Permasalahan sampah menjadi salah satu tantangan lingkungan yang masih dihadapi oleh berbagai wilayah di Indonesia. Peningkatan jumlah penduduk, perkembangan aktivitas masyarakat, serta perubahan pola konsumsi menyebabkan volume sampah rumah tangga terus mengalami peningkatan.
Pengelolaan sampah yang belum dilakukan secara optimal dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan masyarakat, serta menurunnya kualitas lingkungan permukiman.
Desa Dadap, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu merupakan salah satu wilayah yang masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan sampah.
Desa dengan jumlah penduduk lebih dari 20.000 jiwa ini menghasilkan timbulan sampah rumah tangga dalam jumlah yang cukup besar setiap harinya.
Berdasarkan hasil survei Kelompok KKN-T IPB University, sistem pengelolaan sampah masyarakat masih berpusat pada Tempat Penampungan Sementara (TPS) desa. Sebagian besar sampah yang terkumpul masih dikelola melalui metode pembakaran terbuka yang belum mampu mengurangi volume sampah secara optimal.
Metode pembakaran terbuka juga memiliki beberapa keterbatasan karena berpotensi menghasilkan asap dan residu pembakaran yang dapat memberikan dampak terhadap kualitas lingkungan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian, terutama karena lokasi TPS utama Desa Dadap berada di kawasan pesisir yang memiliki tingkat kerentanan terhadap pencemaran lingkungan akibat abrasi dan aktivitas masyarakat sekitar.
Pengurangan volume sampah sejak dari sumber timbulan menjadi langkah strategis untuk mengurangi beban sampah yang masuk ke TPS utama desa.
Kelompok KKN-T IPB University bersama Pemerintah Desa Dadap menghadirkan Program SIMPATI (Sistem Pengelolaan Sampah Terintegrasi melalui Incinerator) sebagai inovasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Program ini mengusung konsep desentralisasi pengelolaan sampah dengan mendorong proses pengurangan dan pengolahan sampah dilakukan lebih dekat dengan sumber timbulan, yaitu pada tingkat Rukun Warga (RW).
Pembangunan fasilitas incinerator dilaksanakan di TPS RW 11 Desa Dadap pada tanggal 8–12 Agustus 2026. Pemilihan lokasi tersebut didasarkan pada hasil identifikasi lapangan yang menunjukkan bahwa TPS RW 11 telah dimanfaatkan oleh masyarakat serta memiliki lahan yang memadai untuk pembangunan fasilitas pengolahan sampah.
Ketersediaan lokasi tersebut memungkinkan pembangunan incinerator dilakukan secara optimal tanpa membutuhkan penyediaan lahan baru.
Program SIMPATI bertujuan meningkatkan efektivitas sistem pengelolaan sampah di Desa Dadap melalui penerapan teknologi incinerator berbasis masyarakat.
Keberadaan fasilitas ini diharapkan mampu membantu proses pengurangan volume sampah pada tingkat RW sehingga jumlah sampah yang dikirim menuju TPS utama desa dapat berkurang secara signifikan.
Penerapan sistem pengelolaan sampah berbasis RW juga menjadi bentuk dukungan terhadap Pemerintah Desa Dadap dalam mengembangkan pola pengelolaan sampah yang lebih terdesentralisasi, efektif, dan berkelanjutan.
Pengelolaan sampah yang dilakukan lebih dekat dengan sumbernya diharapkan dapat menciptakan sistem yang lebih efisien serta meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Pelaksanaan Program SIMPATI tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur incinerator, tetapi juga mendorong peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat melalui edukasi serta pendampingan mengenai pentingnya pengelolaan sampah.
Keterlibatan masyarakat menjadi aspek penting agar fasilitas yang telah dibangun dapat dimanfaatkan dan dikelola secara berkelanjutan.
Pembangunan incinerator mendapatkan dukungan pendanaan dari PT Pertamina EP Jatibarang Field (Persero) sebagai bentuk kontribusi terhadap pengembangan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Pemerintah Desa Dadap, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Ketua RW 11, serta masyarakat turut berperan aktif dalam pembangunan fasilitas tersebut melalui dukungan koordinasi, tenaga, dan partisipasi selama kegiatan berlangsung.
Keberadaan satu unit incinerator di TPS RW 11 diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun model pengelolaan sampah tingkat RW yang dapat dikembangkan secara bertahap pada wilayah lain di Desa Dadap.
Model ini diharapkan mampu menjadi contoh pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang lebih mandiri serta dapat diterapkan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing wilayah.
Program SIMPATI menjadi bentuk kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, BUMDes, masyarakat dan berbagai pihak pendukung dalam menghadirkan solusi nyata terhadap permasalahan sampah.
Pengembangan sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi diharapkan mampu menciptakan lingkungan Desa Dadap yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


