Halo Kawan GNFI! Pernahkah membayangkan pekarangan rumah yang sempit bisa disulap menjadi sumber ketahanan pangan keluarga yang berkelanjutan? Di Desa Mandalahayu, Kecamatan Salopa, Kabupaten Tasikmalaya, hal ini bukan sekadar angan-angan kosong.
Melalui kolaborasi aktif antara mahasiswa dan masyarakat, tercipta sebuah gerakan hijau yang tidak hanya menyegarkan lingkungan desa, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi warganya.
Berangkat dari visi besar bertajuk "Sinergi Edu-Agropreneurship dan Optimalisasi Potensi UMKM untuk Kemandirian Ekonomi di Desa Mandalahayu", inisiatif ini digerakkan untuk memaksimalkan potensi agrikultur desa yang selama ini mungkin belum tergali secara optimal.
Terdapat dua langkah strategis yang dieksekusi dan berhasil mendapat antusiasme luar biasa dari warga, yakni optimalisasi lahan pekarangan dan pembuatan pupuk ramah lingkungan secara mandiri.
Langkah pertama difokuskan pada program "Budidaya Tanaman Sayur di Pekarangan Rumah Warga" yang berpusat di area Madrasah Dusun Cilegi. Mengingat lahan pekarangan di pedesaan sering kali dibiarkan kosong atau hanya ditumbuhi tanaman liar, masyarakat, terutama kalangan ibu rumah tangga diajak untuk mulai menanam benih kangkung dengan memanfaatkan media tanam polybag.
Pemilihan kangkung tentu bukan tanpa alasan. Masa panennya yang relatif sangat singkat dan perawatannya yang adaptif menjadikannya komoditas ideal bagi pemula di skala rumah tangga. Lewat pemanfaatan polybag, warga Dusun Cilegi membuktikan bahwa keterbatasan lahan sama sekali bukan penghalang. Suasana kebersamaan sangat terasa ketika warga bergotong royong memasukkan tanah ke dalam wadah, menyemai benih, dan berdiskusi mengenai tata letak tanaman di halaman masing-masing. Mereka kini memiliki akses untuk menyediakan sayuran sehat, segar, dan bebas pestisida langsung dari halaman rumah sendiri.
Namun, ketahanan pangan tentu belum sempurna tanpa kemandirian dalam merawat kesuburan tanahnya. Menjawab tantangan tersebut, inovasi kedua dilanjutkan melalui program "Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik Cair" yang bertempat langsung di Madrasah Dusun Bojongrapih. Di tengah tantangan fluktuasi harga pupuk kimia di pasaran yang kerap memberatkan petani, pupuk organik cair hadir sebagai alternatif solusi yang ramah lingkungan sekaligus sangat ekonomis.
Menariknya, pelatihan ini sama sekali tidak menggunakan bahan kimia rumit. Masyarakat diajak untuk mendaur ulang bahan-bahan yang sangat mudah dijangkau di sekitar desa. Dengan memanfaatkan bahan seperti sisa makanan yang dicampur menggunakan bakteri pengurai EM4 dan tetes tebu atau molase, warga Dusun Bojongrapih secara langsung mempraktikkan proses peracikan dan fermentasinya. Antusiasme para petani terlihat jelas saat mereka mengaduk bahan-bahan tersebut, menyadari bahwa limbah pertanian bisa diubah menjadi nutrisi cair yang berharga bagi lahan mereka.
Pupuk organik cair hasil buatan warga ini tidak hanya berfungsi menyuburkan tanaman kangkung di pekarangan maupun jagung di ladang, tetapi juga berperan vital dalam menjaga unsur hara tanah agar tidak rusak akibat paparan residu kimia berlebih dalam jangka panjang.
Melihat program ini berjalan lancar dan diaplikasikan langsung oleh warga memberikan kepuasan tersendiri. Pengabdian masyarakat bukan sekadar tentang menjalankan program kerja lalu pulang, melainkan tentang meninggalkan jejak kebermanfaatan. Inovasi lingkungan yang lahir dari tanah Mandalahayu ini memberikan satu pesan penting: perubahan besar menuju kemandirian pangan selalu bisa dimulai dari langkah-langkah kecil dan sederhana di pekarangan rumah kita sendiri.
Kolaborasi yang terjalin erat ini menjadi bukti nyata bahwa edukasi pertanian yang tepat sasaran mampu menjadi fondasi yang kuat bagi kemandirian masyarakat desa. Semoga cerita dari pelosok Tasikmalaya ini bisa memantik semangat Kawan GNFI di seluruh Indonesia untuk mulai melirik lahan kosong di sekitar rumah. Karena dari satu benih yang kita semai hari ini, akan tumbuh ketahanan pangan untuk esok hari. Mari terus sebarkan cerita baik untuk negeri!
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


