morowali yang dulu tumbuh kini bertumbuh - News | Good News From Indonesia 2026

Morowali yang Dulu Tumbuh, Kini Bertumbuh

Morowali yang Dulu Tumbuh, Kini Bertumbuh
images info

Aulli Atmam/ GNFI


Hai, aku pohon! Aku sudah lama berdiri di sini, jauh sebelum suara bising mesin pabrik akrab terdengar atau ribuan orang bekerja dengan seragamnya. Dulu, area ini lebih banyak rawanya dengan tanah basah dan ilalang.

Namun Bahodopi, nama tanah ini, sekarang sudah ramai. Tak hanya manusia, bangunannya pun kian banyak. Ada kos-kosan, warung makan, bengkel, dan bentuk usaha lainnya.

Singkatnya, Bahodopi tak pernah benar-benar tidur. Bila kuingat-ingat lagi, itu semua sejak PT Indonesia Morowali Industrial Park atau PT IMIP, sebuah perusahaan nikel terbesar di Indonesia, berdiri di sini.

Aku pernah mendengar manusia membicarakan nikel, tetapi memang jarang. Hingga akhirnya diketahui bahwa Indonesia punya kekayaan nikel yang berlimpah.

Ya, berdasarkan pernyataan dari Sekretaris Jenderal APNI, Meidy Katrin Lengkey dalam laman Indonesian Mining Association, negara kita menguasai pasokan nikel dunia hingga 60%. Harga realisasi ekspornya bahkan naik 10% menjadi 89% dari harga acuan LME.

Padahal, menurut pernyataan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, saat Rakornas REPNAS 2024, di tahun 2023 data Geologi Amerika mengungkapkan jika cadangan nikel dunia dari Indonesia ada di angka 25%, kemudian bertumbuh menjadi 40—45% di tahun berikutnya.

Artinya, cadangan nikel yang terus bertumbuh ini, semakin kuat juga peluang negara kita untuk menentukan nilai pasar di mata dunia.

baca juga

“Ini modal besar bagi Indonesia untuk bertransformasi dari sekadar price taker menjadi price influencer di pasar nikel global asalkan disiplin pasokan, standar ESG, dan tata kelola bahan baku pendukung seperti sulfur dapat dijaga secara konsisten,” sebut Meidy dalam keterangannya (2026).

Tak heran, Morowali masuk ke dalam daftar kabupaten/kota dengan realisasi investasi asing tertinggi sepanjang 2025, menurut GoodStats.

IMIP menuliskan rilisnya pada tahun 2026, bahwa investasi asing yang masuk di perusahaan mereka telah meraup nilai mencapai USD41,483 miliar atau setara Rp696,91 triliun.

Namun, bila kembali ke satu dekade lalu, memang rasanya sangat berbeda.

Di tahun 2015 awal, Yulius Susanto—yang kini menjabat sebagai Deputy Operational Director PT IMIP, datang pertama kali untuk bekerja. Seperti aku saat ditanam, kesan pertamanya adalah betapa sepinya Bahodopi.

Seringkali kulihat ia mampir ke rumah makan Goyang Lidah, satu-satunya rumah makan di sana. Sebab, jika butuh hal lain, Bungku sebagai ibu kota kabupaten-lah jalan satu-satunya.

“Di mana tuh, Morowali? Enggak ada yang tahu,” kenang Yulius kepada Aulli, jurnalis GNFI, Kamis (16/7/2026). Ia mengingat betapa asingnya nama daerah ini di telinga banyak orang, termasuk dirinya sendiri.

Aku sendiri pun ingat masa itu. Bukan karena aku tahu nama Morowali atau mengerti apa itu industri. Aku hanya tahu bahwa manusia yang lewat di hadapanku tidak sebanyak sekarang.

Sebelas tahun sudah berlalu sejak berdirinya perusahaan ini. Kalau aku masih menjadi pohon yang sama, barangkali aku sendiri akan sulit mengenali tempat ini.

Menariknya, pemandangan yang aku saksikan sekarang, rupanya mempunyai angka. Tak hanya perusahaannya yang bertumbuh, tetapi juga UMKM-nya, perputaran uangnya, juga masyarakatnya.

Dalam rilis yang diunggah November 2025, PT IMIP menyebutkan bahwa dengan jumlah total pekerja sebanyak 86.804 orang, total perputaran uang yang dihasilkan sekitar Rp499,1 miliar/bulan atau Rp5,9 triliun/tahun. Sebab, deretan UMKM, termasuk kios dan warung sudah menjamur. 

Yulius Susanto saat diwawancara terkekeh ketika mengingat kembali Morowali di masanya.

baca juga

“Saya sebagai pendatang, di jalan luar sana, banyak sekali rawa-rawa. Sekarang, sudah bertumbuh pesat. Jika keluar (dari area), sudah tidak ada lagi tanah kosong. Sudah penuh dengan toko, warung-warung, cuci mobil, dan lainnya. Memang perkembangannya pesat dalam 10 tahun terakhir.”

UMKM di sana memang tumbuh subur. Jika dulu di tetanggaku hanyalah ilalang dan perairan, kini mereka telah berganti. Seperti akarku yang merambat kuat dari dasar dan batangku semakin tinggi menjulang, begitu pun perekonomian Bahodopi. 

Saat ini, jumlah Pertamini yang ada sudah mencapai 981 unit, disusul berbagai stan F&B yang terhitung sampai 735 unit, hingga kios dan warung makan yang jumlahnya juga lebih dari 500. Kabar baiknya, setiap UMKM berhasil mempekerjakan 1—5 orang.

Tentu saja, tetap ada tantangan yang perlu diperhatikan. Seorang peneliti sosial dari Aksi Ekologi dan Emansipasi Rakyat (AEER) 2023, Andi Rahmana Saputra pernah menulis bahwa datangnya industri nikel membawa perubahan besar dalam tatanan sosial dan ekonomi pada wilayah yang terdampak.

Hanya saja, meskipun membuka peluang baru, tetapi permasalahan lingkungan juga turut mengikuti, termasuk gangguan kesehatan pada manusia, penurunan kualitas air, dan udara.

Inilah mengapa aku bersedih. Sebab perubahan yang terjadi di sini, berpotensi akan menghilangkan aku dan ekosistem hijau lainnya. Sebagaimana manusia tahu, bila kami tidak ada karena deforestasi, maka banyak dampak negatif yang akan timbul. Termasuk emisi gas rumah dan pengurangan penyerapan karbon yang menjadi penyangga alami saat bencana banjir dan badai, seperti yang disebutkan natureandculture.org.

Kabar baiknya, PT IMIP bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mendukung berbagai “program hijau”, termasuk pengelolaan bank sampah, pembangunan pembangkit listrik alternatif, dan penggunaan kendaraan listrik yang lebih ramah lingkungan. Mereka juga memberdayakan ibu rumah tangga setempat untuk pengolahan plastik.

baca juga

Kini, tetangga hijauku juga lebih beragam. Sebab, sepanjang tahun 2018 hingga sekarang, mereka menanam 70.188 bibit mangrove di kawasan seluas 5,62 hektare dan tanaman terestrial untuk penyerapan karbon dan penjaga ekosistem. Harapannya, tidak hanya aku yang sehat, tetapi juga masyarakat Bahodopi.

Ya, Morowali telah berubah dari dulunya yang bukan daerah yang mudah ditinggali. Morowali, terkhusus Bahodopi dan sekitarnya kini sudah berwarna-warni.

Berapa banyak lapangan pekerjaan yang sudah tercipta sekarang, ya? Aku si pohon tentu tidak bisa menghitung uang.

Hanya saja, aku bisa melihat apa yang terjadi ketika uang itu berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya, dari pabrik ke pekerja, pekerja kepada pedagang, pemilik kos, dari warung ke pasar, hingga keluarga.

Barangkali itulah yang disebut sebagai daerah yang terus tumbuh. Uang ini terus bergerak dan membawa manfaat bagi penerimanya. Akarku akan tetap kuat dan hangat oleh peradaban di sini. Inilah di mana ekonomi dan alam saling menopang. Iya, kan?



 

 

*Artikel ini dibuat dalam rangka mengikuti lomba Anugerah Karya Jurnalistik IMIP 2026

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AJ
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.