Pertanian menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan masyarakat Desa Sangkanayu, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal.
Di tengah berbagai tantangan dalam kegiatan budidaya, pengenalan inovasi pertanian dapat menjadi salah satu cara untuk menambah wawasan masyarakat mengenai pilihan teknologi, benih, dan teknik pengelolaan tanaman.
Melihat kebutuhan tersebut, Tim KKNT IPB Desa Sangkanayu melaksanakan kegiatan Pertanian Inovatif bersama masyarakat. Aktivitas tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan sejumlah inovasi pertanian dari IPB University, sekaligus memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengenal penerapannya dalam kegiatan budidaya.
Salah satu materi yang diperkenalkan adalah varietas padi IPB 9G. IPB 9G merupakan varietas padi gogo hasil riset IPB University yang dikembangkan untuk membantu petani memperoleh hasil yang lebih baik pada lahan kering.
Materi yang disampaikan juga menjelaskan karakteristik IPB 9G sebagai padi amfibi yang dapat tumbuh pada kondisi lahan tergenang maupun kondisi terbatas air. Varietas ini juga berpotensi hasil genetik hingga 9,09 ton per hektare Gabah Kering Giling (GKG).
Selain benih padi, kegiatan juga memperkenalkan beberapa inovasi benih sayuran dari IPB University. Salah satunya adalah Cabai Bonita IPB, yaitu benih cabai rawit nonhibrida yang memiliki produktivitas setara dengan varietas hibrida dan dapat diperbanyak sendiri oleh petani.
Materi juga menyinggung soal Kacang Panjang Fagiola IPB dengan karakteristik polong berwarna ungu dan Sawi Saina IPB yang memiliki umur panen relatif cepat dan produktivitas tinggi.
Tidak hanya membahas benih, Pertanian Inovatif juga telah menghasilkan microbooster dan pestisida nabati sebagai bagian dari inovasi yang dapat mendukung kegiatan budidaya. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sosialisasi dan praktik pembuatan pestisida nabati sehingga masyarakat tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga dapat melihat secara langsung proses pembuatannya.
Dalam penyampaian materi, masyarakat diterangkan tentang berbagai permasalahan yang dapat terjadi pada tanaman. Materi mencakup beberapa penyakit pada cabai, tomat, mentimun, hingga bawang merah, seperti patek, keriting kuning, layu fusarium, layu bakteri, embun tepung, bercak bersudut, dan layu moler.
Pengenalan terhadap gangguan tanaman tersebut menjadi bagian penting agar masyarakat dapat lebih memahami kondisi tanaman dan mengenali masalah yang mungkin muncul selama proses budidaya.
Kegiatan Pertanian Inovatif tidak berhenti pada penyampaian materi. Adanya praktik pembuatan pestisida nabati memberikan pengalaman langsung kepada peserta mengenai salah satu alternatif pengelolaan tanaman.
Pendekatan melalui sosialisasi dan praktik ini diharapkan dapat membuat informasi yang diberikan lebih mudah dipahami dan diterapkan sesuai dengan kondisi masyarakat.
Bagi masyarakat Desa Sangkanayu, pengenalan berbagai inovasi tersebut menjadi kesempatan untuk melihat bahwa perkembangan pertanian tidak hanya berkaitan dengan alat dan teknologi. Namun, juga mencakup pemilihan varietas, pengelolaan tanaman, serta pemanfaatan bahan yang dapat digunakan untuk mendukung budidaya.
Kegiatan Pertanian Inovatif juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk berdiskusi mengenai kondisi pertanian yang mereka hadapi sehari-hari. Melalui proses sosialisasi dan praktik, peserta dapat mengenal beberapa pilihan inovasi yang dapat dipertimbangkan sesuai dengan karakteristik tanaman dan kondisi lahan.
Pengetahuan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal tambahan bagi masyarakat dalam menentukan langkah pengelolaan pertanian yang sesuai dan mendukung kegiatan budidaya di Desa Sangkanayu.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


