gelar nobar film karya warga selaawi 07 karang taruna desa ciburayut dorong kolaborasi lintas sektor dan ekonomi kreatif - News | Good News From Indonesia 2026

Gelar Nobar Film Karya Pemuda di Alun-Alun Desa, Karang Taruna Desa Ciburayut Dorong Kolaborasi Lintas Sektor Ekonomi Kreatif

Gelar Nobar Film Karya Pemuda di Alun-Alun Desa, Karang Taruna Desa Ciburayut Dorong Kolaborasi Lintas Sektor Ekonomi Kreatif
images info

Kegiatan Talkshow bersama Kepala Desa Ciburayut | sumber: Dok. Pribadi Belgi Alhuda


Layar putih membentang di bawah langit Desa Ciburayut, memantulkan pendar cahaya yang hangat di tengah riuk pikuk antusiasme warga. Malam itu, semangat kemerdekaan 17 Agustus terasa begitu hidup melalui kegiatan Nonton Bareng (Nobar) dan Talkshow Edukasi Film. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Senin,(17/08/2026) yang dimulai pada pukul 19:00 WIB s/d selesai.

Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Karang Taruna Desa Ciburayut bekerja sama dengan Pemerintah Desa Ciburayut dengan harapan dapat mempererat silaturahmi antara warga dan aparatur pemerintahan serta mempersembahkan sebuah karya visual yang dipersembahkan untuk masyarakat Desa di acara hiburan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Kehadiran Bapak Kepala Desa beserta Ibu, Bapak Sekdes, tokoh RT dan RW, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Linmas, hingga rekan-rekan mahasiswa KKN dari Universitas 17 Agustus 1945 (UTA45) dan Universitas Djuanda (UNIDA) menjadikan ruang kumpul warga ini hangat dan penuh rasa kekeluargaan.

Suasana nonton bareng film lokal Pemuda Desa | sumber: Dok.Pribadi Belgi Alhuda
info gambar

Suasana nonton bareng film lokal Pemuda Desa | sumber: Dok.Pribadi Belgi Alhuda


Ketua Karang Taruna Desa Ciburayut, Belgi Alhuda, menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada Kepala Desa Ciburayut yang telah memfasilitasi jalannya acara ini, beserta seluruh jajaran Pemdes dan masyarakat yang hadir memadati lokasi.

Tanpa antusiasme warga, riuh tepuk tangan ini tidak akan sesemarak sekarang. Di balik layar, saya juga memohon maaf yang sebesar-besarnya jika masih terdapat kekurangan dalam penyelenggaraan, baik dari segi koordinasi maupun kendala teknis. Namun, segala keterbatasan tersebut tidak mengurangi rasa hormat serta kegembiraan kita dalam menikmati hiburan rakyat di hari bersejarah ini.

Malam tersebut bukan sekadar pemutaran film biasa. Warga bersama-sama menyaksikan karya lokal dari Pemuda Selaawi 07 dan Peduli Lembur 07, serta film bernuansa budaya bertajuk Cigombong Mulih ka Jati Mulang ka Asal yang menjadi juara 1 dalam Festival Film Kabupaten Bogor (FFKB) 2025 yang mendapat apresiasi dari Bupati Bogor, Bapak Rudy Susmanto.

Dalam sesi talkshow edukasi Ekonomi Kreatif, Bapak Duloh, S.Sos. turut menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi dan karya sinematik dari Pemuda 07 serta Peduli Lembur yang mampu mengangkat cerita lokal ke permukaan. Atmosfer acara semakin hidup ketika perwakilan dari Peduli Lembur membagikan pengalaman suka-duka mereka selama proses pembuatan karya.

Tak kalah menginspirasi, Taovik—sosok kreatif di balik lahirnya karya Pemuda Selaawi 07 menceritakan perjuangan panjang di balik film eksklusif mereka yang berjudul Ema, mulai dari pengulangan pengambilan gambar (retake), naskah dan cerita, penyutradaraan, akting, sinematografi, editing, artistik, hingga color grading. Film tersebut memang di produksi khusus untuk menyemarakkan Kemerdekaan Republik Indonesia dan di tonton oleh semua masyarakat.

baca juga

Membumikan Industri Kreatif Desa: Mengapa Saling Mengapresiasi Adalah Kunci Kreativitas Tanpa Batas

Pemutaran film Cigombong: Mulih ka Jati Mulang ka Asal tidak hanya menjadi perayaan atas torehan prestasi juara, tetapi juga menjadi cermin bagi ekosistem kreatif di tingkat desa. Kehadiran film ini membuktikan bahwa potensi besar kerap lahir dari sudut-sudut desa yang jauh dari sorot lampu megapolitan, selama ada ruang untuk bertumbuh dan kemauan untuk saling belajar.

Dalam lanskap ekonomi kreatif masa kini, sebuah karya tidak pernah lahir dari ruang hampa. Kehadiran para kreator lokal—mulai dari penataan art dan properti, sutradara, penulisan naskah, hingga seni peran dan editor—menegaskan bahwa industri kreatif adalah kerja kolektif. Tidak ada peran yang lebih dominan daripada yang lain; semuanya adalah rantai nilai yang saling menguatkan.

Dunia Kreatif Harus Dikenalkan, Bukan Diisolasi

Agar dapat terus berkembang, ekosistem kreatif desa harus terus diakrabkan kepada masyarakat luas dan jajaran pemerintah setempat. Pengenalan ini penting agar publik tidak hanya menikmati produk jadinya, tetapi juga memahami dinamika, peluh, dan nilai di balik proses pembuatannya.

Ketika masyarakat dan pemerintah paham akan kerumitan sebuah proses kreatif, rasa memiliki dan apresiasi terhadap karya lokal akan tumbuh dengan sendirinya.

Legowo dan Menanggalkan Ego Komunitas

Hikmah terbesar yang dapat dipetik oleh para kreator dari momentum ini adalah pentingnya rasa legowo—sikap rendah hati untuk tidak saling mengungguli satu sama lain. Dunia kreatif bukanlah arena untuk saling menjatuhkan atau merasa paling hebat, melainkan ruang untuk berkolaborasi dan saling melengkapi.

Kemenangan film tersebut merupakan kemenangan bersama, sebuah bukti bahwa ketika para pemuda bergerak dalam harmoni tanpa ego pribadi, dampak yang dihasilkan bisa meluas hingga melampaui batas-batas desa.

Lewat pemutaran film ini, diharapkan para pemuda dan kreator lokal makin terbuka dan mendapatkan ruang apresiasi hingga mendapatkan feedback: bahwa belajar dari karya orang lain bukan tanda kelemahan, melainkan langkah awal untuk menciptakan karya yang jauh lebih bermakna di masa depan. Selama empati dan semangat saling mendukung tetap dijaga, karya dari desa akan selalu punya tempat tersendiri untuk menginspirasi

Dalam sesi diskusi dan edukasi tentang ekosistem ekonomi kreatif subsektor film ini sekaligus menegaskan pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Di era ekonomi kreatif saat ini, kolaborasi hexahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas, media, pelaku usaha, dan masyarakat merupakan kunci utama membangun ekosistem yang berkelanjutan.

baca juga

Kita tidak boleh anti-berkolaborasi. Di tengah industri kreatif yang bergerak begitu cepat akibat era disrupsi dan ketidakpastian, perubahan dapat terjadi dalam hitungan detik. Untuk bertahan dan berkembang di era ini, bakat saja tidak cukup jika belum melahirkan karya. Dan karya saja tidak cukup tanpa adanya komunikasi lintas sektor, jejaring, serta relasi yang kuat.

Saat ini, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) telah memperluas cakupannya menjadi 21 subsektor ekonomi kreatif, dengan konten digital sebagai salah satu pilar utamanya. Perlu ditegaskan pula hadirnya Karang Taruna di sini sama sekali bukan untuk mengakuisisi nama besar yang telah dibangun. Karang Taruna hadir murni sebagai jembatan untuk merangkul, memfasilitasi, dan mengedukasi agar karya-karya hebat ini dikenal lebih luas serta mendapatkan apresiasi yang layak dari masyarakat.

Meskipun berangkat dari berbagai keterbatasan, malam ini membuktikan bahwa melalui kolaborasi, banyak hal besar yang bisa diupayakan bersama. Harapan ke depan, kegiatan seperti ini dapat terus dimaksimalkan untuk memunculkan potensi Sumber Daya Manusia (SDM) di berbagai sektor—tidak hanya karena pada sektor film dan berpusat di wilayah RW 01, tetapi merata di seluruh penjuru Desa Ciburayut. Selama berorientasi positif dan membangun, Karang Taruna siap menjadi wadah berkembang bagi generasi muda untuk terus berkarya, berkolaborasi, dan memajukan desa tercinta.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

BA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.