Kawan GNFI, Indonesia punya banyak sekali tradisi lisan yang menarik untuk dibahas. Di Kelurahan Wonolopo, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, beberapa mahasiswa Divisi Modul Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) bagi Desa Binaan Undip (IDBU) 9 mencoba mengulas hal tersebut.
Dengan periode pengabdian selama 42 hari, fokus Divisi Modul tertuju pada dua folklor terkenal di Kelurahan Wonolopo, yakni kisah Pohon Joho dan tradisi Nyadran Sentono.
Pohon Joho adalah tanaman yang menjadi salah satu cerita khas warga Wonolopo. Meskipun saat ini raga sang pohon sudah tidak ada, kisah tentangnya tetap diabadikan pada sebuah relief pot raksasa tempat pohon ini pernah berdiri. Relief unik ini masih dapat Kawan GNFI temukan di halaman Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 13 Kota Semarang, loh!
Berdasarkan wawancara dengan beberapa narasumber, Pohon Joho diketahui sudah ada sejak peradaban modern belum ditemukan. Pohon Joho bersandingan dengan Rowosemanding, Rawa Lanang, dan Rawa Wedok sebagai sumber kehidupan warga sekitar.
Lalu, ketika tanah di sekitar mulai dibuka, mata air rawa konon ditutup oleh gong emas dan menjadi salah satu potongan cerita favorit warga untuk kembali dikenang.
Kisah tidak berakhir sampai di situ, Kawan GNFI. Pada relief pot Pohon Joho, diketahui pula bahwa pohon tersebut dianggap sakral oleh warga sekitar. Pada masa lalu, banyak orang yang datang ke Pohon Joho untuk meditasi pada saat-saat tertentu.
Ada pun sosok penunggu Pohon Joho dan rawa yang diyakini adalah seorang ratu cantik dengan tubuh bagian bawah berwujud ikan. Versi lain menyebutkan bahwa sosok tersebut bernama Dewi Ratih.
“Konon rawa (dekat Pohon Joho) bukan tempat sembarangan, ada angsa berbulu kuning yang sering terlihat. Penunggunya wanita cantik setengah manusia dan ikan, bernama Dewi Ratih,” tutur Ibnu, salah satu narasumber kisah Pohon Joho, Sabtu (1/8/2026).
Nyadran Sentono, Penghormatan dan Aturan Unik
Nyadran Sentono adalah tradisi turun-temurun yang dijalankan tiap Bulan Suro, nih, Kawan GNFI. Kebiasaan warga Wonolopo dan Ngadirgo ini berbentuk doa bersama untuk para leluhur sebagai rasa syukur atas kemakmuran desa.
Tradisi Nyadran Sentono punya sejarah yang terjadi ratusan tahun yang lalu. Diceritakan Raden Mas Bagus Sumantri, seorang pahlawan sekaligus salah satu pasukan Pangeran Diponegoro, melarikan diri dari kejaran tentara Belanda.
Pelarian itu berakhir hingga Kahuripan–sekarang Kuripan, tempat Raden Mas Bagus Sumantri menetap dan menyiarkan ajaran Islam. Di sana pula ia meninggal dunia, bersama dengan pamongnya, Siti Maryam, pengawalnya, Manggoloyudho, serta pusaka-pusakanya.
Sejak saat itu, para tetua desa bernazar untuk selalu rutin berkumpul sambil mendoakan Raden Mas Bagus Sumantri dan para pengikutnya. Lama-lama, warga sekitar mulai menyebut kegiatan tersebut dengan istilah “nyadran”.
Keunikan Nyadran Sentono terletak pada aturan pelaksanaannya. Ada beberapa ketentuan yang harus dipatuhi selama proses Nyadran Sentono dilakukan. Misal, minimal terdapat empat kambing jantan yang disembelih, daging masakan yang tidak boleh dicicipi, hingga bahan dasar tempe dan penggunaan sendok yang dilarang digunakan.
“Nah, Nyadran Sentono itu apa? Untuk mengingat, ya mendoakan (leluhur) dan melestarikan budaya, tujuane untuk mempererat silaturahmi. Silaturahim antara warga,” ujar Maslikhin, salah satu narasumber tradisi Nyadran Sentono.
Untaian Tradisi dalam Barisan Teks Modul
Untuk memulai proses pembuatan modul folklor, Divisi modul terlebih dulu melakukan riset melalui tanya-jawab langsung dengan tokoh masyarakat setempat terkait tradisi lisan yang ada. Setelah itu, fokus riset diperkecil dengan memutuskan menelaah kisah Pohon Joho dan tradisi Nyadran Sentono lebih lanjut.
Beberapa narasumber pun dijadwalkan untuk sesi wawancara berkala. Dalam agenda yang sudah ditentukan, para anggota divisi akan bergantian menanyakan berbagai informasi seputar Pohon Joho dan Nyadran Sentono. Mulai dari asal-usul, kisah unik, hingga eksistensi cerita bagi masyarakat saat ini.
Setelah itu, anggota divisi saling berbagi tugas untuk melakukan transkripsi, menyusun teks modul, hingga mendesain tampilan modul. Proses penyelesaian modul folklor membutuhkan waktu selama empat minggu demi mencapai bacaan informatif yang diinginkan.
Modul folklor tentang kisah Pohon Joho dan tradisi Nyadran Sentono kemudian diserahkan kepada narasumber, perangkat desa, dan Kantor Kelurahan Wonolopo di hari terakhir KKN berlangsung, yakni Rabu (19/8/2026).
Kawan GNFI, upaya pelestarian tradisi lisan Pohon Joho dan Nyadran Sentono oleh Divisi Modul KKN-T IDBU 9 menjadi bukti bahwa folklor lokal memiliki nilai wawasan yang sayang jika dibiarkan punah. Melalui pendekatan modul informatif, kekayaan lisan dalam negeri dapat terus dipertahankan untuk kehidupan generasi mendatang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


