“Mbak, kalau pakai yang ini bagaimana?” tanya seorang perempuan yang bersimpuh di tengah tumpukan kostum (12/05/2025). Ia membentangkan sehelai baju beserta celana cokelat dengan harap.
Tatapannya tertuju ke arah Destri Romiza, penanggung jawab kostum sekaligus ketua Unit Kegiatan Mahasiswa Teater Eska, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Destri tampak berpikir keras. Kerudungnya sudah tidak rapi, beberapa helai rambut jatuh ke dahi dan pipi yang sedikit basah oleh keringat. Matanya terus menelusuri warna, bentuk, dan potongan kain di hadapannya.
Wajar jika ia menginginkan pertunjukan Senja dengan Dua Kelelawar berjalan sempurna. Di atas panggung nanti, semua detail akan berbicara. Dia tahu bahwa teater tak pernah hanya soal dialog.
Di sekelilingnya, para pria bekerja keras membangun rumah yang menjadi latar cerita. Beberapa orang merakit jendela, dan lainnya mondar-mandir membawa kayu yang telah dipotong di sisi selatan gedung. Sementara itu, seorang pria berbaju putih mantap bergerak di ketinggian, memasang lampu tanpa keraguan.
Di sisi, utara dua orang sedang berdiskusi memikirkan notasi untuk mendukung suasana. Suara ketukan palu, derit gergaji, dan petikan gitar menyatu dalam satu aula bernama Gelanggang Teater Eska, tempat cerita akan bermula.
Pementasan Senja dengan Dua Kelelawar bukanlah pertunjukan yang instan. Sebelum lampu sorot menyala, tersembunyi proses panjang yang harus dilalui oleh calon anggota Teater Eska.
Sejak Februari 2025, mereka telah berproses. Proses itu berjalan intensif melalui beberapa kelas pelatihan, meliputi penyutradaraan, keaktoran, manajemen produksi dan pemasaran, tata rias dan kostum, dramaturgi, musik ilustrasi, dan sepuluh kelas lainnya. Kelas tersebut bukan hanya berbentuk pengenalan materi, tetapi juga praktikum.
“Memang agak sulit proses masuk ke sini menjadi anggota, enggak yang tiba-tiba daftar terus menjadi anggota,” tegas Muhammad Tedy Saputra, Pimpinan Produksi pentas tersebut (09/05/2025).
Pernyataan itu bukan pesan klise semata. Saat pendaftaran dibuka, enam puluh orang datang membawa semangat. Namun, seiring waktu berjalan, ragu mulai datang. Satu persatu perlahan tersaring.
“Kemarin waktu kita nyari calon anggota baru itu dapatnya enam puluh. Terus yang ikut pendidikan dasarnya itu, workshop-nya itu ada dua puluh tiga," ungkap Destri dengan suara tertahan (12/05/2025).
Dalam teater, semangat saja tidak cukup. Kesiapan, kedisiplinan, pengorbanan dan dedikasi untuk berproses diperlukan hari demi hari, judul demi judul. Bahkan sebelum benar-benar menggarap pementasan Senja dengan Dua Kelelawar, calon anggota terlebih dahulu melalui Panggung Penerapan.
Ia adalah satu program internal untuk menguji kemampuan dan kesiapan mereka dalam mengelola panggung. Barulah, setelah mereka dinilai siap oleh para pengurus, proses penggarapan pertunjukan dimulai.
Dua minggu menjelang pementasan, latihan dilaksanakan setiap hari dari sore hingga malam. Mau tidak mau, tim yang terlibat harus membagi waktunya untuk kuliah dan tanggung jawabnya sebagai tim. Meski melelahkan, mereka tetap datang untuk memastikan harapannya tidak padam.
Sebagian besar latihan dilakukan secara tertutup. Hal ini dilakukan untuk menjaga esklusivitas serta kerahasiaan penggarapan adegan dan artistik. Meskipun begitu, nilai-nilai kekeluargaan tetap terjaga. Seluruh proses kreatif berjalan dengan cair, diwarnai diskusi dan negosiasi.
Hal itu sudah terlihat dari proses produksi judul sebelumnya, Enigma: Interval yang Ganjil, yang prosesnya bahkan berjalan lebih lama, yakni enam bulan.
“Kalau di judul Enigma, aktor juga bisa menawarkan bagaimana dia akan berakting, enggak yang semua diarahin sutradara. Malah, gerakan spontan dari aktor itu bisa diterima jadi adegan. Itu sangat membantu sutradara,” ungkap Destri yang pada saat itu menjadi Pimpinan Produksi (12/05/2025).
Nilai-nilai itu juga dipastikan oleh Tedy akan tetap hidup dalam proses kreatif pentas Senja dengan Dua Kelelawar. Ia menyampaikan bahwa momen ini adalah waktu yang tepat untuk seluruh calon anggota baru Teater Eska menunjukkan kemampuan.
Bukan sebagai pribadi melainkan kolektif. Keyakinannya didukung oleh serangkaian proses berjalan, dari praproduksi, pembacaan naskah, pembacaan dramatis, bedah naskah hingga perlakuan adegan dan persiapan panggung.
Sebentar lagi tirai akan terbuka, deret lampu akan menyala, panggung menjelma ruang dimensi tempat kehidupan baru tercipta. Dalam waktu yang kian mendekat, proses ini adalah perayaan kolektif atas waktu, tenaga, dan pikiran yang terus tercurah.
Senja dengan Dua Kelelawar berhasil ditampilkan pada 22 Mei 2025. Serangkaian prosesnya adalah ruang tempaan, di mana kesabaran, keberanian, dan kepekaan terus menerus diasah.
Setelah pertunjukan ini, proses mereka tidak akan terhenti. Tugas mereka menjaga panggung sebagai ruang hidup. Sebab, tidak ada yang benar-benar selesai bahkan ketika tirai sudah tertutup.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


