Di bawah teriknya matahari dan sejuknya naungan hutan Kampung Werianggi, Teluk Wondama, pada Kamis pagi (13/8/26), rimbunnya dedaunan dan suara alam menyambut Tim Ekspedisi Patriot yang melangkah menuju kawasan hutan yang menyimpan sejarah dan makna mendalam bagi identitas Marga Kuweta. Di hadapan pohon-pohon ini, sebuah misi penting diingatkan, mendokumentasikan kekayaan budaya dan potensi adat yang lama terpendam untuk mendukung konservasi budaya dan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat.
Kampung Werianggi menyimpan potensi adat yang besar. Akan tetapi, penurunan tradisi yang didominasi oleh tuturan lisan tanpa adanya dokumentasi tertulis yang memadai beresiko membuat pengetahuan lokal ini perlahan terlupakan. Melalui eksplorasi langsung, kegiatan pendokumentasian ini menjadi langkah vital untuk menjaga kelestarian identitas masyarakat lokal sekaligus memperkuat landasan pengembangan wilayah.
Ekspedisi Patriot merupakan program nasional di bawah Kementerian Transmigrasi yang bekerja sama dengan sepuluh perguruan tinggi di Indonesia. Program ini dirancang untuk tidak berhenti pada evaluasi kawasan, melainkan turun tangan langsung memberikan dampak nyata. Di Kampung Werianggi, Teluk Wondama, misi besar ini diterjemahkan salah satunya melalui kerja sama dengan para aktor lokal untuk mengembangkan community-based cultural tourism.
Di bawah kepemimpinan Dr. Rias Antho Rahmi Suharjo, S.S., S.Pd., M.A., CertDA, dari Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial UI (DPIS UI), Tim Ekspedisi Patriot UI yang beranggotakan Devita Putri Hanjari, S.Hum., Maharani Arfila, S.Hum., Sausan Fajar Alamislami, S.Sos., Pendiron Indra Enumbi, S.Pol., dan Arya Agung Siregar, S.Ag., hadir dengan fokus utama pada Pengembangan Rumah Budaya Papua sebagai Pusat Aktualisasi Kebudayaan dan Ekosistem Pariwisata Berkelanjutan.

Tim Ekspedisi Patriot UI bersama dengan Kepala Dewan Adat memasuki hutan untuk melihat tiga pohon lambang Marga Kuweta | Dokumentasi Pribadi
Kegiatan observasi lapangan dimulai pada pukul 10.00 WIT dengan melibatkan gabungan Tim Patriot dan dipimpin langsung oleh Ketua Dewan Adat Kampung Werianggi, Pak Yohanis Godlief Kurube. Perjalanan menuju batas kawasan hutan ditempuh dalam waktu 15 menit dari Balai Kampung Werianggi, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 5 menit menuju lokasi tumbuhnya tiga pohon adat Marga Kuweta.
Sesuai hukum adat setempat, setiap tamu yang baru pertama kali mengunjungi tempat-tempat tertentu diwajibkan mengikuti prosesi adat permohonan izin datang kepada para leluhur atau penjaga wilayah.

Ketua Dewan Adat Marga Kuweta sedang mempersiapkan kakes untuk prosesi adat | Dokumentasi Pribadi
Ritual tersebut dipimpin oleh Ketua Dewan Adat menggunakan Bahasa Wamesa. Dalam prosesi ini, disiapkan serahan atau kakes yang terdiri dari rokok linting, pinang, sirih, dan kapur. Ketua Dewan Adat kemudian akan berdialog dalam Bahasa Wamesa untuk memohon izin kepada leluhur atau penjaga kawasan. Sebagai penutup prosesi, anggota tim diminta meletakkan koin di bawah pohon sebagai tanda izin masuk dan penghormatan.
Setelah proses adat selesai, tim melanjutkan kegiatan identifikasi terhadap tiga pohon adat yang mewakili tiga marga utama di Kampung Werianggi, yaitu Pohon Aekmawari, Padiwa, dan Worias. Ketiga pohon ini memiliki kedudukan penting dalam struktur adat, baik sebagai simbol kekerabatan, bahan pendukung ritual, maupun sejarah asal-usul marga. Dalam kegiatan ini, tim melakukan pengambilan sampel daun dan batang untuk kebutuhan dokumentasi, serta merekam penjelasan lisan dari Ketua Dewan Adat sebagai materi edukasi kebudayaan.
“Mudah-mudahan dengan adanya penjelasan lewat saya ini, kami (masyarakat adat) punya keunikan, kami punya hal-hal yang sebenarnya tersembunyi di sini, bisa menjadi bagian dari pada pengetahuan, pembelajaran, (dan) literasi agar orang lain bisa tau,” ujar Pak Yohanis Godlief Kurube, Ketua Dewan Adat Marga Kuweta.
Rangkaian kegiatan lapangan diakhiri dengan konsolidasi hasil temuan bersama Ketua Dewan Adat. Upaya inventarisasi fisik dan pendokumentasian sejarah lisan ini diharapkan menjadi pijakan strategis bagi pelestarian budaya Kampung Werianggi. Partisipasi aktif para pemangku adat lokal menjadi kunci utama dalam penyusunan rencana pelestarian serta pemanfaatan potensi budaya untuk kesejahteraan masyarakat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


