Di Kebun Raya Bogor, sebuah tugu putih berdiri teduh di antara pepohonan tua. Tugu itu dikenal sebagai Tugu Lady Raffles, peninggalan yang menyimpan kisah Olivia Mariamne Raffles. Namanya memang tidak sebesar Thomas Stamford Raffles, suaminya sekaligus penguasa Inggris di Jawa. Padahal, Olivia memiliki peran menarik dalam perubahan sosial masyarakat kolonial awal abad ke-19.
Kisahnya memperlihatkan bahwa sejarah tidak selalu bergerak melalui keputusan pejabat dan kebijakan pemerintah. Kadang, perubahan justru tumbuh dari ruang sosial, kebiasaan, pergaulan, dan keberanian seseorang membuka batas.
Olivia Mariamne Devenish lahir pada 1771 dan menikah dengan Raffles pada 1805. Ketika Inggris menguasai Jawa pada 1811, Raffles ditunjuk sebagai Letnan Gubernur. Olivia kemudian mendampinginya dalam berbagai kegiatan resmi dan kehidupan sosial pemerintahan.
Kebun Raya mencatat bahwa Olivia dikenal ikut memperkenalkan reformasi sosial di lingkungan masyarakat Jawa. Ia juga meninggalkan jejak personal melalui tulisan puitis yang terukir pada tugu peringatannya.
Peran tersebut menarik karena perempuan pada masa itu memiliki ruang politik formal yang sangat terbatas. Olivia tidak memegang jabatan pemerintahan dan tidak membuat peraturan.
Pengaruhnya bekerja melalui hubungan sosial dan lingkungan elite kolonial. Ia menghadiri kunjungan resmi bersama Raffles kepada sejumlah penguasa lokal. Ia juga mengadakan resepsi yang mempertemukan orang dari latar etnis berbeda. Praktik semacam itu dianggap tidak lazim dalam lingkungan perempuan Eropa di Jawa ketika itu.
Pada masa tersebut, masyarakat kolonial memiliki batas sosial yang cukup tegas. Perempuan Eropa cenderung menjaga jarak dari masyarakat pribumi dan kelompok etnis lainnya. Olivia justru tampil lebih terbuka dalam pergaulan sosial. Ia mencoba membangun ruang pertemuan yang lebih cair di lingkungan elite.
Sikap tersebut tentu belum bisa disebut kesetaraan dalam pengertian modern. Struktur kolonial tetap berlangsung dan Olivia tetap berada di dalamnya. Karena itu, perannya lebih tepat dibaca sebagai bentuk perubahan sosial dalam lingkungan kolonial.
Konteks pemerintahan Raffles juga penting untuk memahami perubahan tersebut. Raffles berusaha melakukan berbagai pembaruan administratif dan hukum selama memerintah Jawa.
Kajian Hazmirullah, Titin Nurhayati Ma’mun, dan Reiza D Dienaputra dalam “Raffles, the Naskah Kitab Hukum Manuscript and Social Engineering of the Inhabitants of Java in 1814” (2020) menunjukkan bahwa kebijakan hukum Raffles merupakan bentuk rekayasa sosial. Pemerintah berusaha menata masyarakat melalui regulasi sekaligus menyesuaikan aturan dengan kondisi sosial Jawa.
Di tengah agenda tersebut, Olivia bergerak melalui jalur yang berbeda. Ia tidak mengubah hukum, tetapi memengaruhi kebiasaan dan tata pergaulan. Cara berpakaian, menerima tamu, menghadiri acara, dan berhubungan dengan kelompok lain memiliki makna sosial.
Hal-hal yang tampak sederhana tersebut dapat menjadi simbol perubahan. Dalam masyarakat yang memiliki hierarki kuat, siapa yang ditemui dan bagaimana seseorang berinteraksi dapat menunjukkan posisi sosial. Olivia memanfaatkan ruang tersebut untuk membentuk lingkungan sosial yang lebih terbuka.
Perubahan yang diperkenalkannya tetap perlu dilihat secara kritis. Tidak semua kebiasaan Eropa yang dibawa ke Jawa otomatis berarti kemajuan. Dalam konteks kolonial, gagasan tentang modernitas sering berjalan beriringan dengan kepentingan kekuasaan.
Karena itu, Olivia tidak tepat ditempatkan sebagai tokoh pembebasan masyarakat Jawa. Ia merupakan perempuan elite kolonial yang memiliki pengaruh sosial, tetapi tetap berada dalam struktur kolonial. Cara pandang ini membuat kisahnya lebih manusiawi sekaligus lebih historis.
Thomas Stamford Raffles sendiri kemudian menuangkan pandangannya mengenai Jawa dalam The History of Java yang terbit pada 1817. Buku tersebut membahas sejarah, masyarakat, kebudayaan, pertanian, dan berbagai aspek kehidupan Jawa.
Karya itu menjadi salah satu sumber penting dalam pengetahuan Eropa mengenai Jawa pada awal abad ke-19. Akan tetapi, buku tersebut juga harus dibaca sebagai produk pengetahuan kolonial. Cara Raffles menggambarkan Jawa tidak sepenuhnya terlepas dari posisi politik dan budaya pengarangnya.
Kisah Olivia juga tidak bisa dilepaskan dari tragedi pribadi. Ia meninggal di Bogor pada 1814 dalam usia 43 tahun akibat malaria. Raffles kemudian mendirikan sebuah monumen untuk mengenang istrinya. Tugu tersebut memiliki bentuk melingkar dengan delapan pilar dan sebuah prasasti di bagian tengah.
Pada prasasti itu terdapat tulisan puitis dalam bahasa Inggris klasik yang dikaitkan dengan Olivia. Kebun Raya Bogor hingga kini merawat monumen tersebut sebagai salah satu peninggalan sejarah kawasan.
Menariknya, monumen itu sering dikenal sebagai simbol cinta Raffles kepada Olivia. Sebutan tersebut memang tidak keliru, tetapi ceritanya tidak berhenti pada kisah romantis. Tugu itu juga menyimpan ingatan mengenai perempuan yang pernah hadir dalam ruang sosial pemerintahan kolonial.

Dari sana, kita dapat melihat bahwa sejarah perempuan sering tersembunyi di balik nama laki-laki yang lebih dominan. Membaca kembali Olivia berarti memberi ruang kepada pengalaman perempuan dalam sejarah kolonial Jawa.
Ada pelajaran penting dari kisah tersebut. Perubahan sosial tidak selalu dimulai dari kantor pemerintahan atau dokumen kebijakan. Perubahan dapat muncul dari kebiasaan sehari-hari dan cara seseorang memperlakukan orang lain.
Olivia menunjukkan bahwa ruang sosial dapat menjadi arena penting untuk membangun hubungan baru. Tetapi perubahan itu tetap harus dibaca bersama konteks kekuasaan yang melingkupinya. Tanpa sikap kritis, kita mudah mengubah sejarah kolonial menjadi kisah romantis tentang tokoh pembawa kemajuan.
Kini, Tugu Lady Raffles bukan sekadar bangunan tua di Kebun Raya Bogor. Ia adalah pintu masuk untuk memahami sejarah yang lebih rumit tentang perempuan, kekuasaan, dan perubahan sosial.
Olivia Mariamne bukan tokoh utama pemerintahan, tetapi jejaknya memperlihatkan bahwa pengaruh sosial dapat bekerja melalui jalur yang tidak resmi. Kisahnya mengajak kita melihat sejarah dari sudut yang lebih luas.
Di balik sebuah tugu cinta, tersimpan cerita tentang seorang perempuan yang mencoba mengubah batas pergaulan pada zamannya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


