Ada kalanya sebuah pameran membuat kita datang untuk melihat karya, lalu pulang dengan cara pandang yang berbeda. Pameran Oesman Effendi (1919-1985) Arsip dan Karya di Galeri Nasional Indonesia menjadi salah satu ruang yang menawarkan pengalaman tersebut.
Di dalam ruang pamer, pengunjung dapat melihat lukisan, sketsa, lukisan batik kontemporer, hingga berbagai arsip yang merekam perjalanan Oesman Effendi.
Karya-karya ini membawa kita pada sosok seniman yang memiliki peran dalam perkembangan seni rupa modern di Indonesia.
Pameran yang berlangsung hingga 6 September 2026 ini menjadi kesempatan untuk mengenal kembali Oesman Effendi atau OE. Namanya mungkin belum akrab bagi banyak orang.
Padahal, jejaknya cukup panjang dalam perjalanan seni rupa Indonesia, terutama di Jakarta. OE dikenal sebagai salah satu pelopor seni abstrak di Indonesia, dengan karakter seniman dan pemikir yang aktif mencari bentuk seni yang sesuai dengan pengalaman dan kebudayaan Indonesia.
Abstraksi menjadi cara untuk mengolah pengalaman dan kesan yang ia rasakan. Bentuk akhirnya tidak selalu menggambarkan sesuatu secara nyata. Ada pengalaman batin yang ingin diterjemahkan melalui garis, bidang, dan komposisi.
Modernitas sering kali dianggap berjarak dengan tradisi. Seolah-olah menjadi modern berarti meninggalkan sesuatu yang sudah ada. Perjalanan OE bercerita tentang hal yang berbeda.
Seorang seniman dapat mengenal perkembangan seni dunia tanpa kehilangan hubungan dengan lingkungan tempat ia tumbuh. Pada saat yang sama, pengalaman personal tetap menjadi sumber penciptaan sebuah karya
Jakarta sejak lama menjadi ruang bertemunya berbagai gagasan. Jakarta banyak mempertemukan orang dengan latar belakang, pengalaman, dan pandangan yang berbeda.
Pada masa OE berkarya, Jakarta menjadi salah satu ruang penting dalam perkembangan seni rupa Indonesia. Berbagai gagasan tentang bentuk, identitas, dan arah seni yang terus dibicarakan.
Oesman Effendi ikut mengambil bagian dalam perkembangan ekosistem kebudayaan Jakarta. Namanya berkaitan dengan perkembangan Taman Ismail Marzuki dan Institut Kesenian Jakarta yang menjadi bagian penting dari perjalanan seni di ibu kota.
Jejaknya juga dapat kita temukan dalam kehidupan masyarakat pada masa itu. OE turut merancang desain uang kertas Indonesia, termasuk pecahan Rp100 dan Rp500 yang diterbitkan pada tahun 1951.
Peran seorang seniman tentu dapat hadir dalam berbagai bentuk. Karya seni memang bagian yang tidak terpisah dari warisan seorang seniman. Namun, gagasan dan kontribusi terhadap ekosistem seni juga memiliki arti yang panjang.
Jakarta yang hari ini terus berkembang perlu mengetahui perjalanan yang telah membentuknya. Mungkin tata letak sebuah tempat dapat berganti, tapi perjalanan kebudayaan terus melekat menjadi bagian dari akar identitasnya.
Menghadirkan kembali karya dan arsip Oesman Effendi memiliki arti yang lebih luas. Kita dapat melihat bahwa berkarya tidak selalu berarti mencari jawaban yang sudah tersedia. Ada keberanian untuk mencoba, mempertanyakan, dan menemukan bahasanya sendiri. Identitas dapat tumbuh dari kemampuan mengolah berbagai pengalaman menjadi sesuatu yang memiliki karakter sendiri.
Ada banyak cerita tentang Jakarta yang dapat ditemukan dari tempat-tempat yang kita lewati setiap hari. Salah satunya yang tersimpan dalam karya Oesman Effendi. Pameran ini memberi kesempatan untuk melihat cerita dari sisi yang mungkin belum banyak kita kenal.
Jika ingin melihat lebih dekat karya dan jejak pemikirannya, luangkan waktu untuk berkunjung ke Galeri Nasional Indonesia. Pameran Oesman Effendi (1919—1985) Arsip dan Karya masih berlangsung hingga 6 September 2026 di Gedung B. Amati karyanya, baca arsip yang menyertainya, dan temukan sendiri cerita tentang Oesman Effendi dalam perjalanannya di Jakarta.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


