Gagasan menghubungkan pulau terbesar di Indonesia lewat jalur rel rel kereta api kerap memicu rasa penasaran masyarakat. Publik tidak sekadar ingin mengetahui apa itu Proyek Kereta Api Trans Kalimantan, tetapi juga kepastian kapan jalur ini dibangun dan ke mana saja jalurnya membentang.
Pertanyaan mengenai keterhubungan rel dengan Ibu Kota Nusantara (IKN) serta keterlibatan investor asing pun terus mengemuka. Maklum, Kalimantan hingga saat ini menjadi salah satu pulau besar di Indonesia yang belum memiliki jaringan kereta api antarkota untuk angkutan penumpang.
Kondisi tersebut berbeda jika dibandingkan dengan Pulau Sumatra yang telah memiliki jaringan rel antarkota, meskipun belum sepenuhnya terhubung secara menyeluruh dari utara ke selatan.
Sejarah Gagasan dan Alasan Kalimantan Belum Punya Jalur Kereta
Rencana pembangunan perkeretaapian di Kalimantan sejatinya bukan hal yang sepenuhnya baru. Gagasan ini sudah mengemuka sejak belasan tahun lalu sebagai bagian dari Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPN) untuk memperkuat konektivitas kawasan.
Salah satu penyebab utama Kalimantan belum memiliki rel penumpang antarkota adalah tantangan geografis dan kondisi tanah. Sebagian besar bentang alam terdiri dari rawa, lahan gambut, serta sungai-sungai lebar yang membutuhkan teknologi elevated rel atau jembatan panjang.
Selain faktor geografis, tingginya kebutuhan investasi awal serta fokus pembangunan jalan nasional dan jalan tol membuat proyek kereta api di pulau ini sempat tertahan pada tahap kajian.
Rencana Trase, Keterhubungan IKN, dan Skema 2.772 KM
Secara keseluruhan, pemetaan jaringan rel yang digagas untuk mengitari pulau ini diperkirakan mencapai panjang jaringan sekitar 2.772 km. Jalur ini dirancang menghubungkan lima provinsi, mulai dari Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, hingga Kalimantan Utara.
Dalam perencanaannya, trase utama juga dikoneksikan secara langsung dengan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Kehadiran rel kereta api di IKN diproyeksikan sebagai moda transportasi publik modern sekaligus penghubung logistik utama menuju pelabuhan dan bandara terdekat.
Bahkan, terdapat pula wacana megaproyek kereta cepat lintas negara yang menghubungkan wilayah Kalimantan Indonesia dengan Brunei Darussalam serta Malaysia.
Studi Kelayakan, Pembiayaan, dan Minat Investor Asing
Pelaksanaan studi kelayakan (feasibility study) telah dilakukan berulang kali oleh pemerintah maupun pihak swasta. Kendati demikian, besarnya biaya konstruksi membuat pemenuhan skema pembiayaan menjadi tantangan paling krusial.
Proyek ini sempat menarik minat investor asing skala besar. BUMN asal Rusia melalui Russian Railways pernah berkomitmen membangun rel komoditas di Kalimantan Timur, meski pada akhirnya proyek tersebut mengalami penyesuaian dan kendala keberlanjutan.
Selain Rusia, konsorsium dan investor asal China juga dilaporkan memantau potensi investasi perkeretaapian di wilayah ini, terutama jalur yang terhubung langsung dengan kawasan industri serta IKN.
Status Terbaru Proyek Kereta Api Trans Kalimantan
Kini, kepastian mengenai percepatan jaringan kereta di luar Pulau Jawa kembali ditegaskan oleh pemerintah pusat. Langkah tersebut diambil sebagai bagian dari strategi nasional untuk memperkuat konektivitas dan menekan biaya logistik kawasan.
Dilansir dari laman resmi Kemenkoinfrastruktur, penguatan jaringan perkeretaapian di luar Pulau Jawa, termasuk Kalimantan, Sumatra, dan Sulawesi, terus didorong oleh Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono.
Dilansir dari sumber yang sama, penekanan khusus diberikan oleh Menko AHY terkait pentingnya koordinasi lintas kementerian serta penerapan skema pembiayaan kreatif agar proyek tidak hanya bertumpu pada dana APBN sem semata.
Tujuan Logistik, Pemerataan Ekonomi, dan Tantangan Infrastruktur
Tujuan utama pembangunan jaringan kereta ini difokuskan pada pengangkutan logistik hasil bumi seperti batu bara, kelapa sawit, dan komoditas industri. Angkutan kereta api dinilai jauh lebih efisien dan mampu mengurangi beban kerusakan jalan raya.
Dilansir dari Kemenkoinfrastruktur, sektor transportasi kereta api dinilai memiliki tingkat emisi karbon yang sangat kecil, yakni di bawah 1 persen jika dibandingkan dengan moda transportasi darat berbasis jalan raya.
Meskipun potensi keekonomian dan pemerataan ekonomi daerah sangat besar, tahapan pembangunan menghadapi tantangan infrastruktur yang tidak ringan. Pembebasan lahan, kompleksitas struktur tanah gambut, hingga besarnya nilai investasi tetap menjadi kunci utama apakah Kereta Trans Kalimantan dapat direalisasikan secara bertahap dalam jangka menengah dan panjang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


