Ada satu hal yang mungkin sulit kita bantah tentang orang Indonesia. Kita sering sekali mengeluhkan Indonesia, tetapi hampir selalu punya alasan untuk membanggakannya.
Kita bisa mengeluhkan kemacetan, harga kebutuhan yang naik, rupiah yang melemah, ketimpangan pendidikan, sulitnya mencari pekerjaan, hingga kebijakan pemerintah yang tidak sesuai dengan harapan.
Kita bisa menulis kritik panjang di media sosial, mempertanyakan keputusan pejabat, bahkan merasa kecewa dengan arah negara ini. Namun, ketika Indonesia mendapatkan kabar baik, misalnya ketika atlet Indonesia menang di panggung dunia, kita ikut bangga.
Ketika makanan Indonesia dikenal di luar negeri, kita buru-buru membagikannya. Ketika budaya Indonesia tampil di panggung internasional, kita merasa memiliki. Ketika seseorang dari Indonesia berhasil membawa nama bangsa, kita mengatakan dengan bangga, “Ini Indonesia.”
Memang terasa ada sesuatu yang tampak kontradiktif. Kita bisa sangat kecewa terhadap keadaan negara, tetapi pada saat yang sama tetap memiliki rasa cinta yang kuat terhadap Indonesia.
Mungkin karena sebenarnya yang kita persoalkan bukanlah Indonesia itu sendiri, melainkan bagaimana Indonesia sedang dikelola.
Barangkali ini yang terlihat dalam suasana HUT ke-81 Republik Indonesia tahun ini. Di satu sisi, Merah Putih tetap berkibar, upacara tetap berlangsung, perlombaan dan berbagai perayaan kemerdekaan tetap digelar di banyak tempat.
Namun, di ruang digital muncul suara yang berbeda. Sebagian masyarakat menggunakan media sosial untuk menyampaikan kekecewaan terhadap pemerintah, mempertanyakan kebijakan, membicarakan kondisi ekonomi, ketimpangan, hingga berbagai persoalan yang mereka rasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Ada pula yang memilih tidak larut dalam sejumlah euforia perayaan kemerdekaan karena merasa masih terlalu banyak persoalan yang menurut mereka perlu mendapatkan perhatian.
Fenomena tersebut sering kali ditempatkan dalam dua pilihan yang berlawanan. Tidak ikut merayakan dianggap tidak nasionalis, mengkritik pemerintah dianggap membenci negara, dan kecewa kepada pemerintah dianggap sebagai tanda bahwa seseorang sudah tidak mencintai Indonesia.
Padahal, persoalannya mungkin jauh lebih kompleks. Seseorang dapat kecewa kepada pemerintah justru karena ia memiliki harapan yang besar terhadap negaranya. Ia dapat mengkritik karena masih merasa memiliki, dan ia dapat marah karena masih percaya bahwa ada sesuatu yang seharusnya bisa diperbaiki.
“I Love the Culture, the Nation, but Not the Government”
Di tengah percakapan semacam itu, ada satu kalimat yang berseliweran di media sosial “I love the culture, I love the nation, but not the government.” Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi sebenarnya memisahkan tiga hal yang selama ini sering kita campur adukkan, yaitu budaya, bangsa, dan pemerintahan.
Budaya tumbuh jauh sebelum pemerintah hari ini ada. Bangsa dibentuk oleh sejarah, pengalaman, dan kehidupan bersama masyarakat selama puluhan bahkan ratusan tahun. Sementara pemerintah adalah institusi yang mendapatkan mandat untuk mengelola negara dalam suatu periode tertentu.
Karena itu, kecintaan kepada Indonesia tidak semestinya diukur dari seberapa besar seseorang menyetujui pemerintah yang sedang berkuasa. Seorang warga negara dapat mencintai tanah kelahirannya sekaligus menganggap pemerintah perlu bekerja lebih baik.
Ia dapat mencintai kebudayaannya sambil kecewa terhadap kebijakan publik. Ia dapat bangga menjadi orang Indonesia sambil mempertanyakan mengapa masih ada ketimpangan yang belum terselesaikan. Itu bukan sebuah kontradiksi, melainkan bagian dari kesadaran sebagai warga negara.
Indonesia terlalu besar untuk disamakan dengan pemerintah yang sedang mengelolanya. Indonesia adalah masyarakatnya, kebudayaannya, sejarahnya, wilayahnya, bahasa dan tradisinya, juga berbagai harapan yang terus dibawa oleh generasi ke generasi.
Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk mengelola rumah besar itu dengan sebaik-baiknya, tetapi pemerintah bukanlah pemilik tunggal rumah tersebut.
Nasionalisme Tidak Harus Selalu Berupa Tepuk Tangan
Mungkin sudah waktunya kita memperluas cara memandang nasionalisme. Selama ini, nasionalisme sering kali dibayangkan melalui simbol-simbol yang mudah terlihat seperti mengibarkan bendera, mengikuti upacara, menyanyikan lagu kebangsaan, menggunakan pakaian adat, atau mengikuti berbagai perayaan kemerdekaan.
Semua itu tentu merupakan bagian dari cara masyarakat menunjukkan rasa memiliki terhadap bangsa, tetapi nasionalisme seharusnya tidak berhenti pada seremoni.
Nasionalisme juga dapat hadir ketika seorang guru tetap mengajar anak-anak di daerah yang jauh dari pusat pembangunan.
Ketika sebuah komunitas menjaga tradisi lokal agar tidak hilang, ketika anak muda menciptakan karya, atlet-atlet bertanding membawa nama Indonesia ke luar negeri, ketika seorang pekerja menjalankan profesinya dengan jujur, ketika masyarakat bergotong royong membantu tetangganya yang mengalami kesulitan, atau yang saat ini dilakukan oleh masyarakat Sumatra Barat yang mengirim 5 ton rendang untuk saudara-saudaranya di NTT.
Nasionalisme bahkan dapat muncul dalam bentuk yang jauh lebih sederhana, misalnya merawat lingkungan sekitar, menjaga fasilitas publik, menghormati perbedaan, dan melakukan pekerjaan sehari-hari dengan kesadaran bahwa apa yang kita lakukan ikut menentukan seperti apa Indonesia yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, kritik terhadap pemerintah juga tidak semestinya langsung ditempatkan di luar batas nasionalisme. Dalam demokrasi, kritik merupakan salah satu cara masyarakat menunjukkan kepedulian terhadap bagaimana negara dikelola.
Ketika seseorang mempertanyakan kebijakan pendidikan, ia sedang berbicara tentang masa depan anak-anak Indonesia. Ketika seseorang mempertanyakan ketimpangan pembangunan, ia sedang mempertanyakan apakah kemerdekaan benar-benar dirasakan secara merata, atau sebaliknya?
Ketika masyarakat meminta pemerintah lebih transparan dan akuntabel, mereka bukan sedang meminta negara menjadi lemah, melainkan berharap institusi negara bekerja lebih baik.
Tentu saja, tidak semua kritik otomatis benar. Tidak semua kemarahan di media sosial memiliki dasar yang kuat, dan tidak semua tuduhan dapat dibenarkan.
Kritik yang sehat tetap membutuhkan data, konteks, dan tanggung jawab. Namun, keberadaan kritik itu sendiri tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman terhadap nasionalisme.
Kritik adalah Salah Satu Cara Merawat Rumah
Bayangkan sebuah rumah yang kita cintai. Ketika atapnya bocor, tentu kita tidak akan menganggap keluhan sebagai bukti bahwa kita membenci rumah tersebut. Ketika listrik bermasalah atau salah satu bagian rumah rusak, kita juga tidak akan memilih untuk pura-pura tidak melihatnya hanya demi mempertahankan kesan bahwa rumah tersebut baik-baik saja. Justru karena rumah itu penting bagi kita, kita ingin memperbaikinya.
Indonesia pun demikian.
Kritik terhadap pemerintah seharusnya tidak otomatis diterjemahkan sebagai kebencian terhadap negara. Persoalannya kemudian adalah bagaimana kritik tersebut disampaikan dan apa yang kita lakukan setelahnya.
Kritik yang berbasis data tentu lebih berguna daripada sekadar kemarahan, sementara kritik yang menawarkan alternatif memiliki kemungkinan lebih besar menghasilkan perubahan daripada kritik yang hanya berhenti pada menyalahkan.
Di sinilah masyarakat juga memiliki tanggung jawab. Media sosial memberikan kesempatan yang sangat besar kepada masyarakat untuk bersuara. Namun, kesempatan tersebut juga perlu diikuti dengan tanggung jawab untuk memeriksa informasi, membedakan fakta dari opini, dan tidak menjadikan perbedaan pandangan sebagai alasan untuk saling merendahkan.
Jangan Sampai Kritik Berubah jadi Sinisme
Meski demikian, ada satu hal yang juga perlu kita waspadai. Kekecewaan memang wajar, tetapi kekecewaan yang terus-menerus tanpa harapan dapat berubah menjadi sinisme.
Kritik mengatakan bahwa ada sesuatu yang belum baik dan perlu diperbaiki, sedangkan sinisme membuat kita percaya bahwa tidak ada lagi yang bisa diperbaiki.
Keduanya mungkin terlihat serupa di media sosial, tetapi membawa konsekuensi yang berbeda bagi kehidupan masyarakat.
Jika seluruh kekecewaan akhirnya hanya bermuara pada anggapan bahwa Indonesia selalu gagal, pemerintah selalu buruk, dan tidak ada sesuatu pun yang dapat dilakukan, kita justru kehilangan sesuatu yang penting, yaitu keyakinan bahwa perubahan masih mungkin terjadi.
Padahal, perjalanan Indonesia sejak kemerdekaan tidak pernah benar-benar merupakan perjalanan yang sempurna. Ada keberhasilan, ada kegagalan, ada kebijakan yang berhasil dan ada pula yang kemudian harus dikoreksi. Indonesia bergerak karena ada orang-orang yang melihat persoalan tetapi tidak memilih untuk berhenti pada keluhan.
Ada guru yang tetap mengajar, relawan yang membantu masyarakat ketika bencana, komunitas yang menjaga budaya, peneliti yang mencari solusi, pelaku usaha yang menciptakan lapangan pekerjaan, jurnalis yang mengawasi kekuasaan, hingga masyarakat biasa yang memilih untuk peduli terhadap lingkungan di sekitarnya.
Mereka mungkin tidak selalu terlihat dalam perdebatan politik yang ramai di media sosial, tetapi pekerjaan mereka merupakan bagian dari cara Indonesia bergerak maju.
Indonesia Bukan Pemerintah
Pada akhirnya, mungkin ini yang paling penting untuk kita ingat juga setiap bulan Agustus, Indonesia bukan pemerintah.
Pemerintahan akan berganti. Kebijakan dapat berubah. Presiden, menteri, kepala daerah, dan pejabat publik pada akhirnya akan berganti dengan generasi berikutnya. Namun, Indonesia tetap ada sebagai rumah bersama bagi masyarakat yang hidup di dalamnya.
Karena itu, rasa cinta kepada Indonesia tidak seharusnya menjadi alat untuk membungkam kritik terhadap pemerintah. Begitu pula kritik kepada pemerintah tidak semestinya menjadi alasan untuk merendahkan orang lain yang memilih merayakan kemerdekaan dengan cara yang berbeda.
Ada masyarakat yang merayakan kemerdekaan dengan mengibarkan bendera di depan rumah. Ada yang mengikuti upacara, mengadakan perlombaan, melakukan kegiatan sosial, atau sekadar berkumpul bersama keluarga. Ada pula yang memilih menggunakan momentum kemerdekaan untuk bertanya “sudah sejauh mana kemerdekaan benar-benar dirasakan oleh seluruh masyarakat?”
Pertanyaan tersebut tidak membuat seseorang otomatis menjadi kurang nasionalis. Sebab mempertanyakan kondisi negara juga merupakan bagian dari kehidupan sebagai warga negara.
Indonesia bukan milik pemerintah tertentu, bukan milik partai politik tertentu, dan bukan pula milik kelompok masyarakat yang merasa paling berhak menentukan siapa yang nasionalis dan siapa yang tidak.
Indonesia adalah milik seluruh warga negaranya, termasuk mereka yang sedang kecewa, mereka yang sedang mengkritik, dan mereka yang masih berharap.
Kemerdekaan Juga Berarti Berani Berharap
Ada alasan mengapa kekecewaan sebenarnya tidak selalu harus dilihat sebagai sesuatu yang negatif. Seseorang hanya dapat kecewa ketika sebelumnya ia memiliki harapan. Kita kecewa ketika merasa sesuatu seharusnya bisa berjalan lebih baik, ketika kita percaya bahwa sebuah janji seharusnya dipenuhi, atau ketika kita melihat jarak antara keadaan yang ada dengan keadaan yang kita bayangkan.
Karena itu, di balik banyak kritik terhadap pemerintah sebenarnya terdapat sebuah harapan yang sangat sederhana, yaitu ingin melihat Indonesia menjadi lebih baik.
Masyarakat ingin pendidikan yang lebih baik karena mereka ingin anak-anak Indonesia memiliki masa depan. Masyarakat ingin lapangan pekerjaan yang lebih luas dan adil karena mereka ingin dapat hidup dengan layak di negeri sendiri.
Masyarakat ingin pembangunan yang lebih merata karena mereka ingin tempat tinggal mereka juga mendapatkan kesempatan untuk berkembang.
Masyarakat ingin pemerintahan yang transparan karena mereka ingin percaya bahwa negara bekerja untuk kepentingan publik, bukan kepentingan segelintir orang tertentu.
Bukankah semua itu juga merupakan bentuk cinta kepada Indonesia?
Kemerdekaan mungkin memang berarti bebas dari penjajahan, tetapi setelah 81 tahun, makna kemerdekaan tidak seharusnya berhenti di sana. Kemerdekaan juga berarti berani berharap bahwa kehidupan di negeri sendiri dapat terus diperbaiki. Ia berarti berani membayangkan Indonesia yang lebih adil, lebih sejahtera, lebih terbuka, dan lebih mampu memberikan kesempatan kepada seluruh masyarakatnya.
Dan ketika realitas belum sesuai dengan harapan tersebut, kritik menjadi salah satu cara untuk mengingatkan bahwa pekerjaan itu belum selesai.
Jadi, Apakah Kita Masih Cinta Indonesia?
Mungkin jawabannya dapat dilihat dari hal-hal yang sebenarnya sangat sederhana. Mengapa kita marah ketika Indonesia dipandang rendah oleh bangsa lain? Mengapa kita bangga ketika anak Indonesia berprestasi?
Mengapa kita tetap memperkenalkan makanan, bahasa, musik, dan budaya Indonesia kepada orang lain? Mengapa kita ingin jalan di kota kita lebih baik, sekolah di daerah terpencil mendapatkan fasilitas yang layak, masyarakat miskin memiliki kesempatan yang lebih besar, dan pemerintah bekerja lebih transparan?
Karena pada dasarnya kita masih berharap.
Kita mungkin tidak selalu menyukai bagaimana Indonesia sedang dikelola, tetapi itu tidak berarti kita berhenti mencintai negeri ini. Kita mungkin kecewa kepada pemerintah, tetapi kita masih ingin melihat anak-anak kita tumbuh dan memiliki masa depan di Indonesia.
Kita mungkin mengkritik kebijakan hari ini, tetapi kita masih ingin melihat Indonesia menjadi negara yang lebih baik pada tahun-tahun berikutnya.
Mungkin karena itu, kalimat “saya kecewa kepada pemerintah” tidak selalu berarti “saya tidak cinta Indonesia.” Bisa jadi justru sebaliknya, saya kecewa karena saya tahu Indonesia bisa lebih baik.
Pada HUT ke-81 Republik Indonesia ini, mungkin kita tidak perlu memaksa semua orang menunjukkan nasionalismenya dengan cara yang sama. Tidak semua cinta harus berbentuk perayaan.
Ada cinta yang berbentuk kebanggaan terhadap budaya, ada yang berbentuk gotong royong, ada yang berbentuk pekerjaan yang dilakukan dengan jujur, ada yang berbentuk keberanian menjaga lingkungan, dan ada pula yang berbentuk kritik terhadap sesuatu yang dianggap belum berjalan sebagaimana mestinya.
Sebab mencintai Indonesia bukan berarti percaya bahwa Indonesia sudah sempurna. Mencintai Indonesia berarti percaya bahwa negeri ini layak diperjuangkan agar menjadi lebih baik.
Jadi, ketika seseorang mengatakan dirinya kecewa kepada pemerintah, mungkin kita tidak perlu buru-buru bertanya, “Kamu masih cinta Indonesia?” Sebab bisa jadi jawabannya justru sangat sederhana: “Bohong kalau saya tidak cinta Indonesia. Justru karena cinta, saya ingin negara ini lebih baik.”
Dan mungkin, selama harapan itu masih ada, selama kita masih ingin memperbaiki negeri ini, selama kita masih bangga ketika Indonesia membawa nama baiknya ke dunia, dan selama kita masih peduli ketika ketidakadilan terjadi di sekitar kita, rasa cinta itu sebenarnya tidak pernah pergi.
Ia hanya sedang mencari bentuk yang lebih dewasa.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


