercanda kepada tim.
"Kenapa tidak dari hari pertama aja ke PKK?"
Pertanyaan itu disampaikan sambil bercanda karena menurutnya, kalau sejak awal mahasiswa KKN datang ke PKK, mereka bisa sekaligus ikut menikmati masakan yang dibuat ibu-ibu selama berada di desa.
Namun, di balik candaan tersebut, ada satu hal yang cukup terlihat dari responsnya. Ibu-ibu PKK memang sudah terbiasa dengan kegiatan memasak dan terbuka untuk mencoba resep baru.
Menurut Seska, resep nugget ikan yang dipraktikkan bersama kemungkinan besar akan dicoba kembali oleh ibu-ibu di rumah.
Kemungkinan untuk mencoba ulang memang menjadi salah satu alasan resep dan takaran bahan tidak berhenti pada kegiatan demonstrasi. Tim menyerahkan resep kepada pihak PKK agar dapat digunakan kembali setelah program selesai.
Ibu-ibu juga tidak diwajibkan mengikuti resep secara persis. Takaran yang digunakan selama demonstrasi dapat menjadi dasar, kemudian disesuaikan dengan selera keluarga dan bahan yang tersedia di rumah.
Di sisi lain, ikan hasil budidaya warga juga memiliki kemungkinan untuk digunakan sendiri sebagai bahan makanan sebelum dijual.
Selama ini, ikan dari kolam lebih sering bergerak langsung menuju pengepul. Dengan adanya keterampilan pengolahan, jalurnya menjadi sedikit lebih panjang: ikan bisa masuk ke dapur terlebih dahulu sebelum sampai ke meja makan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


