dari kata sederhana sorahita bantu komunikasi bagi anak tunagrahita - News | Good News From Indonesia 2026

Dari Kata Sederhana, SoraHita Bantu Komunikasi bagi Anak Tunagrahita

Dari Kata Sederhana, SoraHita Bantu Komunikasi bagi Anak Tunagrahita
images info

Salah Satu Sasaran Sedang Menggunakan KataSora Card Bersama Fasilitator


Kemampuan berkomunikasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan anak dalam memberikan respons, tetapi juga memahami pesan dan menyampaikan kebutuhan sesuai dengan konteks. Namun, kondisi tersebut masih menjadi tantangan bagi sebagian anak tunagrahita di SLB BC Mekarsari 2 Bogor.

“Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu pengajar pada 13 Februari 2026, sebagian besar anak tunagrahita sering memberikan respons yang sesuai, tetapi belum selalu menunjukkan pemahaman terhadap pesan yang diterima. Kondisi ini tentunya dapat menimbulkan ketidaksesuaian antara kebutuhan dan respons anak sehingga memicu kesalahpahaman dalam interaksi,” tutur Anjani.

Permasalahan tersebut menjadi salah satu dasar bagi tim PKM-PM IPB University untuk menghadirkan SoraHita, program yang dirancang untuk memperkuat komunikasi fungsional anak tunagrahita. Program ini dilaksanakan di SLB BC Mekarsari 2 Bogor dengan melibatkan 14 anak tunagrahita murni sebagai sasaran. SoraHita dikembangkan oleh tim yang diketuai Anjani Natalia bersama empat anggota dan dibimbing oleh Dr. Adisti PP Hartoyo.

Salah satu bagian dari SoraHita adalah SoraKata: Suara Asah, yang dirancang untuk membantu anak memahami dan menggunakan kata dalam membentuk komunikasi sederhana.

baca juga

SoraKata terdiri atas tiga tahapan, yaitu Kata Diri, Kata Aksi, dan Kata Utuh, yang disusun secara bertahap mulai dari mengenali unsur subjek hingga menggabungkannya untuk menyampaikan kebutuhan secara utuh.

Pelaksanaan SoraKata dimulai dari tahap Kata Diri, di mana anak-anak terlebih dahulu diajak untuk mengenali identitas diri serta menunjuk subjek seperti kata "aku" atau nama sendiri melalui visualisasi foto dan kartu karakter.

Setelah fondasi pengenalan subjek terbentuk, intervensi dilanjutkan ke tahap Kata Aksi untuk mengenalkan kata bantu kebutuhan seperti "mau".

Pada tahap Kata Utuh, anak dilatih menggabungkan unsur subjek, kata “mau”, serta kata yang menunjukkan objek atau aktivitas yang diinginkan menjadi ujaran sederhana.

Pembelajaran menggunakan KataSora Card dan KataSora Board dengan kegiatan mendongeng dan bermain peran menggunakan boneka SoHi.

Anak diajak mengenali situasi sederhana, memilih kartu yang sesuai, kemudian menyusunnya berdasarkan konteks yang diberikan. Fasilitator juga memberikan prompting dan penguatan secara bertahap sesuai kemampuan masing-masing anak.

Kegiatan diawali dengan pre-test dan diakhiri dengan post-test untuk melihat perubahan kemampuan setelah intervensi. Pengukuran tersebut digunakan untuk melihat perkembangan kemampuan anak dalam menyampaikan kebutuhan melalui susunan kata yang lebih utuh dan bermakna.

baca juga

Hasil intervensi menunjukkan adanya perkembangan pada kemampuan komunikasi anak. Setidaknya lima anak mengalami peningkatan dalam menyusun kata secara lebih runtut untuk menyampaikan kebutuhan yang diinginkan. Respons positif pun datang dari para pendidik di SLB BC Mekarsari 2 Bogor yang merasakan kemudahan dalam memfasilitasi komunikasi di kelas.

“Kehadiran media visual seperti KataSora Card dan Board ini sangat membantu kami dalam proses belajar mengajar. Anak-anak menjadi lebih fokus, antusias, dan lebih mudah diarahkan ketika ingin mengungkapkan keinginannya secara terstruktur,” ungkap salah satu guru pendamping di sekolah tersebut.

Perubahan tersebut juga mulai dirasakan oleh orang tua dalam komunikasi sehari-hari.

“Setelah program kemarin, alhamdulillah, anak saya sudah bisa menyampaikan kata-kata sesuai dengan apa yang memang diinginkan,” tutur salah satu orang tua sasaran kami.

Perkembangan tersebut menjadi dorongan bagi tim untuk terus mendukung keberlanjutan kemampuan komunikasi anak. Tim SoraHita berharap KataSora Card dan KataSora Board dapat terus dimanfaatkan oleh pengajar dan orang tua sebagai media pendukung anak dalam menyampaikan kebutuhan dan keinginannya secara lebih jelas.

Dengan demikian, kemampuan yang telah dibangun melalui program dapat terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

PS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.