jangan khawatir indonesia selalu punya kabar baik - News | Good News From Indonesia 2026

Jangan Khawatir, Indonesia Selalu Punya Kabar Baik!

Jangan Khawatir, Indonesia Selalu Punya Kabar Baik!
images info

Ilustrasi./Komdigi


“Memangnya masih ada good news di Indonesia?”

Pertanyaan seperti itu bukan sekali dua kali saya terima. Pernah pula itu dilontarkan oleh rekan sesama pewarta saat kami melakukan liputan lapangan bersama.

Tidak sulit menebak ke mana arah sekaligus mengapa pertanyaan itu muncul. Setiap hari, masyarakat tak henti-hentinya mendapat kabar buruk dari pemerintah, mulai dari kebijakan asal-asalan, bagi-bagi jabatan, hingga isi pidato pejabat yang asal bunyi dan penuh tipuan. Oleh karena itulah, pertanyaan tentang masih ada atau tidaknya kabar baik di negeri ini terdengar wajar dilontarkan.

Bagi saya yang sehari-hari berkutat di redaksi GNFI, jawabannya sebetulnya sederhana saja: Ada, karena orang Indonesia memang selalu berbuat hal-hal baik.

Mungkin terdengar klise, namun memang demikianlah adanya. Di antara rentetan kabar buruk yang tak henti-hentinya datang dari mereka yang berkuasa, setitik kabar baik juga senantiasa hadir dari masyarakat sipil, mereka yang pada dasarnya hanya "orang biasa".

Kabar Baik dari Masyarakat Sipil

Mereka yang ragu-ragu akan adanya kabar baik di negeri ini mungkin lupa satu hal. Indonesia isinya bukan cuma penguasa, tetapi ada ratusan juta manusia yang setiap hari siap memberi kabar baik tersebut.

Masyarakat sipil yang sejatinya adalah kelompok di luar pemerintahan dan pemilik modal memang bagian tak terpisahkan dari negara. Secara mandiri, masyarakat sipil bergerak untuk mencapai tujuan bersama, di samping juga berfungsi sebagai pemantau dan pengontrol kekuasaan negara. Di situlah muncul berbagai inisiatif yang kemudian layak untuk disebarkan untuk saling memberi inspirasi.

Di sisi lain, GNFI selalu aktif mengabarkan segala kabar baik dari "orang biasa". GNFI menjalankan kerja jurnalistiknya dengan pendekatan constructive journalism yang tidak hanya fokus menyoroti masalah yang terjadi di masyarakat, tetapi juga menyodorkan solusi atau jalan keluar atas masalah tersebut untuk masa depan yang lebih baik. Di sinilah menariknya, solusi tersebut kerap kali tidak datang dari elite, melainkan dari masyarakat sipil alias "orang biasa" itu.

Persoalan pangan adalah contoh bagus untuk memberi gambaran mengenai bagaimana kabar baik bisa datang dari "orang biasa". Belakangan ini, ada tren di kalangan anak muda untuk mengonsumsi aneka pangan lokal seperti pisang, ubi, dan singkong yang direbus. Pola hidup sehat adalah penyebabnya. Seiring dengan meningkatnya kesadaran untuk hidup sehat, konsumsi makanan sehat yang sejatinya berasal dari kekayaan alam Indonesia juga ikut naik. Tak ada lagi stigma umbi-umbian sebagai makanan orang miskin atau kurang bergengsi, masyarakat sudah lebih rasional dalam memilih makanan yang dikonsumsinya.

Tren makan rebusan itu terjadi saat pemerintah selama berdekade-dekade justru menciptakan ketergantungan terhadap satu sumber pangan pokok, yakni nasi. Dimulai pada era Orde Baru dengan kebijakan Revolusi Hijau, beras dijadikan acuan bagi ketahanan pangan dan secara perlahan nasi diposisikan sebagai standar makanan pokok yang menyimbolkan kesejahteraan.

Rezim berganti, berasisasi tak lantas terhenti. Kini, di Merauke, Papua Selatan, pemerintah bahkan menggusur rawa dan hutan adat masyarakat setempat untuk dijadikan sawah yang luasnya ditargetkan mencapai 1 juta hektar lewat proyek food estate. Padahal, orang Papua sejak dulu sudah mengandalkan sagu sebagai makanan pokok dari generasi ke generasi. Sama halnya di berbagai daerah lainnya yang masing-masing punya bahan makanan pokoknya masing-masing, tak melulu nasi.

Demikianlah yang terjadi, gerakan untuk menikmati aneka umbi-umbian tidak muncul dari para elite, melainkan dari anak-anak muda. Dasarnya bukan kepentingan politik atau ekonomi, melainkan sekadar ingin lebih sehat, dan itulah satu contoh kabar baik yang ada di Indonesia. Saat kabar sekaligus mimpi buruk bernama food estate datang, kabar baik berupa diversifikasi pangan yang menjadi tren juga hadir.

Jadi, tak perlu bertanya-tanya lagi apakah masih ada kabar baik di Indonesia. Selama masyarakat sipil Indonesia masih bisa bernapas, jawabannya sudah jelas: Pokoknya ada!

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aulli Atmam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aulli Atmam.

AA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.